Fitnah adalah pesona yang dimiliki seseorang (atau sesuatu) yang memukau orang lain dan berpotensi membuatnya terjerumus pada hal-hal buruk dalam kehidupan. Kata al-Qur’an, setiap orang adalah fitnah bagi yang lain (QS. Al-An’am, 6: 53 dan al-Furqan, 25: 20).

Setiap orang pasti punya pesona diri. Bisa tubuh yang charming, gaya pakaian yang fashionable, uang yang tajir, gaya bicara yang memukau, suara yang merdu, status sosial yang kondang, jabatan yang basah dan mentereng, otak yang encer, pikiran yang cerdas, atau perilaku yang anggun. Dan masih banyak yang lain. Tidak semua orang mampu menyadari pesona diri yang dimiliki. Tidak sedikit juga yang mampu mengenali dan menebar pesonanya kemana-mana. Bisa juga, pesona itu menyebar secara alami. Tanpa eksploitasi. Orang lain, lalu, akan terpesona. Kemudian tergoda mengejarnya, mengikutinya, mencontoh kebiasaanya, dan atau nge-fans padanya. Setidaknya, kagum: “waw…”, “subhanallaah…”.

Itulah makna “fitnah” dalam kamus Islam. Atau tepatnya literatur-literatur Islam berbahasa Arab. Fitnah adalah pesona yang dimiliki seseorang (atau sesuatu) yang memukau orang lain dan berpotensi membuatnya terjerumus pada hal-hal buruk dalam kehidupan. Kata al-Qur’an, setiap orang adalah fitnah bagi yang lain (QS. Al-An’am, 6: 53 dan al-Furqan, 25: 20). Artinya, masing-masing memiliki pesona yang bisa memukau dan menjerat orang lain. Bahkan semua kehidupan ini, dengan segala kebaikan dan keburukannya, adalah juga fitnah (QS. Al-Anbiya, 21: 25). Artinya, kehidupan adalah pesona indah yang akan menguji komitmen dan keimanan seseorang pada nilai kebenaran dan kebaikan.

Bahkan, al-Qur’an memandang sesuatu yang turun kepada Nabi Saw juga bisa menjadi fitnah (QS al-Isra, 17: 60). Karena ia telah memukau oran-orang Quraish, lalu ada yang beriman padanya dan ada yang mengingkarinya. Dengan perspektif ini, sebagaimana kita saksikan, al-Qur’an adalah super pesona yang bisa memotivasi orang dan mendorong mereka menjadi beriman, beramal sholeh, berbuat kebaikan, dan memberi manfaat kepada banyak orang. Sebaliknya, ia juga, di tangan orang-orang tertentu, berubah menjadi fitnah dan petaka karena dijadikan dalih bagi berbagai tindak kekerasan, penyerangan, perampasan, bahkan bom diri di tengah kerumunan masyarakat yang tidak berdosa. Persis seperti yang sedang melanda dunia kita saat sekarang ini.

Kembali kepada pesona diri. Setiap kita pasti memilikinya. Setiap kita juga pasti terpesona oleh/kepada orang lain. Karena memang pesona diri itu nyata ada. Kita juga punya enam indra yang menangkap pesona tersebut. Kita tidak perlu menyalahkan seseorang sebagai sumber pesona (fitnah). Karena masing-masing kita memilikinya. Laki-laki tidaklah patut menyudutkan perempuan sebagai sumber pesona (fitnah) karena bisa menggoda dan menjerat laki-laki. Karena nyatanya, laki-laki juga bisa mempesona banyak perempuan, menggoda dan menjerumuskan mereka.

Masing-masing kita adalah sumber pesona. Yang perlu dilakukan adalah agar masing-masing menjaga diri agar tidak terjerat dan tergoda pesona orang lain. Laki-laki tidak tergoda perempuan dan terjerumus pada tindakan-tindakan buruk yang diharamkan Islam. Perempuan juga perlu mengendalikan agar tidak terpesona pada fitnah laki-laki dan terjerumus pada tindakan-tindakan yang dilarang. Di sisi yang lain, masing-masing yang memiliki pesona, dalam bentuk apapun, juga perlu mawas diri. Agar tidak menggunakan pesona yang dimilikinya untuk menjerumuskan orang lain pada keburukan dan kesalahan.

Pesona diri adalah anugerah. Memilikinya tidaklah berdosa. Mensyukuri, menjaga, merawat, dan menggunakannya untuk kebaikan diri, dan terutama untuk orang lain adalah baik dan sedekah. Yang salah adalah menggunakan pesona diri yang dimiliki untuk menipu, membohongi, menjerat orang lain, dan menjerumuskan mereka pada tindakan-tindakan buruk, jahat, dan dilarang Islam.

Terpesona pada orang lain adalah juga alami karena kita memiliki indra manusiawi. Senang, kagum, bangga, bergembira, dan senang pada orang lain karena pesona yang dimilikinya adalah juga wajar. Yang tidak boleh adalah ketika pesona tersebut mendorong kita melakukan hal-hal yang dilarang Islam, tindakan-tindakan buruk, salah, jahat, dan kitapun menjadi tidak manusiawi lagi.

Bersyukurlan mereka yang memiliki pesona dan gunakanlah hanya untuk mendorong kebaikan, waspadalah mereka yang mudah terpesona agar tidak terjerumus pada keburukan dan kemaksiatan. Wallhu a’lam bish-shawab.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.