Sumber gambar: Pixabay

Secara bahasa, Islam adalah penyerahan diri (kepada Allah Swt), kedamaian, dan kesejahteraan. Dengan makna ini, fungsi keluarga dalam Islam adalah untuk membentuk pribadi yang berserah diri kepada Allah Swt, dan yang meyakini serta mengamalkan nilai-nilai kedamaian dan kesejahteraan, baik sesama anggota keluarga maupun masyarakat luas. Sebagaimana ditegaskan para ulama salaf, hukum-hukum yang disyariatkan Islam tidak lepas dari tujuan kebaikan, kemaslahatan, kesejahteraan, kedamaian, dan keadilan. Termasuk hukum keluarga Islam. Atau yang biasa dikenal dengan al-Ahwal asy-Syakhsiyah al-Islamiyah.

Ada tiga landasan filosofis untuk memperkokoh fungsi kemaslahatan dan keadilan dalam hukum keluarga Islam. Pertama, tauhid dan kehambaan manusia yang melahirkan relasi kesalingan antara anggota keluarga. Kedua, kekhalifahan manusia di muka bumi (khilafah fil ardh) yang melahirkan semangat kerjasama, di dalam dan di luar keluarga. Ketiga, sakinah, mawaddah, rahmah, yang melahirkan komitmen bersama untuk selalu menghadirkan segala kebaikan (jalbul mashalih) dan menghindarkan segala keburukan (dar’ul mafasid), bagi keluarga maupun masyarakat luas.

Tauhid dan Relasi Kesalingan

Ajaran paling fundamental dalam Islam adalah tauhid. Ajaran ini terekam dan sebuah kalimat “lā ilāha illallāh”. Artinya, tiada tuhan selain Allah Swt. Kalimat ini adalah bentuk proklamasi dari setiap muslim tentang keesaan Allah Swt. Sebagai satu-satunya Dzat yang patut disembah, ditaati, dan dirujuk secara mutlak. Memproklamasikan ketauhidan berarti menyatakan dua hal. Pertama, pengakuan akan keesaan dan ke-hanya-an Allah Swt sebagai Tuhan. Kedua, pernyataan atas kesetaraan manusia di hadapan-Nya. Laki-laki maupun perempuan.

Tiada tuhan selain Allah Swt berarti tidak boleh ada yang disembah selain-Nya. Tidak boleh ada perantara antara hamba dengan Tuhannya. Jadi, sesama manusia tidak boleh ada yang menjadi “tuhan” terhadap yang lain. Dalam kehidupan sosial, konsekuensinya, raja bukan tuhan bagi rakyatnya. Majikan bukan tuhan bagi buruhnya. Pun dalam keluarga, tidak boleh ada salah satu yang merasa paling penting laksana tuhan bagi yang lain. Suami bukan tuhan bagi istri. Orang tua juga bukan tuhan bagi anak-anaknya. Begitupun sebaliknya.

Karena relasi vertikal manusia dalam perspektif tauhid hanya kepada Allah Swt, maka relasi antara suami-istri dan orang tua-anak tidak boleh dibangun atas dasar dominasi dan hegemoni. Relasi dominasi dan hegemoni biasanya melahirkan penguasaan, kekerasan dan kezaliman, yang semuanya diharamkan Islam. Sebaliknya, relasi kemanusiaan dalam keluarga yang harus dibangun, dengan perspektif tauhid, adalah relasi horizontal yang mengacu pada nilai-nilai kesetaraan, kesalingan dan kerjasama.

Karena itu, menikah dalam perspektif tauhid Islam adalah bukan proses penghambaan seorang perempuan kepada laki-laki. Tetapi proses mengikatkan diri pada perjanjian kemitraan (zawaj) antara mereka. Dengan menikah dan berkeluarga, masing-masing tetap hanya meng-hamba kepada Allah Swt semata. Tidak boleh ada yang menghambakan atau menjadi hamba pada yang lain. Sehingga relasi satu sama lain yang harus dibangun adalah kesalingan untuk kebahagiaan (sakinah),  kebaikan (sholaah) dan kesejahteraan (falaah). Yaitu relasi yang menumbuhkan agar masing-masing saling mencintai (tahaabub), saling tolong menolong (ta’aawun) dan saling melayani (mu’asyarah bil ma’ruf). Antara suami dan istri. Serta antara orang tua dan anak. Hukum Keluarga Islam, dengan demikian, harus menerjemahkan perspektif ketauhidan yang mengantar pada relasi kesalingan antara suami dan istri, juga orang tua dan anak.

Khilafah dan Kerjasama

Konsep kunci yang lain dalam Islam adalah bahwa manusia diciptakan Allah Swt di muka bumi sebagai khalifah yang memegang amanah untuk memakmurkan bumi tersebut, melestarkan kebaikan dan menjauhkan segala kerusakan darinya (QS. Al-Baqarah, 2: 30; al-An’am, 6: 165; Yunus, 10: 14; Hud, 11: 61). Amanah khilafah ini dipegang oleh manusia laki-laki dan perempuan. Dan untuk melaksanakan amanah ini, kedua belah pihak, harus kerjasama dan saling tolong menolong. Dalam konsep al-Qur’an, laki-laki dan perempuan, satu sama lain adalah auliyaa’ (penolong satu sama lain) dalam segala aktivitas ritual dan sosial.

