Perempuan selalu dipersepsikan masyarakat di mana-mana sebagai makhluk Tuhan yang menarik, memikat, menggoda, mengganggu ketenangan. Dalam teks-teks keagamaan “perempuan adalah sumber fitnah”. Hadits Nabi yang sahih misalnya menyebutkan : “Ma Taraktu Badi Fitnah Adharra ala al-Rijal min al-Nisa”. (Aku tidak mewariskan suatu fitnah yang lebih merugikan (membahayakan) laki-laki kecuali perempuan). Kata “Fitnah” dalam bahasa Arab, bukan dalam terminology Indonesia, secara literal dan generik berarti cobaan dan ujian. Bentuknya bisa bermacam-macam, dengan kadar yang juga bermacam-macam, ringan, berat sampai membahayakan kehidupan. Sebagai suatu cobaan atau ujian, fitnah bisa mengenai siapa saja; orang beriman maupun tidak beriman.

Perempuan yang distereotipe sebagai sumber fitnah dengan pengertian tubuh yang memikat, menggoda dan mengganggu laki-laki di atas adalah tafsir dan pendefinisian masyarakat patriarki. Dengan kata lain, perempuan dalam system social ini dianggap menggoda dan mengganggu naluri hasrat laki-laki yang acap atau berpotensi menjerumuskannya ke dalam situasi yang merugikan dirinya baik secara moral, spiritual maupun material. Oleh karena demikian, maka perempuan harus dibungkus, dikerangkeng dan dibatasi geraknya. Bahasa lain yang lebih soft dan sopan, adalah “dilindungi” dan “dijaga” ketika ia hendak melakukan aktifitasnya di luar rumah. Di sini perempuan diposisikan sebagai obyek yang dikorbankan demi kepentingan laki-laki.

Tafsir lain atas hadits di atas yang mungkin lebih adil adalah bahwa hadits tersebut justeru ingin menggugah kesadaran kaum laki-laki agar berhati-hati dan menjaga dirinya dengan “menundukkan” pandangan matanya ketika melihat perempuan. ”Menundukkan mata” artinya mengendalikan matanya agar tidak liar dan melotot. Menjaga diri adalah menghormati martabat diri dengan tidak mengganggunya atau melecehkannya. Inilah maksud perinah Tuhan dalam surah al-Nur;31 yang populer itu. Jika laki-laki bisa melakukan demikian, maka sesungguhnya perempuan bisa bergerak di mana saja sebagaimana laki-laki sepanjang masing-masing menjaga kehormatan dirinya. Mereka tidak perlu dibatasi aktfitasnya di ruang publik-politik. Dan ini bisa menguntungkan semua.

Laki-laki juga menggoda Perempuan

Pertanyaan kita adalah apakah hanya perempuan yang menjadi makhluk yang menarik hati, menggoda dan mengganggu ketenangan “lawan” jenisnya?. Dengan kata lain apakah hasrat dan gairah seksual hanya dimiliki oleh laki-laki terhadap perempuan dan tidak oleh perempuan terhadap laki-laki juga?. Para seksolog menyatakan bahwa hasrat-hasrat biologis adalah naluri-naluri instinktif manusia dan binatang; laki-laki maupun perempuan, jantan maupun betina. Jadi makhluk Tuhan yang laki-laki juga adalah sosok yang memiliki daya tarik, daya goda dan mengundang hasrat libido makhluk perempuan. Tuhanlah yang menganugerahkan naluri suci ini kepada makhluknya tanpa mengkhususkan kepada jenis kelamin laki-laki dengan kadar yang relative sama. Anugerah itulah yang membuat lak-laki dan perempuan eksis dan bisa menjalani kehidupannya dengan dinamis dan bergairah. Seksualitas adalah anugerah besar dari Tuhan bagi semua ciptaan-Nya.

Ada banyak kisah dimana perempuan tertarik secara seksual kepada laki-laki. Dalam al-Quran ada cerita tentang Siti Zulaikha, isteri pejabat tinggi kerajaan Mesir ketika itu. Dia tergoda hatinya kepada Yusuf A.S yang dikemudian hari menjadi Nabi itu. Laki-laki dengan postur tubuh indah dan wajah yang amat tampan ini, begitu mengusik dan menggelitik libido Zulaikha, yang konon kemudian menjadi isterinya. Diceritakan pula bahwa gairah perempuan ini untuk berasyik-masyuk dengan Yusuf, putra Nabi Yaqub, As, seakan tak tertahankan. Al-Quran menginformasikan situasi ini:

“Dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: “Marilah ke sini.” Yusuf berkata: “Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” [Q.S. Yusuf, 12.23]  “Yusuf berkata: “Dia menggodaku untuk menundukkan diriku (kepadanya)”, [Q.S. Yusuf, 12.26]. “Dan wanita-wanita di kota berkata: “Istri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya (kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam”. [Q.S. Yusuf, 12.30]

Bukan hanya Zulaikha, perempuan-perempuan yang diundang ke rumahnya juga terpesona melihat tubuh dan ketampanan Yusuf. Al-Quran menyatakan lagi :

“Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: “Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia.”[Q.S. Yusuf,12:31].

Sebuah syair bercrita tentang kegelisahan perempuan, merindukan laki-laki.

