Sumber Gambar: Pixabay

Bahwa relasi itu ibarat mesin sebuah mobil, yang jika ingin berjalan mengantar para penumpangnya ke tempat tujuan, harus diisi dengan bensin. Tanpa bensin mesin tidak hanya mati tidak berjalan, tetapi juga akan rusak dan berkarat. Bensin yang diisi juga harus tepat. Mesin solar tidak bisa diisi bensin premium. Begitupun sebaliknya.

Pernikahan adalah relasi yang tercipta dari kesepakatan seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk hidup bersama dan berumah tangga. Relasi ini ada yang didasarkan pada cinta satu sama lain. Ada yang awalnya hanya sekedar kenal belaka, karena lebih didorong oleh kehendak masing-masing keluarga mempelai. Apapun itu, relasi pernikahan telah terbentuk. Selanjutnya ada di tangan kedua insan tersebut; mau dipupuk relasi itu, diperkuat, dan diperindah. Atau dibiarkan saja apa adanya, lalu kendur, bahkan bisa putus. Atau bisa jadi malah akan kusut dan bikin konflik yang memecah mereka berdua. Termasuk keluarga  besar mereka masing-masing.

Tentu tidak ada orang yang ingin memperkeruh konflik dan bertengkar. Terlalu merugi hidup yang sekali ini, kalau diisi dengan konflik dan pertengkaran yang justru mewariskan kebencian dan permusuhan. Pernikahan tidak diciptakan untuk menyuburkan kebencian. Tidak juga untuk membakar permusuhan. Tetapi justru untuk mempererat tali persaudaraan dua keluarga, mewujudkan kebahagiaan dua insan (sakinah), memperbesar ekspresi cinta (mawaddah) dan menciptakan suasana kasih sayang (rahmah) di antara mereka.  Ini semua memerlukan kesadaran kedua belah pihak untuk merawat relasi ini secara intensif dan berkesinambungan.

baca: Islam memanggil Laki-laki dan Perempuan

Ada banyak cara untuk merawat relasi ini. Salah satunya yang dikenalkan oleh Alissa Qotrunnada Wahid, pakar psikologi keluarga, dengan istilah “bensin relasi”. Bahwa relasi itu ibarat mesin sebuah mobil, yang jika ingin berjalan mengantar para penumpangnya ke tempat tujuan, harus diisi dengan bensin. Tanpa bensin mesin tidak hanya mati tidak berjalan, tetapi juga akan rusak dan berkarat. Bensin yang diisi juga harus tepat. Mesin solar tidak bisa diisi bensin premium. Begitupun sebaliknya. Yang cukup dengan minyak tanah, tidak perlu harus pertamax. Isilah dan sesuaikan dengan kebutuhannya.

Bensin relasi ini sesungguhnya adalah tindakan dan ekspresi masing-masing suami istri terhadap pasangannya yang dapat memupuk cinta kasih mereka. Bisa juga disebut sebagai “bahasa kasih”. Masing-masing harus tahu tentang “bahasa kasih” untuk dirinya yang diharapkan dari pasanganya, juga untuk pasangannya yang harus dipenuhi dirinya. Ekspreasi ini harus bersifat timbal balik, atau mubadalah. Tidak bisa sepihak atau satu arah. Tetapi resiprokal. Suami harus memberi “bahasa kasih” yang dibutuhkan istrinya, dan menerimanya dari istrinya. Begitupun sang istri, harus melayani kebutuhan “bahasa kasih” sang suami, dan dilayani oleh suami apa yang menjadi kebutuhan “bahasa kasih”nya.

Kenali kebutuhan Anda dan kebutuhan pasangan Anda. Sampaikan dan penuhi. Ada banyak ekspresi bahasa kasih dalam relasi pernikahan. Masing-masing pihak, suami atau istri bisa sama suatu saat, tetapi juga bisa berbeda sama lain. Berikanlah sesuatu yang benar-benar menjadi kebutuhan bahasa kasih pasangan Anda. Begitupun pastikan kebutuhan Anda telah dipenuhi pasangan Anda. Jika Anda atau pasangan Anda malu mengungkapkannya, carilah momentum atau cara yang memungkinkan apa yang diinginkan bisa disampaikan dan dipahami. Lalu dipenuhi. Sekali lagi, kenali, temukan, dan penuhi.

