Sumber Gambar: Pixabay

Kisah lain yang sejenis adalah bahwa ketika Nabi Saw sedang berkhutbah, lewatlah dua cucu baginda, Hasan dan Husein. Lalu baginda berhenti sejenak dari khutbah, menggendong dan membawa mereka ke mimbar.

Shalat adalah momen dimana seseorang ingin dekat bermunajat kepada Allah Swt. Biasanya, sebisa mungkin, ia akan mencari tempat dan suasana yang membuatnya nyaman, tenang, dan khusyu’. Banyak orang berusaha menjauhkan segala hal yang dianggap akan mengganggu kekhusu’an dalam shalat. Anak-anak, karena biasanya rewel dan mengganggu, akan dijauhkan dari Masjid. Terutama pada saat shalat jama’ah dilaksanakan. Bahkan, di dalam rumahpun, anak-anak dijauhkan sedemikian rupa agar tidak mengganggu shalat.

Bisakah mencari khusyu’ sekaligus menemani anak?

Ada teladan Nabi Saw soal ini, yang sepertinya sudah dilupakan banyak orang. Yaitu kisah yang direkam Imam Bukhari dalam Sahihnya mengenai cucu Nabi Saw Umamah bint Abi al-Ash ra yang digendong baginda selama shalat. Bisa jadi, kita bingung bagaimana mempraktikkan telada ini. Atau karena kita tidak paham apa maksud dari teladan Nabi Saw tersebut tersebut. Di satu sisi, kita menginginkan ketenangan dalam shalat, sebagaimana dianjurkan, tapi di satu sisi yang kita juga diajarkan untuk membahagiakan anak bahkan di saat shalat sekalipun.

عن أبي قَتَادَةَ رضي الله عنه قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِى الْعَاصِ عَلَى عَاتِقِهِ، فَصَلَّى فَإِذَا رَكَعَ وَضَعَهَا، وَإِذَا رَفَعَ رَفَعَهَا. رواه البخاري في صحيحه، رقم الحديث: 6062، كتاب الأدب، باب رَحْمَةِ الْوَلَدِ وَتَقْبِيلِهِ وَمُعَانَقَتِهِ.

Dari Abu Qatadah ra, berkata: “Suatu saat Nabi Saw pernah keluar menggendong Umamah putri Abi al-‘Ash di pundaknya. Beliau shalat (dalam keadaan menggendong sang cucu). Ketika sujud ia turunkan putri itu, dan ketika berdiri ia angkat lagi ke pundaknya. (Sahih Bukhari, no. Hadis: 515).

[baca:  3 Kunci Kebahagian dalam Rumah Tangga ]

Hadis ini tidak hanya diriwayatkan Imam Bukhari. Tetapi juga  Imam Muslim dalam Sahihnya (no. Hadis: 1240, 1241, 1242, dan 1243), Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. Hadis: 918, dan 921), Imam Nasa’i dalam Sunannya (no. Hadis: 719, 835, dan 1213), dan Imam Malik dalam al-Muwatta (no. hadis: 415).

Ini menunjukkan betapa kisah teladan ini dikenal secara baik oleh para ulama Hadis. Kisah lain yang sejenis adalah bahwa ketika Nabi Saw sedang berkhutbah, lewatlah dua cucu baginda, Hasan dan Husein. Lalu baginda berhenti sejenak dari khutbah, menggendong dan membawa mereka ke mimbar. (Sunan Turmudzi, no. 4143; Sunan Nasa’i, no. 1424 dan 1526; dan Musnad Ahmad, no. 23461).

عن أَبِى بُرَيْدَةَ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَخْطُبُنَا إِذْ جَاءَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ عَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ يَمْشِيَانِ وَيَعْثُرَانِ فَنَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مِنَ الْمِنْبَرِ فَحَمَلَهُمَا وَوَضَعَهُمَا بَيْنَ يَدَيْهِ

Dari Abu Buraidah, bercerita: Bahwa suatu saat Rasulullah Saw sedang berkhutbah di hadapan kami, lalu datang Hasan dan Husein berbaju merah berjalan dan terjatuh. Nabi Saw turun dari mimbar, menggendong dan membawa mereka di pangkuan baginda. (Sunan Turmudzi, no. 4143; Sunan Nasa’i, no. 1424 dan 1526; dan Musnad Ahmad, no. 23461).

