Sementara ini, ada penggalan ayat (an-Nisa, 4: 228) yang dijadikan dasar bahwa suami/laki-laki itu lebih tinggi derajatnya dari istri/perempuan. Yaitu kalimat (وللرجال عليهن درجة), yang biasanya diartikan: bagi para laki-laki/suami itu satu derajat lebih tingga daripada mereka para perempuan/istri. Makna ini tentu saja tafsir semata, yang jika diteliti secara mendalam justru bertentangan dengan semangat ayat itu sendiri.

Lebih lagi jika dihadapkan pada ayat-ayat prinsip yang lain.  Seperti ayat tentang kedudukan manusia itu hanya dibedakan dengan ketakwaan, bukan jenis kelamin maupun ras (al-Hujurat, 49: 1); bahwa yang diperhitungkan seseorang itu adalah keimanan dan amal perbuatannya, bukan jenis kelaminnya (an-Nahl, 16: 97); dan bahwa relasi antara perempuan dan laki-laki itu adalah kemitraan dan saling tolong menolong (awliya), bukan hegemonik dimana yang satu lebih tinggi dari yang lain (at-Taubah, 9: 71). Ditambah penegasan hadits Nabi Saw bahwa: Allah itu tidak melihat bentuk dan rupa tubuh, tetapi pada hati dan amal-amal manusia (Sahih Muslim, no. 6708).

Ini semua adalah teks-teks prinsip dalam Islam, sehingga penggalan ayat tersebut seharusnyat tidak dimakna sebagai “maklumat bahwa suami/laki-laki itu lebih tinggi derajatnya dari istri/perempuan”. Tidak. Jika dibaca secara utuh, maka ayat itu sesungguhnya sedang bercerita bahwa suami/laki-laki dalam kasus perceraian yang bisa rujuk (talak raj’i), dia lebih berhak atas istrinya (untuk kembali menjadi suami baginya) dibanding laki-laki lain yang menginginkan (menikahi) istrinya tersebut. Ini ayat lengkapnya:

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلَاثَةَ قُرُوءٍ وَلَا يَحِلُّ لَهُنَّ أَنْ يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللَّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ  إِنْ كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُوا إِصْلَاحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan istri-istri yang telah diceraikan, mereka sendiri harus menunggu tiga periode (menstruasi/kesucian dari menstruasi). Tidak dihalalkan bagi mereka untuk menyembunyikan apa yang telah Allah ciptakan di dalam rahim mereka, jika mereka beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Suami-suami mereka lebih berhak untuk kembali pada mereka jika mereka mau berdamai (kembali dalam ikatan pernikahan). Bagi mereka (para istri) hak dan atas mereka juga kewajiban secara patut. Bagi laki-laki, karena itu, satu derajat lebih tinggi (karena hak rujuk tersebut) atas perempuan. (QS. An-Nisa, 4: 228).

Ayat ini, jika dibaca secara seksama dan dengan bantuan ayat-ayat lain, sedang membicarakan kondisi relasi suami-sitri dalam talak raj’i, atau perceraian dimana suami masih bisa kembali rujuk pada istri tanpa perlu akad baru sama sekali. Suami cukup menyatakan: “Aku kembali padamu”, mereka sah lagi menjadi suami dan istri. Tanpa perlu wali, maupun saksi, apalagi naib dan walimahan. Talak raj’i itu ada pada tahap pertama dan kedua dari perceraian. Jika sudah dua kali percerairan, maka hak rujuk suami sudah hilang dan habis. Dengan hak rujuk ini, para laki-laki lain dilarang menyatakan keinginan menikah pada istrinya, baik dengan ungkapan yang implisit (ta’rīdh) maupun yang eskplisit (tashrīh). Dalam bahasa  lain, selama tiga bulan dari ucapan perceraian, ikatan mereka masih belum lepas seratus persen. Mereka masih dalam tahap  yang membuka kemungkinan rekonsiliasi. Dan dalam masa ini, suami memiliki hak penuh untuk kembali.

Karena hak rujuk ini, muncullah pernyataan: “suami dari istri yang sedang dicerai lebih berhak untuk kembali kepada sang istri” (وبعولتهن أحق بردهن في ذلك) dari laki-laki manapun.  Karena laki-laki lain tidak boleh melakukan pendekatan, sekalipun dengan kalimat yang samar dan implisit. Di sisi lain, hak rujuk ini juga hanya dimiliki suami, tidak istri, karena dia yang menceraikan, maka dia diberi kesempatan jika ingin kembali lagi. Karena itu, dinyatakan: “suami memiliki hak lebih satu derajat dari istri” (وللرجال عليهن درجة). Apa yang lebih satu derajat itu? Ya, hak rujuk itu. Hak rujuk terhadap istri, yang dimiliki laki-laki (suaminya), dan tidak dimiliki laki-laki lain (bukan suaminya).

Karena hak ini, perempuan (istri) dilarang menyembunyikan kehamilannya untuk bisa segera menikah dengan laki-laki lain. Karena hak ini juga, suami masih berkewajiban untuk menempatkan istrinya (yang sedang dicerai selama masa menunggu (‘iddah) tiga bulan) di rumahnya dan memenuhi segala kebutuhannya. Demikian arti dari “lebih satu derajat” itu. Jadi, bukan soal kelamin laki-laki yang lebih mulia, lebih tinggi, dan lebih utama. Sama sekali bukan. Karena Islam memandang derajat perempuan dan laki-laki adalah sama, yang membedakan mereka adalah keimanan, ketakwaan, dan amal shalih masing-masing. Wallahu a’lam.[]

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.