Sumber Gambar: Pixabay

Satu hal menarik lain yang aku dapatkan dari mba Alissa Wahid adalah bahwa jatuh cinta itu ternyata beda dengan cinta. Nah loh. Ini untuk muda-mudi sekaligus juga untuk pasutri. Yang baru menikah, atau yang sudah berjalan lama.

Ketertarikan yang maha dahsyat pada orang yang dicintai ini hanya berumur mingguan atau bulanan. Tak kan sampai puluhan tahun. Begitu mengenal secara mendalam orang yang dicintainya, biasanya setelah pernikahan, rasa ‘jatuh cinta” akan mulai menguap.

Gini. Biasanya mba Alissa akan mengawali pertemuan suscatin (kursus calon pengantin) dengan pertanyaan: apa yang kita rasakan ketika jatuh cinta. Ragam jawaban akan muncul: ingin selalu dekat dengan yang dicintai. Berbunga-bunga dan selalu bergembira mendengar namanya. Atau dapat kabar, sms, atau telpon darinya. Merasa cocok dalam segala hal. Luar dan dalam.

Dalam ungkapan singkat: “Jatuh cinta itu berjuta rasanya”. Atau: “Saat sedang jatuh cinta, dunia serasa milik berdua, sedangkan semua orang lain hanya menumpang belaka”. Adoii….
Ternyata, dalam penjelasan mba Alissa, usia jatuh cinta itu tidak lama. Ketertarikan yang maha dahsyat pada orang yang dicintai ini hanya berumur mingguan atau bulanan. Tak kan sampai puluhan tahun. Begitu mengenal secara mendalam orang yang dicintainya, biasanya setelah pernikahan, rasa ‘jatuh cinta” akan mulai menguap. Segala tabiat, kebiasaan, dan perbedaan-perbedaan dari orang yang dicintai, jika diketahui dan dialami langsung, akan membuat rasa “jatuh cinta” pudar. Sebagian orang, setelah setahun pernikahannya, merasa rasa cintanya sudah hilang. Karena perasaan “berjuta rasanya” itu menguap sudah. Lalu ada yang merasa salah memilih pasangan. Walah…..

http://mubaadalah.com/2017/07/tiga-level-rumahku-surgaku/

Justru “rasa jatuh cinta menguap” itu wajar. Dan yang diperlukan adalah transformasi dari fase “jatuh cinta” ke fase “cinta”. Jatuh cinta itu memang tidak akan lama. Karena pasangan yang mengalami jatuh cinta terus pasti akan kesulitan untuk melakukan berbagai kegiatan lain dalam kehidupan. Karena inginya berdua mulu. Dan ini tidak mungkin.
Yang perlu segera dilakukan adalah menumbuhkan rasa cinta. Menggantikan rasa jatuh cinta. Dalam relasi pernikahan, cinta terdiri dari tiga komponen: kedekatan emosi, gairah seksual, dan komitmen. Jatuh cinta biasanya hanya dua hal pertama (emosi dan seks). Atau bahkan ada yang cuma gairah seksual semata. Kedekatan emosi dan gairah seksual dalam bahasa al-Qur’an terangkum dalam konsep samara. Atau sakinah-mawaddah-rahmah (QS. Ar-Rum, 30: 21). Sementara komitmen terepresentasi dalam konsep mitsaqan ghalizan dalam al-Qur’an (QS. An-Nisa, 4: 21).

Cinta memerlukan kesiapan masing-masing pasangan untuk mengarungi pahit-manis kehidupan bersama. Inilah komitmen berpasangan itu. Tetapi komitmen saja tidak cukup. Karena relasi akan hambar dan tidak menggairahkan. Cinta dalam pernikahan memerlukan tiga hal sekaligus: kedekatan emosi, gairah seksual, dan komitmen. Dan ketiga-tiganya harus ditumbuhkan, dipupuk, disemai, dipetik, dan dirawat untuk kebahagiaan dua insan dalam pasangan.

http://mubaadalah.com/2017/06/7-argumentasi-wajibnya-mencegah-nikah-anak/

Dus, ketika suatu pasangan sedang mengalami fase “jatuh cintanya menguap”, janganlah berpaling mencari atau “jatuh cinta” pada orang ketiga. Ini bukan hanya godaan, tapi bisa jadi tipuan. Karena praktiknya, jatuh cinta dengan orang ketiga inipun sama. Fase-nya tidak akan lama dan menuntut siklus fase “cinta” yang harus dipupuk dan dirawat. Daripada membiarkan jatuh cinta di luar yang tentu beresiko pada diri dan keluarga, lebih baik membulatkan tekad untuk menyemai cinta di dalam.

Al-Qur’an sendiri sarat dengan anjuran untuk menjaga diri agar tidak terjebak, apalagi terjerumus, pada pesona orang lain, atau menjebaknya dengan pesona diri kita (an-Nur, 24: 30-31). Seorang suami juga dilarang al-Qur’an memiliki komitmen dengan perempuan lain, karena bisa membuat sang istri di rumah terbiar dan tanpa perhatian yang seharusnya. Jika ada persoalan, sebaiknya diselesaikan dan diperbaiki, lalu kembali pada komitmen untuk menjaga diri masing-masing demi kebaikan keluarga (QS. An-Nisa, 4: 129). Ayat ini juga berlaku bagi perempuan untuk tidak punya komitmen dengan laki-laki di luar suaminya.

فَلَا تَمِيلُوا كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِنْ تُصْلِحُوا وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Janganlah kalian cenderung secara penuh (kepada perempun lain), sehingga kalian meninggalkan istri kalian seperti tergantung. Jika kalian perbaiki (hubungan kalian) dan bertakwa (menjaga diri), maka Allah adalah Maha Pengampun dan Penyayang”. (QS. An-Nisa, 4: 129).

عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِذَا أَعْجَبَتْ أَحَدَكُمُ الْمَرْأَةُ فَلْيَعْمِدْ إِلَى امْرَأَتِهِ فَلْيُوَاقِعْهَا فَإِنَّ ذَلِكَ يَرُدُّ مِنْ نَفْسِهِ

Dari Jabi ra, bahwa Rasulullah Saw bersabd: “Jika seseorang di antara kamu terpikat dengan (pesona) seorang perempuan (di luar rumah), maka kembalilah kepada istrinya, lakukanlah dengannya, karena hal itu juga bisa memenuhi (hasrat) dirinya”. (Riwayat Imam Ahmad dalam Musnadnya, no. hadits: 14989).

Hal yang sama juga berlaku bagi perempuan, untuk tidak cenderung pada laki-laki lain selain suaminya, dan jika terjadi persoalan berupaya untuk memperpaiki serta kembali mengikat pada komitmen semula dan menjaga diri. Jikapun terpikat pada pesona laki-laki lain, kembalilah kepada sang suami untuk memperoleh apa yang menjadi hasratnya, tidak mencari dari luar.

Sekali lagi, cinta itu akumulasi dari kedekatan emosi, gairah seksual, dan komitmen. Yang satu tidak boleh redup karena yang lain. Dalam sebuah pasangan, masing-masing perlu menerima dan memahami perbedaan. Memberi keleluasaan kepada pasangan tetapi sekaligus juga memastikan komitmen darinya untuk memelihara hubungan. Menyesuaikan diri tetapi juga bernegoisasi. Memperbaiki terus model komunikasi sehingga membikin nyaman keduanya. Dan yang penting: sesering mungkin mencari momentum agar keduanya, yang satu dari yang lain, dapat menikmati kedekatan emosi dan gairah seksual yang dimiliki.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.