Diantara kata yang populer dalam dunia “pernikahan Islam” adalah istilah nusyuz. Kata ini belum tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Tetapi jika merujuk pada situs-situs online, nusyuz diartikan sebagai perilaku “pembangakangan” istri pada suami. Ada yang mengartikanya sebagai “durhaka” istri pada suami.

jika istri wajib berbakti secara lahir dan batin, suami wajib memberi nafkah sesuai penghasilan. Ini terkesan, bahwa bakti istri harus total sementara nafkah suami sesuai kemampuan. Seharusnya, kedua belah dituntut secara total untuk membahagiakan pasanganya.

Dalam sebuah penjelasan, nusyuz didefinisikan sebagai perilaku istri yang meninggalkan kewajibannya terhadap suami. Penjelasan ini sedikit banyak terangkum dalam ketentuan Kompilasi Hukum Islam (KHI) tahun 1991, yang sering menjadi rujukan para praktisi hukum Islam di Indonesia.

[baca: ISLAM DAN PRESPEKTIF KEADILAN HAKIKI BAGI PEREMPUAN ]

Sayangnya, tidak ada istilah untuk lelaki/suami yang meninggalkan kewajibannya pada istri. Padahal dalam kehidupan nyata, tidak sedikit laki-laki yang tidak tahu diri. Meninggalkan istri dan anak-anak berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Tanpa kabar dan berita. Beberapa juga yang berperilaku buruk, kasar, dan melakukan kekerasan.

Dalam KHI, istri dianggap nusyuz jika tidak memenuhi kewajiban berbakti secara lahir dan batin pada suami (Pasal 84, ayat 1). Ketika dianggap nusyuz, maka gugurlah kewajiban suami padanya (ayat 2 dan 3). Yaitu kewajiban memberi nafkah sesuai penghasilan (Pasal 80, ayat 4).

Sayangnya lagi, jika istri wajib berbakti secara lahir dan batin, suami wajib memberi nafkah sesuai penghasilan. Ini terkesan, bahwa bakti istri harus total sementara nafkah suami sesuai kemampuan. Seharusnya, kedua belah dituntut secara total untuk membahagiakan pasanganya.

Jika dibanding KHI, ayat-ayat al-Qur’an lebih berimbang dalam melihat persoalan relasi suami istri. Termasuk dalam hal nusyuz. Bagi al-Qur’an, istri bisa nusyuz pada suami, dan suami juga bisa demikian. Ayat an-Nisa (4: 34) adalah yang bicara nusyuz istri pada suami. Sementara ayat an-Nisa (4: 128) berbicara soal nusyuz suami pada istri.

Pada ayat pertama, suami didorong untuk melakukan pendekatan persuasi terlebih dahulu, lalu tindakan tegas jika perlu. Pada ayat, dimana suami yang nusyuz, kedua belah pihak (suami dan istri) didorong untuk rekonsiliasi dan perbaikan diri. Jika kedua ayat ini digabung, maka pendekatan apapun paska nusyuz, persuasi maupuan tindakan tegas, harus mengacu pada upaya rekonsiliasi dan perbaikan.

Memang Qur’an tidak bicara apa arti nusyuz. Baik nusyuz istri maupun nusyuz suami. Tetapi jika mempertimbangkan dua ayat lain yang menggunakan kata derivasi yang sama, maka nusyuz bisa diartikan sebagai perilaku seseorang yang keluar meninggalkan kesepakatan awal. Bisa jadi karena egois dan sombong, atau karena tertarik pada hal lain di luar. Ayat al-Baqarah (2: 259) menggunakan katas nusyuz untuk sesuatu yang hidup dari yang awalnya mati. Sementara yang ayat al-Mujadalah (58: 11) untuk pergerakan dari duduk menjadi berdiri untuk bergeser atau meninggalkan ruangan.

Dus, dengan merujuk pada ayat-ayat nusyuz itu, kita bisa mengusulkan konsep yang lebih berimbang. Yaitu bahwa nusyuz adalah pelanggaran dari prinsip kesalingan untuk mendatangkan kebaikan pada keluarga (mu’asyarah bil ma’ruf). Ia bisa berupa tindakan apapun yang mencederai komitmen bersama untuk membangun kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Ia bisa terjadi dari kedua belah pihak. Suami pada istri, maupun istri pada suami.

[baca: Pesona Diri ]

Jika nusyuz terjadi, maka kedua belah pihak harus berpikir perbaikan diri dan rekonsiliasi. Bisa diawali dengan tindakan persuasif, atau bisa jadi perlu tindakan-tindakan yang tegas. Tetapi kekerasan sama sekali tidak perlu dilakukan. Tindakan tegas bukan kekerasan. Karena kekerasan tidak akan mendatangkan perbaikan. Malah membuat rekonsiliasi menjadi sulit. Walau bagaimanapun, dalam keadaan apapun, kekerasan bukan cara yang terbaik dan tidak direstui baginda Nabi Muhammad Saw.

