Gambar: LaKupon

Malaikat Jibril terus menerus memintaku untuk memperhatikan tetangga, sampai aku berpikir Ia memintaku memberinya hak waris

Hari Raya Kurban baru saja berlalu. Tiga hari tasyriq juga sudah berakhir. Kita kembali menapaki hari-hari normal dan biasa, yang diharapkan tentu saja, membawa semangat “korban”. Sebagaimana sering disampaiakan, ada tiga peruntukan daging kurban, yang menunjukkan perhatian Islam terhadap ketiganya. Yaitu keluarga sendiri, orang-orang miskin, dan tetangga atau sahabat.

Yang pertama dan kedua sudah sering dibicarakan. Yang ketiga, yaitu tetangga, hampir jarang disentuh dalam berbagai perbincangan sosial dan keagamaan. Hampir semua lembaga-lembaga layanan “kurban”, terutama yang menjamur lewat medsos, lebih banyak fokus pada orang-orang miskin dan untuk orang-orang yang jauh dari kita. Solidaritas kita juga lebih sering ditagih untuk orang-orang nun jauh di sana. Tetapi orang-orang dekat kita, tetangga sendiri, hampir dilupakan. Bersedekah untuk orang Palestina dan Rohingya dirasa jauh lebih mulia, sungguh, dibanding tetangga sendiri yang bisa jadi mengalami nasib yang serupa.

Jika kita sedikit saja membuka lembaran kitab-kitab kuning tentang Hadits Nabi Saw, maka bertebaranlah di sana petuah baginda soal tetangga. Salah satunya, riwayat Aisyah ra, Nabi Saw sabda: “Malaikat Jibril terus menerus memintaku untuk memperhatikan tetangga, sampai aku berpikir Ia memintaku memberinya hak waris” (Sahih Bukhari, no. 6082 dan Sahih Muslim, no. 6854).

Yang lain: “Orang yang terbaik di mata Allah Swt, adalah mereka yang terbaik terhadap tetangga” (Sunan Turmudhi, no. 2070 dan Musnad Ahmad, no. 6677). Hadits lain, ada proklamasi keimanan dan ketetanggaan. Sabda baginda: “Seseorang yang mengaku beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka harus berhenti menyakiti tetangga” (Sahih Bukhari, no. 6087).

Kata Abu Hurairah ra, Nabi Saw pernah didatangi seseorang yang bertanya: “Aku ingin masuk surga, apa yang harus aku lakukan?”. “Jadilah orang yang baik”, jawab Nabi. “Bagaimana aku bisa menilai diriku sebagai orang baik?”. “Tanya tetatangga-tetanggamu, kalau mereka bilang kamu baik, maka kamu baik, jika mereka bilang sebaliknya, berarti kamu masih belum baik”. (Sahih al-Hakim, juz 1, h. 387).

Hadits-hadits di atas adalah terjemahan “sedikit bebas” dari teks-teks berikut ini. Bagi yang ingin mendalami lebih lanjut bisa membaca teks-teks asalnya.

عَنْ عَائِشَةَ رضى الله عنها عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَا زَالَ يُوصِينِى جِبْرِيلُ بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ (صحيح البخاري، رقم: 6082).

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَيْرُ الأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ (سنن الترمذي، رقم: 2070).

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ (صحيح البخاري، رقم: 1087).

عن أبي هريرة ، قال : جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فقال : يا رسول الله ، دلني على عمل إذا أنا عملت به دخلت الجنة . قال : « كن محسنا » قال : كيف أعلم أني محسن ؟ قال : « سل جيرانك ، فإن قالوا : إنك محسن فأنت محسن ، وإن قالوا : إنك مسيء فأنت مسيء » « هذا حديث صحيح على شرط الشيخين ، ولم يخرجاه » (مستدرك الحاكم، رقم: 1348).

Kehidupan modern kita, saat ini, terutama di perkotaan, dan lebih utama lagi akibat tehnologi dan medsos, telah menjauhkan kita dari tetangga-tetangga kita sendiri. Mungkin wasiat Nabi Saw untuk berbuat baik terhadap tetangga sudah dirasa sulit. Yang paling mungkin, dan tersisa, hanya kebaikan pasif. Yaitu tidak berbuat buruk dan tidak menyakiti tetangga.

Jika “kebaikan pasif” pun kita tidak melakukannya, apakah masih pantas kita merasa beriman kepada Allah Swt, meyakini sebagai pengikut Nabi Saw, dan menganggap diri paling mulia?

Rame-rama membela orang-orang yang jauh di sana, tetapi menyakiti orang-orang yang dekat di sini. Mendoakan untuk mereka, tetapi malaknat orang sendiri. Menggalang sedekah untuk mereka, tetapi mengganyang hak tetangga sendiri. Meneriakkan keadilan untuk mereka di sana, tetapi sehari-hari menzalimi dan membenci tetangga-tetangga dekat sendiri.

Ataukah kita perlu mendefinisikan ulang apa arti tetangga itu? Tetangga rumah, tetangga desa, tetangga negara, dan tetangga medsos?

Apapun itu, Nabi Saw sesungguhnya hanya menginginkan kita menjadi orang yang baik. Dan ini harus dimulai dari orang yang terdekat kepada kita. Keluarga dan tetangga. Persis seperti pesan peruntukan daging kurban itu. Semoga Allah Swt menguatkan kita untuk selalu menjadi orang terbaik, untuk memenuhi harapan baginda Nabi Saw. Amin. Shallluu alaih….

Kigemu, 05.09.2017 (06.04)
© mubaadalahnews.com 2017

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.