Ilustrasi: Pixabay

Ayat Al-Qur’an yang pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad, disamping menyebut kata “Iqra” (bacalah), juga menyebut kata “al-Qalam”, yang berarti pena.

الذى علم بالقلم. علم الانسان ما لم يعلم

“Tuhan mengajarkan manusia dengan qalam (pena). Dia mengajarkan manusia apa yang tak dia mengerti.”

Kata al-Qalam juga disebut dalam ayat lain :

ن. والقلم وما يسطرون

“Nun. Demi pena dan apa yang mereka goreskan (dengannya)?”

Kata-kata itu begitu indah. Lihatlah, Tuhan bersumpah dengan Pena. Betapa hebatnya pena sehingga Dia bersumpah dengannya. Ada apa gerangan dengannya? Apa hebatnya? Apa guna pena?

Para sufi besar sering mengungkapkan sebuah hadits:

اول ما خلق الله العقل
“Ciptaan Allah yang pertama adalah akal.”

Hadits lain menyebutkan:

اول ما خلق الله القلم

“Ciptaan Allah yang pertama adalah pena.”

Pena adalah alat untuk membuat jejak melalui huruf-huruf, kode-kode atau simbol-simbol yang tersusun.

Ia tentu bukan sekedar alat untuk menulis kata-kata atau melukis atau puisi, melainkan mencatat dan menghimpun segala peristiwa kehidupan manusia masa lalu, kini, dan nanti, serta menulis tentang alam semesta ciptaan Tuhan.

Dengan wahyu tersebut, Tuhan seakan-akan ingin mengatakan kepada semua manusia, melalui Nabi Muhammad:

“Hai manusia. Catat segala peristiwa kehidupanmu. Catat transaksi-transaksi pentingmu. Tulislah deklarasi perjanjian damai dengan siapapun. Bikinlah prasasti kata-kata bijak. Abadikan gagasan dan karya-karya kecendikiaan dan intelektualmu melalui goresan-goresan tanganmu. Dan tulis sejarah bangsa-bangsa. Dan seterusnya.” Begitulah kira-kira.

Banyak orang mengatakan :

القلم أحد اللسانين
“Pena adalah bentuk lain dari lidah.”

Pena juga bicara. Lidah dan pena adalah simbol-simbol isi hati dan pikiran.

Lalu apa lagi hebatnya pena itu? Seorang sastrawan sekaligus teolog besar, Abu ‘Amr al-Jahizh menulis tentang buku dan pena:

الْقَلَمُ اَبْقَى أَثَراً وَاللِّسَانُ أَكْثَرُ هَدَراً

“Jejak goresan pena lebih abadi. Suara lidah acap tak jelas.”

لَوْلاَ الْكِتَابُ لَاخْتَلَّتْ أَخْبَارُ الْمَاضِيْنَ
وَانْقَطَعَ أَثَرُ الْغَائِبِيْنَ

“Andai tak ada buku
Tak lagi ada cerita masa lalu
Dan terputuslah jejak
mereka yang telah pulang”

وَاِنَّمَا اللِّسَانُ شَاهِدٌ لَكَ وَالْقَلَمُ لِلْغَائِبِ عَنْكَ

“Kata-kata hanyalah untuk yang hadir bersamamu
Pena untuk yang tak hadir.”

الْكِتَابُ يُقْرَأُ بِكُلِّ مَكَانٍ وَيُدْرَسُ فِى كُلِّ زَمَانٍ

“Buku dibaca di segala ruang. Dikaji di segala zaman.”

Ada pula ulama yang bilang:
مداد العلماء خير من دم الشهداء

“Tinta para ulama lebih baik daripada darah para syuhada, pahlawan.”

Nah. Membaca dan menulis adalah titik awal dan instrumen fundamental bagi penciptaan Ilmu pengetahuan, kebudayaan dan peradaban manusia.

Melalui wahyu pertama di atas, sangat jelas kiranya bahwa Islam, bukan sekedar mengajarkan kepada manusia tentang keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan kehidupan metafisika atau kehidupan akhirat, melainkan juga memiliki komitmen yang sangat jelas dan kuat untuk mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan yang berguna bagi umat manusia, dan membangun peradaban yang didasarkan atas nilai-nilai kemanusiaan di bawah bimbingan dan kontrol Tuhan.

Pertanyaan krusial kita adalah di mana posisi umat Islam dalam isu pena ini?