Di dalam al-Qur’an, tidak seperti yang dipahami banyak orang, nusyuz dibahas dari dua arah. Ada nusyuz istri kepada suami (QS. 4: 34) dan juga ada nusyuz suami kepada istri (QS. 4: 128).

Dalam perspektif mubadalah, nusyuz adalah kebalikan dari ta’at. Keduanya bersifat resiprokal, karena baik suami maupun istri dituntut untuk memiliki komitmen bersama menghadirkan segala kebaikan ke dalam rumah tangga (jalbul mashālih), dan menghindarkan segala keburukan darinya (dar’ul mafāsid). Jika taat adalah manifestasi dari jalbul mashalih, maka nusyuz adalah manifestasi dari dar’ul mafasid.

Taat dalam konteks relasi pasutri, sebagaimana sudah dijelaskan, adalah segala tindakan seseorang untuk pasangannya yang dapat meningkatkan hubungan menjadi lebih baik dan lebih kuat dalam mewujudkan sakinah, mawaddah, dan rahmah. Baik dilakukan istri kepada suami, maupun suami kepada istri.

Nusyuz adalah sebaliknya dari taat. Yaitu segala tindakan negatif dalam relasi pasutri yang melemahkan ikatan berpasangan antara suami dan istri, sehingga menjadi jauh dari kondisi sakinah, mawaddah, dan rahmah. Baik dilakukan istri kepaa suami, maupun dilakukan suami kepada istri.

وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِنْ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الْأَنْفُسُ الشُّحَّ وَإِنْ تُحْسِنُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا.

“Dan jika seorang perempuan khawatir suaminya akan nusyuz atau berpaling, maka keduanya dapat mengadakan perdamaian yang sebenarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya adalah kikir. Dan jika kamu memperbaiki (relasi dan pergaulan dengan pasanganmu) dan memelihara dirimu (dari sikap dan tindakan buruk seperti nusyuz dan sikap berpaling), maka sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nisa, 4: 128).

Ayat ini secara literal berbicara mengenai nusyuz suami kepada sang istri. Nusyuz di sini bisa diartikan berpaling, enggan, atau tidak lagi memberi perhatian kepada sang istri. Bisa jadi karena sudah tidak tertarik lagi, atau sudah memulai ketertarikan dengan perempuan lain.

Jika menggunakan metode mubadalah, maka substansinya adalah mengenai kekhawatiran dalam sebuah relasi pasutri, ada pihak yang sudah mulai tidak nyaman, enggan, mau berpaling ke yang lain. Baik dilakukan suami, maupun istri. Karena itu, ayat ini mengajak mereka berdua untuk berdamai, untuk kembali pada komitmen semula sebagai pasangan yang saling mencinta dan mengasihi.

Kata ayat ini, kembali berdamai adalah lebih baik, dengan win-win solution, sekalipun masing-masing biasanya akan egois (syuhh, kikir adalah bagian dari egois). Agar mudah berdamai, ayat ini memberi dua tips: selalu berbuat baik (ihsān) dan menjaga diri (taqwā) dari sikap dan tindakan yang buruk kepada pasangan.

Dus, ayat ini, dalan perspektif mubadalah, berlaku kepada dua belah pihak. Nusyuz bisa terjadi dari siapapun, suami maupun istri. Dalam kondisi ini, Allah Swt kemudian menganjurkan keduanya untuk berdamai agar kembali pada komitmen bersama sebagai pasangan yang saling mencintai dan menguatkan satu sama lain. Inilah yang dimaksud shulh dalam ayat tersebut.

Lalu, setelah shulh, Allah Swt meminta keduanya untuk meningkatkan perbuatan baik kepada pasangan. Inilah yang dimaksud ihsān itu.

Terakhir, setelah shulh dan ihsan, Allah Swt juga meminta agar keduanya menghentikan dan membentengi diri dari segala sikap, pernyataan, dan tindakan buruk kepada pasangan. Dan inilah yang disebut sebagai taqwa dalam ayat tersebut. Jadi, jika terjadi nusyuz, maka solusi yang ditawarkan al-Qur’an adalah shulh, ihsan, dan taqwa.

Ayat ini (QS. 4: 128) berlaku untuk nusyuz suami maupun nusyuz istri. Sehingga, ia seharusnya menjadi norma dan prinsip dalam memahami ayat lain (QS. 4: 34) mengenai nusyuz istri kepada suami.

Sehingga, ketika istri nusyuz, tidak serta merta suami boleh memukulnya. Karena inti dari pengelolaan nusyuz dalam al-Qur’an adalah bagaimana mengembalikan pada relasi semula yang saling mencintai dan mengasihi.

Memukul adalah jauh dari substansi relasi yang dianjurkan al-Qur’an. Karena itu banyak ulama tafsir yang menganggap memukul istri itu makruh, atau setidaknya khilaf al-awla (bertentangan dengan akhlak mulia).

Jadi, dalam relasi pasutri yang harus diperkuat adalah komitmen dan kepatuhan pada semua hal yang baik untuk keluarga, dan menjauhkan dari sikap pembangkangan terhadap komitmen ini.

Kepatuhan adalah taat, dan pembangkangan adalah nusyuz. Jika nusyuz terjadi, diharapkan masing-masing mau beranjak ke shulh, ihsan, dan taqwa agar kembali pada kondisi patuh dan taat untuk kebaikan keluarga.[]

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.