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, adalah saling menolong, satu kepada yang lain; dalam menyuruh kebaikan, melarang kejahatan, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, dan mentaati Allah dan rasul-Nya. Mereka akan dirahmati Allah. Sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Bijaksana”. (QS. at-Taubah, 9: 71).

Ayat ini menegaskan relasi kesalingan dan kerjasama antara laki-laki dan perempuan. Dimana yang satu adalah penolong, penopang, penyayang, dan pendukung yang lain. Frasa “baʻuhum awliyā’ baʻin” adalah pernyataan eksplisit al-Qur’an mengenai pentingnya kerjasama antara laki-laki dan perempuan.

Keluarga menjadi sekolah pertama bagaimana pribadi-pribadi yang mengemban kekhalifahan dari Allah Swt dapat menumbuhkan kesalingan dan kerjasama. Sehingga amanah kekhalifahan tersebut dapat direalisasikan di dalam keluarga terlebih dahulu, sebelum kehidupan sosial yang lebih luas.

Menikah dan berkeluarga, dengan demikian, bukan untuk memperkecil apalagi mematikan potensi seseorang sebagai khalifah Allah Swt di muka bumi. Tetapi justru untuk mempersiapkan, melatih, dan saling mendukung potensi tersebut sejak di dalam rumah. Untuk dikembangkan lebih lanjut, agar setiap anggota keluarga bisa memberikan kebaikan dan kemaslahatan, untuk dirinya, keluarga kecilnya, keluarga yang lebih besar dan masyarakat yang lebih luas. Hukum Keluarga Islam, karena itu, harus menyerap semangat ajaran khilafah kemanusiaan yang mendorong implementasi ajaran kerjasama antara suami dan istri, serta orang tua dan anak.

Pilar Sakinah, Mawaddah, Rahmah

Tiga kata ini, yang biasa disingkat sa-ma-ra sudah begitu populer di kalangan masyarakat. Diambil dari ayat Surat Ar-Rum (30: 21), ia menjadi pilar, tujuan, dan harapan setiap orang yang menikah dan memasuki jenjang keluarga. Sakinah diartikan sebagai ketenangan, keharmonisan, dan kebahagiaan. Mawaddah adalah rasa cinta yang membuat seseorang menikmati ketika dilayani pasangannya. Sementara rahmah adalah rasa cinta yang justru menikmati ketika melayani pasangannya. Singkatnya, harapan kebahagiaan (sakinah) itu akan terwujud ketika masing-masing merasa senang dengan mencintai dan melayani (rahmah), pada saat yang sama juga senang karena dicintai dan dilayani (mawaddah).

Untuk memuluskan harapan sa-ma-ra ini, al-Qur’an telah menetapkan empat pilar pernikahan dan berkeluarga: bahwa pernikahan harus dipandang sebagai ikatan yang kuat (mitsaqan ghalizhan) yang harus dipelihara bersama (QS. 4: 21); bahwa pernikahan adalah ikatan berpasangan (zawaj), dimana suami adalah pakaian bagi istri dan istri juga pakaian bagi suami (QS. 2: 187); segala perilaku dalam berkeluarga harus didasarkan pada kesalingan untuk kebaikan (mu’asyarah bil ma’ruf, QS. 4: 19); dan pengelolaannya juga didasarkan pada kemauan bersama (taradhin) dan rembug bersama (musyawarah, QS. 2: 233).

Dengan empat pilar ini, relasi kesalingan akan mudah ditumbuhkan, prinsip kerjasama akan mudah dilaksanakan, harapan kebahagiaan dan cinta kasih juga akan mudah dipenuhi dalam sebuah keluarga Islam. Melalui empat pilar ini, masing-masing anggota keluarga dituntut untuk mengokohkan pondasi keluarga, menghadirkan segala kebaikan, dan menghalau segala keburukan (jalbul-mashalih wa dar’ul-mafasid). Baik suami maupun istri, orang tua maupun anak, saudara maupun pekerja rumah tangga. Dari suasana keluarga seperti ini diharapkan akan lahir pribadi yang kokoh, pasangan yang salih/salihah, keluarga yang tangguh, generasi yang baik, dan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Dengan ketiga landasan filosofis di atas (tauhid, khilafah, dan sa-ma-ra), hukum keluarga Islam diformulasikan dalam konteks masyarakat yang bisa jadi berbeda satu sama lain. Perbedaan-perbedaan mazhab hukum fiqh, sepanjang sejarah Islam, seluas daerah-daerah dan negara-negara Islam, harus didudukkan dan diinterpretasikan dalam tatanan tiga landangan filosofis ini yang mengacu pada keberserahan hanya kepada Allah Swt, kedamaian, kesejahteraan, kebaikan, kemaslahatan, dan keadilan. Jika pada praktiknya, ada aturan hukum keluarga yang keluar atau menyalahi landasan filosofis ini, semestinya bisa diformulasikan ulang sehingga benar-benar dapat menghadirkan ajaran kesalingan, prinsip kerjasama, dan tujuan sakinah, mawaddah, wa rahmah, yang digagas Islam.  Wallahu a’lam bish-shawab.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.