nabi dan anak
Ilustrasi: bangkitmedia[dot]com

Peperangan di manapun akan meninggalkan luka. Membuat keluarga menderita. Memisahkan suami dari istrinya. Menjauhkan ayah dari anak-anaknya. Jika nasib sang ayah gugur di medan perang, maka sang ibu akan menjadi janda yang pasti bersedih dan bisa jadi akan sengsara. Anak-anaknya akan menjadi yatim, karena tanpa ayah, yang berpotensi terlunta-lunta.

Di samping kisah-kisah heroik peperangan pada masa Nabi Saw, tentang perjuangan, keteguhan, kekuatan, dan kemuliaan, terselip juga kisah-kisah sedih, duka, lara, dan tangisan. Perang Uhud adalah yang mewariksan kepiluan yang mendalam bagi Nabi Saw dan para Sahabat. Perang ini terjadi pada bulan Sya’ban tahun ketiga hijiriah, lima belas tahun setelah wahyu pertama, atau tepatnya pada bulan Maret 625 M.

Sebagian besar pasukan Nabi yang berjumlah sekitar 1000 orang pulang ke Madinah dalam keadaan teluka parah. Dari pasukan Nabi, ada 70 orang lebih yang terbunuh. Salah satunya adalah paman Nabi, Hamzah bin Abdul Mutallib ra.

Nabi juga pulang dalam keadaan terluka di kepala dan rahangnya. Baginda sempat terkepung dan terdesak. Diincar untuk dibunuh berbagai orang dari barisan Quraish. Sempat terjatuh ke dalam parit yang sengaja dibikin Quraish untuk menjebaknya, sehingga diisukan meninggal.

Di antara yang menjaga dan melindungi Nabi, ketika yang lain terpukul mundur dan lari, adalah seorang perempuan. Namanya Nusaibah bint Ka’ab ra. Ia tak henti-henti melindungi Nabi dari berbagai sisi. Nabi memujinya dan memanggilnya Umm al-Asyaf, perempuan yang penuh luka pedang karena membela Rasulullah Saw.

Sekalipun terluka parah, Nabi memberi penghormatan terakhir kepada mereka yang terbunuh sebagai syuhada sebelum pulang. Menshalati dan menguburkan mereka. Mengantarkan yang terluka ke rumah masing-masing agar diobati dan diurus oleh keluarga mereka. Baru Nabi pulang ke rumah untuk istirahat dan mengobati lukanya.

Pelipur lara

Nabi Muhammad Saw biasa menemui dan ditemui para perempuan janda dan anak-anak yatim akibat perang. Menenangkan mereka dan melipur duka lara mereka. Salah satu kisah tentang hal ini adalah yang dicatat Imam Bukhari dalam kitabnya, at-Tarikh al-Kabir. Adalah Bishr bin Aqrabah ra, seorang Sahabat, yang pada masa Nabi, masih berusia anak-anak. Ia ditinggal mati ayahnya,  yang terbunuh sebagai syahid pada salah satu perang bersama Nabi.

Bishr sering menangisi ayahnya. Suatu saat Nabi menemuinya dan melipurnya. “Maukah aku yang menjadi ayahmu dan Aisha menjadi ibumu?” tanya Nabi. Tentu saja Bishr girang bukan kepalang. Ia pun langsung menyambut tawaran Nabi, sembari menjawab: “Tentu mau, demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah.” Kisah pendek ini ada dalam kitab Tarikh Kabir Imam Bukhari, juz 2, halaman 78.

Dalam sumber-sumber lain, Bishr ra mendatangi Rasulullah Saw setelah Perang Uhud usai dan menanyakan ayahnya. “Dia syahid, Allah akan menyayanginya,” jawab Rasul. Lalu dia pun menangis. Rasul lalu mendekap dan mengusap kepalanya, tanda sayang padanya, serta membawa bersamanya. “Maukah aku yang menjadi ayahmu dan Aishah menjadi ibumu?” lipur Nabi (Kashf al-Astar karya al-Bazzar dan Majma’ az-Zawaid karya al-Haitsami).

