lampu merah
Ilustrasi: pixabay[dot]com

Pada sebuah forum bersama para ulama perempuan Indonesia dalam Workshop Mubadalah di Cirebon awal September 2018 lalu, saya menyampaikan, setiap pernyataan hukum hendaklah bisa menjawab dua pertanyaan inti: “mengapa hukumnya demikian?, dan untuk apa?”

Imam al-Amidi dalam Al-Ahkam fii Ushul Al-Ahkam mengatakan:

لا يجوز القول بوجود حكم لا لعلة اذ هو خلاف اجماع الفقهاء على ان الحكم لا يخلو من علة” (الاحكام فى اصول الاحكام, 3/380).
وقال ايضا : أن أئمة الفقه مجمعة على ان أحكام الله لا تخلو من حكمة ومقصود” (الاحكام فى اصول الاحكام, 3/411).

“Tidak boleh ada hukum tanpa alasan rasional. Karena bertentangan dengan ijma’/kesepakatan ulama”.

“Para ulama juga sepakat bahwa setiap hukum Allah tidak lepas dari hikmah dan tujuan”.

 

Untuk memberikan gambaran yang lebih sederhana mengenai prinsip ini, lalu aku menyampaikan cerita tentang seorang anak perempuan dan ayahnya di sebuah lampu merah. Begini ceritanya:

 

Suatu hari seorang ayah mengajak anak perempuannya jalan-jalan naik mobil. Mereka berangkat dengan riang gembira, menyusuri jalanan yang agak ramai di jalan raya. Hingga perjalanan mereka sampai di sebuah persimpangan dan di sana lampu lalu lintas terlihat sedang berwarna merah. Ayah pun menghentikan mobilnya.

Si Anak pun langsung bertanya kepada ayahnya, ”Ayah, kenapa kita berhenti?”

Dengan nada lembut Ayah menjelaskan kepada anak tercintanya, dia menghentikan mobilnya karena lampu merah sedang menyala. Tapi jawaban tersebut tak memuaskan bagi anaknya yang masih polos.

Anak perempuan itu kembali bertanya, “mengapa kalau lampu merah kita harus berhenti?”

“Kalau kita berjalan terus sementara lampu masih berwarna merah, nanti kita bisa ditilang polisi,” kata Ayah.

“Mengapa pula polisi menilang kita, Ayah?,” ternyata belum habis rasa penasaran anak mungil itu.

“Karena kita melanggar peraturan,” jelas ayah dengan suara agak pelan. Sambil berharap anaknya menghentikan pertanyaan-pertanyaannya. Tapi harapannya tak terwujud. Anaknya kembali bertanya, “iya, tapi mengapa bisa demikian, Ayah?”

“Sebab kalau kita teruskan perjalanan kita sementara lampu masih berwarna merah, ini akan membahayakan. Bisa terjadi tabrakan,” jelas Ayah. Tapi si Anak kembali bertanya kepada Ayahnya, “mengapa demikian?”

Ayah pun akhirnya menjawab dengan nada yang meyakinkan, “itu sudah menjadi hukum alam.”

Anak perempuan kecil itu tiba-tiba terdiam. Dia berusaha mencerna setiap kata-kata yang keluar dari mulut ayahnya. Kata dan makna yang demikian masih asing bagi dirinya yang masih sangat muda.

Tapi Ayah tidak menyerah. Mengetahui anak perempuannya sedang berpikir keras, Ayah kemudian dengan sabarnya menjelaskan, “kita tidak boleh menyakiti orang lain, Nak. Nah begini, sekarang Ayah tanya padamu, apakah kamu mau disakiti?”

“Tentu tidak, Ayah.” Jawabnya spontan.

“Nah, begitu pula orang lain. Mereka juga sama denganmu, tidak ingin disakiti. Nak, ingat-ingatlah, Nabi pernah mengatakan:

احب للناس ما تحب لنفسك

“Cintailah orang lain, sebagaimana engkau ingin dicintai.”

Anak itu senang bukan main Ayahnya menasihatinya dengan menggunakan kata-kata Nabi. Ibu banyak menceritakan tentang Nabi sebagai orang pilihan, teladan yang baik dan sempurna. Yang setiap kata-katanya adalah petunjuk bagi kehidupan manusia.

Tapi Anak yang masih sangat muda ini belum mengerti maksud ucapan Nabi yang dikatakan Ayahnya tadi. Dia pun tak segan kembali bertanya kepada Ayahnya.

“Mengapa demikian, Ayah?”

“Ya karena semua manusia itu sama, Anakku.”

Semua manusia itu berbeda-beda tapi hakikatnya mereka semua itu sama. Maka dengarkanlah, Nak:

عامل الناس بما تحب ان يعاملوك

“Perlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan”.

لا تعامل الناس بما لا تحب ان يعاملوك

“Jangan perlakukan orang lain sebagaimana engkau tidak ingin diperlakukan”.

Lampu lalu lintas pun beralih berwarna hijau. Mobil pun melaju. Si Anak bersorak sorai dengan riangnya. Seolah melupakan obrolan dengan ayahnya tadi. (Cerita diadaptasi dari “Maqashid al-Syari’ah Dalil li al-Mubtadi” karya Jasir Audah).

Saya ingin mengatakan, dari cara berpikir seperti yang ada dalam Kisah di Lampu Merah di atas, kita bisa membangun prinsip hukum kesalingan, prinsip Mubadalah.[]

 

Baca juga:

Ijtihad Kyai Husein: Upaya Membangun Keadilan Gender

Satu Saja Husein Muhammad

Islam Agama Ramah Perempuan