عَنْ لَقِيطِ بْنِ صَبْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: كُنْتُ وَافِدَ بَنِى الْمُنْتَفِقِ – أَوْ فِى وَفْدِ بَنِى الْمُنْتَفِقِ – إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى امْرَأَةً وَإِنَّ فِى لِسَانِهَا شَيْئًا يَعْنِى الْبَذَاءَ. قَالَ «فَطَلِّقْهَا إِذًا». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لَهَا صُحْبَةً وَلِى مِنْهَا وَلَدٌ. قَالَ «فَمُرْهَا – يَقُولُ عِظْهَا – فَإِنْ يَكُ فِيهَا خَيْرٌ فَسَتَفْعَلُ وَلاَ تَضْرِبْ ظَعِينَتَكَ كَضَرْبِكَ أُمَيَّتَكَ». رواه أبو داود في سننه، رقم الحديث: 142، كتاب الطهارة، باب فِى الاِسْتِنْثَارِ.

Dari Laqith bin Shabrah ra: Saya pernah datang sebagai utusan Bani Muntafiq berkunjung ke Rasulullah. Saat itu saya bertanya: “Wahai Rasul, istri saya lidahnya sangat kasar dan menyakitkan”. “Ya ceraikan saja”, saran Nabi Saw. “Wahai Rasul, saya masih mencintainya dan ia juga memberi saya anak”, jawab saya. “Kalau begitu, nasihatilah dia, kalau dia baik, ia pasti akan berubah, tetapi janganlah memukulnya sebagaimana kamu memukul hamba sahaya”. (Sunan Abu Dawud, no. Hadis: 142).

عن بهز بن حكيم عن أبيه عن جده قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نِسَاؤُنَا مَا نَأْتِى مِنْهُنَّ وَمَا نَذَرُ قَالَ «ائْتِ حَرْثَكَ أَنَّى شِئْتَ وَأَطْعِمْهَا إِذَا طَعِمْتَ وَاكْسُهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ وَلاَ تُقَبِّحِ الْوَجْهَ وَلاَ تَضْرِبْ». رواه أبو داود في سننه، رقم الحديث: 2145، كتاب النكاح، باب فِى حَقِّ الْمَرْأَةِ عَلَى زَوْجِهَا.

Dari Bahz bin Hakim, dari ayah, dari kakek. Sang kakek berkata: Saya pernah bertanya kepada Rasulullah Saw: “Wahai Rasul, terkait istri-istri kami, apa yang wajib kami lakukan dan yang harus kami tinggalkan?”. Rasul menjawab: “Kamu boleh bersenggema denganya sesuai selera kamu, berilah ia makan sama yang kamu makan, berilah ia pakaian ketika kamu bisa berpakaian, dan janganlah mengolok-olok mukanya dan jangan memukul”. (Sunan Abu Dawud, no. Hadis: 2145).

عَنْ إِيَاسِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى ذُبَابٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «لاَ تَضْرِبُوا إِمَاءَ اللَّهِ». فَجَاءَ عُمَرُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ ذَئِرْنَ النِّسَاءُ عَلَى أَزْوَاجِهِنَّ. فَرَخّص فِى ضَرْبِهِنَّ فَأَطَافَ بِآلِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نِسَاءٌ كَثِيرٌ يَشْكُونَ أَزْوَاجَهُنَّ فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- «لَقَدْ طَافَ بِآلِ مُحَمَّدٍ نِسَاءٌ كَثِيرٌ يَشْكُونَ أَزْوَاجَهُنَّ لَيْسَ أُولَئِكَ بِخِيَارِكُمْ». رواه أبو داود في سننه، رقم الحديث: 2148، كتاب النكاح، باب في ضرب النساء.

Dari Iyas bin Abdillah bin Abdi Dzubab, Rasulullah Saw memberi perintah: “Janganlah memukul perempuan”. Tetapi datanglah Umar kepada Rasulullah Saw melaporkan bahwa banyak perempuan yang membangkang terhadap suami-suami mereka. Maka Nabi Saw memberi keringangan dengan membolehkan pemukulan itu. Kemudian (akibat dari keringanan itu) banyak perempuan yang datang mengitari keluarga Rasulullah Saw mengeluhkan suami-suami mereka. Maka Rasululah Saw kembali menegaskan: “Telah datang mengitari keluarga Muhammad banyak perempuan mengadukan (praktik pemukulan) para suami, mereka itu bukan orang-orang yang baik di antara kamu”. (Sunan Abu Dawud, no. Hadis: 2148).

Hadis-hadis ini memang menyasar para suami/laki-laki yang biasanya berani memukul istri/perempuan. Tetapi, dengan tafsir mubadalah, ia juga menyasar para istri/perempuan tentu saja agar tidak memukul suami. Dan tidak juga memukul anak-anak mereka. Sekali lagi, karena pemukulan bukanlah cara yang tepat untuk membuat menjadi sadar dan lebih baik. Wallahu a’lam.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.