Kisah yang lebih dramatis adalah yang diceritakan para ulama mimbar. Tetapi, ulama Hadits meragukan kesahihan hadits ini. Karena itu, kita tidak perlu mengambil detail dari kisah ini, tetapi kita bisa langsung fokus pada poin utamanya. Yaitu tentang pentingnya menyayangi anak-anak sebagai teladan Nabi Saw.

Alkisah, pada suatu Hari Raya, hari di mana umat Islam mengekspresikan keriangan dan kegembiraannya, ada seorang anak kecil yang menyendiri di pojok. Sementara teman-temanya asyik bermain dan bergembira. Anak itu berpakaian baju lusuh. Ia terlihat bersedih dan menangis. Nabi Saw memperhatikan anak tersebut dan menghampirinya.

“Mengapa kamu menangis? Tidak ikut bermain sama teman-temanmu yang lain?” tanya Nabi.

“Nggak, minggirlah, biarlah aku sendiri dan menangis di sini. Ayahku meninggal karena perang, ibuku menikah lagi, dan aku ditinggal tanpa perhatian dan kasih sayang. Aku justru tambah bersedih jika harus bergabung dengan anak-anak yang sedang riang gembira. Jadi, biarlah aku di sini saja sendiri,” jawab sang anak tanpa memperhatikan siapa orang yang bertanya tersebut.

Nabi memegang tangan anak tersebut dan berkata: “Maukah aku jadi ayahmu, Fathimah bibimu, Ali pamanmu, serta Hasan dan Husein menjadi dua saudaramu?”

Sang anak kaget dan mengamati, ternyata orang yang mendekatinya adalah Nabi Saw. Ia langsung berubah menjadi riang gembira. Nabi pun membawanya ke rumah. Memberinya makan dan pakaian baru. Lalu anak itu keluar dan bergabung bersama anak-anak lain bermain bersama.

“Tadi menyendiri, bersedih, dan menangis, kok sekarang penuh suka cita?” tanya teman-temanya kaget penuh tanda tanya.

“Tadi aku lapar, sekarang sudah makan. Tadi pakainku lusuh, sekarang sudah ganti yang baru. Kemarin juga aku yatim tanpa ayah, tetapi sekarang Rasulullah telah menjadi ayahku, Fathimah bibiku, Ali pamanku, dan Hasan Husein adalah saudara-saudaraku,” sang anak menjawab dengan penuh riang gembira.

Teladan Nabi

Terlepas dari kelemahan kisah ini, kisah-kisah teladan tentang kasih sayang Nabi Saw kepada anak-anak tercatat banyak sekali. Khadijah Nabrawi, seorang ulama perempuan asal Kairo Mesir, dalam bukunya “ar-Rahmah al-Muhdaah”, mencatat lebih dari 15 teks hadits tentang hal ini. Menurut analisisnya, semua teks hadits ini valid dan direkam rujukan-rujukan kitab Hadits.

Kelima belas teks hadits ini berkisah tentang teladan Nabi Saw yang biasa menemui anak-anak, menyapa, mengajak berbicara, bermain, juga bersenda gurau. Nabi mempercepat shalat karena mendengar tangis seorang bayi, agar sang ibu yang menjadi makmumnya segera menemui dan menenangkan bayi. Membiarkan punggungnya dinaiki cucu-cucu, bahkan ketika sujud sekalipun. Nabi juga pernah berhenti memotong khutbah, karena melihat sang cucu berlarian jatuh di hadapannya. Nabi turun dari mimbar dan menggendong sang cucu, lalu meneruskan khutbah.

Dan wasiat Nabi Saw yang paling terkenal adalah: “Tidak termasuk golongan kami, seseorang yang tidak menyayangi anak-anak kecil kami, dan tidak menghormati orang-orang tua kami.” Satu lagi anjuran baginda: “Jika kamu punya anak kecil, bermainlah dan jadilah seakan kamu juga anak kecil yang bermain bersamanya.”

So, menyayangi anak kecil, menjadi bahunya ketika ia ingin bersandar, menemani ketika sedang berduka, ikut senang ketika ia sedang bergembira, bahkan bermain-main bersamanya, semua ini adalah teladan dan sunnah Nabi Muhammad Saw. Semoga shalawat salam selalu tercurahkan kepadanya. Sholluu ‘alaihi wa sallimu tasliimaa.[]

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.