Kisah lain. Bahwa suatu saat Nabi Saw sujud lama sekali. Salah seorang sahabat  bangun dari sujud. Khawatir ada sesuatu yang terjadi pada diri Nabi Saw. Lalu dilihatnya ada Hasan dan Husein sedang menaiki pundak Nabi Saw. Ketika selesai shalat, para sahabat bertanya: baginda sujud lama sekali, kami khawatir. Kata Nabi Saw: “Tidak, bukan itu semua, ini cucu-cucuku menaiki diriku saat sujud”.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِى إِحْدَى صَلاَتَىِ الْعِشَاءِ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَوَضَعَهُ ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلاَةِ فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَىْ صَلاَتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا قَالَ أَبِى فَرَفَعْتُ رَأْسِى وَإِذَا الصَّبِىُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِى فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الصَّلاَةَ قَالَ النَّاسُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَىْ صَلاَتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ قَالَ كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِى ارْتَحَلَنِى فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِىَ حَاجَتَهُ

Dari Abdullah bin Syidad, dari ayahnya, bercerita: Bahwa Nabi Saw suatu saat keluar rumah mau shalat Isya, sambil menggendong Hasan dan Husein. Saat baginda maju ke depan (menjadi imam), Hasan dan Husein diturunkan. Lalu mulai takbir mengawali shalat. Shalatpun dimulai. Ketika sujud, baginda melakukannya dalam waktu yang cukup lama”. Ayahku lalu berkata: “Aku angkat kepalaku, aku lihat ternyata ada anak itu yang sedang naik di punggung Rasulullah Saw ketika baginda sujud. Maka akupun kembali sujud. Ketika shalat sudah selesai, para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, baginda sujud lama sekali, sampai kami khawatir terjadi sesuatu, atau ada wahyu yang turun pada baginda”. Nabi menjawab: “Semua itu tidak terjadi, tetapi anakku menaiki (punggung)ku, jadi aku tidak suka mempercepat (sujud) sampai ia menyelesaikan keinginannya”. (Sunan Nasai, no. 1149 dan Musnad Ahmad, no. 16279 dan 28295).

[baca: Mengukuhkan Keimanan dn Mengokohkan Persaudaraan  ]

Kisah lain, Nabi Saw membaca surat-surat paling pendek dalam shalat. Ketika selesai shalat, para sahabat bertanya: “Mengapa shalat begitu cepat?”. Nabi Saw menjawab: “Aku mendengar ada bayi menangis. Aku mempercepat shalat agar sang ibu bisa segera menenangkan anaknya”. (Mu’jam al-Awsat Thabrani, juz 8, hal. 366).

Masha Allah. Betapa dalam teladan Nabi Saw, bahkan dalam shalat yang kita diminta khusus sekalipun, kita masih diajarkan untuk membahagiakan anak-anak. Semoga para orang tua sadar dengan amanah ini. Tidak lagi anak dijadikan tempat menumpahkan segala kesal dan amarah. Anak dilahirkan bukan untuk dibentak, tapi diajak. Tidak untuk dimarahi, tapi dikasihi. Tidak untuk dipaksa, tapi dibina. Tidak untuk disia-siakan, tapi diberdayakan.

Mengurus dan membesarkan anak adalah ibadah dalam Islam. Juga sedekah. Dimana yang melakukannya akan memperoleh pahala. Baik yang melakukan laki-laki maupun perempuan. Menemani dan mengajak mereka bermain juga sunnah. Itu bagian dari teladan yang dilakukan Nabi Saw. Bahkan ketika shalat dan khutbah, Nabi Saw tidak merasa risih untuk tetap bisa membahagiakan anak-anak.

Dus, jika ada orang tua, terutama ibu/perempuan, yang menggendong, mengasuh, dan menemani anak bermain, mereka sesungguhnya sedang menjalankan Sunnah Nabi Saw. Mereka sedang mengamalkan nilai-nilai luhur Islam. Mereka patut diapresiasi dan didukung. Semua ini tidak lain kecuali agar anak-anak memperolah hak-haknya untuk tumbuh kembang secara maksimal. Terutama memperoleh pendidikan yang baik dan berkualitas.

Terkait dengan khusyu’ shalat sambil menemani anak, mungkin kita perlu banyak latihan mengelola hati dan perasaan. Agar dalam setiap kesibukan apapun, hati kita sesungguhnya tetap mengingat Allah Swt. Sehingga, saat shalat, kita tetap bisa khusyu’, sekalipun dalam keadaan tertentu harus menggendong atau menemani anak. Memang tidak mudah.Tetapi kita bisa melatih dan membiasakannya. Karena, banyak juga orang yang shalat tanpa anak sekalipun, tetap pikirannya tidak mengingat Allah sama sekali. Semoga kita bisa melakukan yang terbaik untuk shalat kita dan untuk keluarga dan anak-anak kita. Amin.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.