Ilustrasi Rumahku Syurgaku

Motto “rumahku surgaku” bisa mengingatkan komitmen masing-masing agar kembali bersama-sama menghadirkan kebaikan, bukan melestarikan keburukan.

“Rumahku Surgaku” merupakan ungkapan yang cukup populer. Disampaikan dalam berbagai acara pernikahan atau momentum keluarga. Dalam Bahasa Arab, ia diungkapkan: “Baiti Jannati”. Ungkapan ini tentu saja bukan hadits, karena tidak ada kitab hadits satupun yang mendokumentasikan. Tetapi maknanya baik dan bisa menjadi motto yang memotivasi sebuah keluarga untuk menciptakan rumah yang nyaman dan membahagiakan laksana surga.

[baca: http://mubaadalah.com/2016/09/kembang-setaman-pernikahan/ ]
[baca: http://mubaadalah.com/2016/07/keluarga-rumah-menyemai-kesalingan/ ]
[baca: http://mubaadalah.com/2016/09/hadits-hadits-mubadalah/ ]

Tentu, berumah-tangga tidak selamanya indah. Pasti ada pernak-pernik ketegangan, konflik, bahkan cerita duka dan lara. Motto “rumahku surgaku” bisa mengingatkan komitmen masing-masing agar kembali bersama-sama menghadirkan kebaikan, bukan melestarikan keburukan.

Dalam hal ini, rumah bisa berarti fisik bangunan, isi dan perabot di dalamnya, dan orang-orang yang mendiaminya. Bisa juga berarti pola dan model kehidupan sebuah keluarga di dalam rumah tersebut. Sementara surga adalah simbol dari segala kebaikan, kenyamanan, dan kebahagiaan. Dengan pengertian ini, ada tiga tingkatan “rumahku surgaku”.

Tingkatan pertama adalah bangunan fisik. Rumah secara fisik akan menjadi surga jika ia nyaman ditempati orang-orang yang ada di dalamnya. Baik sebagai tempat istirahat, maupun sebagai tempat bercengkerama dan melakukan aktivitas yang diperlukan.Isi dan perabotnya juga berfungsi dan dapat memudahkan segala kebutuhan semua penghuni rumah. Tepatnya, bangunan yang surgawi.

Tingkatan kedua adalah kesiapan fisik dan mental para penghuni rumah untuk menikmati rumah mereka. Rumah yang indah tidak akan terasa nyaman jika penghuninya gundah gulana, baik karena sakit, terlilit hutang, terkena narkoba, mengalami kekerasan, terjadi perselingkuhan, atau persoalan-persoalan sosial yang lain. Seindah apapun rumah seseorang, jika ia tidak mampu mengelola dirinya agar dapat menikmati, rumahnya tidak akan menjadi surga baginya. Ini tingkatan penghuni yang surgawi.

Tingkatan ketiga adalah pola relasi keluarga yang mendiami rumah tersebut. Dalam tingakatan ini, sebuah rumah akan menjadi surga ketika seluruh anggota keluarganya tidak hanya mampu merasakan kebaikan dan kebahagiaan di dalamnya, tetapi juga aktif memberikan kebaikan dan mewujudkan kebahagiaan untuk seluruh anggota keluarga yang lain. Ini tingkatan puncak dan paripurna, yaitu kehidupan yang surgawi.

Dalam level puncak ini, “rumahku surgaku” adalah tempat ketika seseorang merasa bahagia karena memberi dan juga bergembira karena menerima. Tempat ketika sikap saling menghormati dan saling mengapresiasi tersemai dengan baik. Tempat ketika seseorang lebih fokus pada perilaku baik pasangannya, bukan perilaku yang sebaliknya. Tempat ketika semua orang di dalamnya berpikir dan berupaya menghadirkan segala kebaikan ke dalam dan menghindarkan segala keburukan dari luar. Tidak membuang seluruh sampah-sampah sosial dan problematika kerja ke dalam rumah. Tetapi justru menghadirkan harapan, membawa senyuman, dan mendatangkan kenyamanan.

Yang surgawi adalah cara pandang, sikap hidup, tindak-tanduk, dan perilaku sehari-hari dari seluruh penghuni rumah. Pondasi dari rumah surgawi level tiga ini adalah keimanan, komitmen, kesalingan, kesabaran, pengorbanan, ketulusan, saling pengertian, dan kerjasama. Kehidupan keluarga seperti ini, kata Nabi Saw, akan selalu indah. “Jika mengalami kesulitan akan bersabar, jika menemui kebaikan akan bersyukur. Sabar dan syukur adalah baik dan indah”. Salah satu tip keluarga surgawi yang disarankan Nabi Saw: “Janganlah seseorang mudah membenci pasangannya, kalau tidak suka dengan satu kekurangan, tidakkah ia menyukai kelebihannya”.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.