Ilustrasi: pixabay[dot]com

Kalimat “Haidmu Bukan di Tanganmu” adalah pernyataan revolusioner Nabi Saw, kepada Aisyah ra, ketika diminta mengambil pakaian dari masjid, lalu beralasan: “Aku sedang haid” (Sahih Bukhari, no. 715).

Kalimat itu lahir untuk mengikis segala mitos kenajisan tubuh perempuan akibat menstruasi. Yang najis itu darah yang keluar dari vagina, sebagaimana darah yang keluar dari anggota tubuh yang lain. Hanya darah saja. Bukan tubuh perempuan.

Karena itu, yang dilarang juga hanyalah berhubungan intim penetratif, untuk menjaga kesehatan tubuh, baik untuk kesehatan laki-laki dan terutama perempuan.

Jadi, haid perempuan itu, seperti kata Nabi Saw: “bukan di tangan”, sehingga perempuan tetap boleh memegang apapun. Bukan di kaki, sehingga boleh melangkah kemanapun.

Bukan juga di kepala, sehingga tetap boleh membaca, belajar, berpikir, dan beramal kebaikan apapun.

Karena itu, ajaran Islam sama sekali tidak menistakan (menajiskan) tubuh perempuan yang sedang menstruasi.

Pengecualian yang dilakukan Islam terkait kondisi tubuh perempuan pada masa menstruasi harus dimaknai sebagai penghargaan dan keringanan, atau apresiasi dan dispensasi (min bāb at-tarkhīsh). Bukan diskriminasi apalagi penistaan tubuh perempuan.

Dengan filosofi tarkhir ini, Islam sesungguhnya mempertimbangkan kondisi khusus tubuh perempuan yang memiliki rahim, yang pada masanya akan menstruasi dan menepouse, bisa hamil selama sembilan bulan, yang memiliki kelenjar susu yang bisa menyusui selama dua tahun usia bayi.

Karena peran-peran reproduktif inilah, keringanan-keringanan ibadah bagi perempuan diberlakukan. Bukan karena dianggap bahwa mereka lebih rendah statusnya dari laki-laki, atau lebih lemah keimanannya dari laki-laki, atau lebih bodoh akalnya dari laki-laki. Bukan itu semua.

Melainkan karena Allah Swt menghargai peran-peran reproduktif perempuan, mengapresiasi, dan memberikan dukungan-dukungan moral agar memperloleh kenyamanan dan keleluasaan dalam menjalankan peran tersebut.

Karena itu, Islam menuntut masyarakat untuk memenuhi segala kebutuhan perempuan yang sedang melakukan peran reproduktif ini. Sebuah pesan agar secara nyata peran reproduktif ini agar digotong bersama oleh masyarakat, terutama laki-laki, sehingga perempuan tidak terhalang sama sekali dari manfaat kehidupan publik, baik terkait kehidupan spritual, intelektual, kultural, sosial, dan politik.

Lebih jauh lagi, diharapkan semua urusan-urusan perempuan dimasukkan sebagai urusan kemanusiaan, bukan sebagai urusan perempuan semata. Persis seperti urusan-urusan laki-laki dianggap sebagai urusan kemanusiaan.

Satu nyawa perempuan yang meninggal karena melahirkan adalah urusan kemanusiaan, bukan urusan perempuan semata. Yang harus mendapat perhatian dari kalangan ulama, keluarga, negara, dan masyarakat luas.

Begitupun ketika ada perempuan yang buta huruf, tidak berpendidikan, tidak memperoleh akses kesehatan, kehidupan yang layak, tidak dapat beribadah, dan hak-hak hidup yang lain.

Dus, jenis kelamin, seharusnya tidak menghalangi perempuan untuk memperoleh manfaat hidup, baik di ranah domestik maupun publik. Baik dalam hal-hal spiritual, intelektual, kultural, maupun sosial. Inilah perspektif keadilan dan kesalingan relasi antara laki-laki dan perempuan. Wallahu a’lam bish-showaab.[]

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.