Dari berbagai studi, sebagaimana dijelaskan mba Alissa, setidaknya ada lima bahasa atau ekspresi yang bisa mempererat relasi dan menyuburkan cinta kasih. Waktu, layanan, pernyataan, sentuhan fisik, dan hadiah. Bisa jadi, ada orang yang membutuhkan kelima-limanya, ada yang sebagiannya saja. Tetapi biasanya, ada salah satu yang menjadi utama yang harus diperhatikan dan dipenuhi. Masing-masing dalam pasangan harus mengenali hirarki bahasa kasih ini dan dahulukan yang paling dianggap penting oleh yang bersangkutan. Kenali, temukan, dan penuhi.

Waktu maksudnya adalah keberadaaan secara fisik untuk menghabiskan waktu bersama. Seseorang yang menginginkan pasangannya berada di sampingnya, menemani ngobrol, makan, nonton tv, melewati akhir pekan, liburan, berkunjung ke tempat-tempat tertentu, adalah orang yang meletakkan “waktu” sebagai bahasa kasihnya. Bisa jadi tidak perlu ada kegiatan penting atau bermanfaat apapun, tetapi asal bisa bersama, maka “waktu” dianggap paling utama. Ungkapan “mangan ora mangan kang penting kumpul” adalah bagian dari kebutuhan “waktu” ini.

Layanan maksudnya kebutuhan seseorang akan layanan dari pasangannya. Misalnya, diambilkan minum, dibikinkan masakan, disiapkan baju dan sepatu, diantar ke tempat kerja, dan lain-lain. Ada orang yang terkadang berlebihan meminta layanan dari pasangannya, ada yang tidak begitu memerlukan sama sekali. Jika Anda termasuk orang yang menganggap penting layanan sebagai bahasa kasih, tentu saja kebutuhan ini harus menyesuaikan dengan kemampuan pasangan Anda. Seseorang yang membutuhkan bahasa kasih layanan, ketika di rumah tidak mendapatkannya, bisa mudah kepincut kepada orang yang melayaninya. Seperti pada sekretaris di kantor atau pada supir pribadi.

Yang dimaksud ekspresi pernyataan adalah kalimat-kalimat yang diucapkan yang mendukung, menenangkan, dan memberi solusi. Yaitu ketika seseorang yang menganggap ekspresi kasih yang paling diperlukan dari pasangannya adalah ketika ia mau mendengarkan keluh kesah dan curhat dari persoalan-persoalan hidup yang dihadapi. Menginginkan pasangannya menjadi pendengar yang baik, mendiskusikannya, dan memberikan pernyataan-pernyataan positif yang bisa mendukung posisinya dan mencarikanya jalan keluar. Sekalipun tidak harus pasangannya yang mengerjakan solusi tersebut.

Sentuhan fisik adalah segala ekspresi kasih sayang yang berbentuk fisik. Bergandengan tangan, dibelai, didekap, dicium, dan sebagainya. Seseorang yang menganggap keintiman fisik sebagai ekspersi kasih sayang tidak cukup hanya ngobrol, duduk bareng, atau makan bersama. Harus ada sentuhan-sentuhan fisik ketika kebersamaan terjadi. Sementara hadiah adalah pemberian-pemberian yang bersifat monumental. Ketika ulang tahun, hari pernikahan, pulang dari bepergian, atau moment-moment lain yang dianggap spesial. Hadiah bukan pemberian yang bersifat rutin, tetapi yang berkaitan dengan momentum tertentu.

Lima bahasa kasih inilah yang menjadi bensin relasi pernikahan. Jika kita ingin relasi ini dapat bergerak memberikan kenyamanan dan kebahagiaan, maka ia harus terus menerus diisi dengan bensin yang tepat. Seseorang yang memerlukan hadiah sebagai bahasa kasihnya, jangan dipaksakan untuk menerima sentuhan fisik. Orang yang memerlukan dukungan dan pernyataan positif, bisa jadi tidak perlu dilayani dan dibantu secara fisik. Kenali dan pahami bahasa kasih yang diperlukan, dan penuhi. Wallahu a’lam bish-shawab.

Kebon Klayan, 14 Agustus 2017.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.