تَطَا وَلَ هذَا اللَّيْلُ وَاسْوَدَّ جَانِبُه    وَطَالَ عَلَيَّ أَنْ لَا خَلِيْلَ أُلَاعِبُه

فَوَاللهِ لَوْلَا خَشْيَة اللهِ وَالحْيَا     لَحَرَكَ مِنْ هَذاالسَّرِيْرِ جَوَانِبُه

Oh, mengapa malam ini begitu panjang
dan dikepung hitam kelam
Oh, betapa lamanya sepiku
tanpa candaria bersama kekasih
Demi Tuhan, andai saja aku tak takut pada-Nya
Dan punya rasa malu
Ranjang ini pasti akan bergerak-gerak

Nizami, penyair besar klasik dari Persia, dengan sangat brilian bercerita tentang cinta Layla  bint Mahdi yang penuh gelora kepada kekasihnya Qais bin Mulawwah, sebagaimana Qais kepada Layla?. Kisah cinta keduanya yang amat indah itu telah menyejarah dan menginspirasi dunia sepanjang masa. Cinta Qais yang kemudian populer disebut “majnun” (si gila) menjadi symbol para sufi untuk menggambarkan cinta manusia yang suci-murni kepada Tuhannya.

تَعَشَّقَتْ لَيْلَى وَهِى غِرٌّ صَغِيْرةٌ    وَلَمْ يَبْدُ لِلْاَتْرَابِ مِنْ ثَدْيِهَا حَجْمٌ

Layla begitu amat merindui (Qais)
meski dia masih begitu belia
Buah dadanya belum lagi tampak menonjol.

Layla mabuk kepayang pada Qais, kekasih dan pujaan hatinya. Ia merinduinya berhari-hari, berbulan-bulan dan bertahun-tahun. Tetapi cinta kasih mereka tak sampai, karena tradisi melarangnya.

William Shakespeare dengan sangat memesona bercerita tentang Juliet yang kasmaran berat kepada Romeo dan sebaliknya, atau Luthfi al-Manfaluthi yang menerjemahkan dengan amat indah karya Alphones Karr : “Majdulin”, Magdalena. Kepada kekasihnya Stephen, Majdulin dalam suratnya antara lain mengatakan:

استيفن , إِنِّى أُعِدُّ السَّاعَاتِ وَاللَّحَظَاتِ, اَنْتَظَرِكِ بِشَوْقٍ عَظِيْم

“Stephen, Aku terus menghitung jam-jam berdentang dan detik-detik yang berketik-ketik. Aku menunggumu dengan penuh rindu dendam”.

Laki-laki Sumber Keresahan Social

Jika perempuan dianggap sebagai sumber keresahan social, sebagai makna lain dari kata “fitnah” di atas, maka laki-laki juga bisa menjadi sumber keresahan social. Sebuah kisah klasik bernuansa Arabia memperlihatkan bagaimana perempuan-perempuan Arab rindu berat sampai  dan mengejar-ngejar seorang laki-laki tampan. Ini terjadi pada zaman Umar bin Khattab, khalifah kedua yang terkenal adil itu. Suatu hari dia berjalan-jalan dalam rangka “incognito” ke desa-desa untuk mengetahui sendiri nasib rakyatnya. Dari sebuah gubug sederhana di sana dia mendengar nyanyian rindu melankoli dari seorang perempuan.

هَلْ مِنْ سَبِيْلٍ إِلَى الْخَمْـرِ فَأَشْرَبُهَـا؟      أَوْ هَلْ مِنْ سَبِيْلٍ إِلَى نَصْرِ بْنِ الْحَجَّاجِ

 Adakah jalan menuju kedai minuman anggur
Biar aku bisa menenggaknya
Atau adakah jalan menuju Nashr bin Hajjaj
Biar aku bisa menatapnya lama-lama?

Umar segera memanggil Nashr. Begitu tiba di hadapannya, Umar melihat seorang laki-laki tampan dengan rambut ikalnya yang memikat. Umar segera mintanya memangkas semua rambut di kepalanya. Begitu kepalanya tak lagi menyisakan rambut (gundul), Umar  melihat ketampanannya masih tampak nyata dan masih mampu membuat kaum perempuan tergila-gila dan ingin mimpi berhari-hari bersamanya. Umar masih resah. Ia kemudian mengisolasinya ke Basrah, Irak, dan membiarkan wajahnya berangsur-angsur menjadi keriput di telan zaman dan tak lagi menggoda  perempuan. Tetapi di negeri ini ternyata banyak perempuan yang juga tergila-gila padanya. Abu Musa al Asyari, sang gubernur Basrah, mengusirnya ke Persia. Dan di negeri itu, dia masih juga digandrungi banyak perempuan. Utsman bin Abi al-Ash al-Tsaqafi, gubernur Persia itu, kemudian mengirim surat kepada Umar bin Khattab di Madinah, menceritakan si tampan yang membuat perempuan-perempuan resah dan tak bisa makan-minum-tidur itu. Dalam balasannya, Umar menyuruh sang gubernur membuat SG (baca: Surat Gubernur) tentang larangan bagi Nashr bin Hajjaj keluar dari masjid. “Biarkan dia di masjid sampai meninggal”. Ketika pada akhirnya Umar wafat lebih dahulu, karena dibunuh Abu Lulu, Nashr masih segar-bugar dan kembali lagi ke Madinah.

Nah, ternyata laki-laki juga menjadi problem social. Kehadiran Nashr bin al Hajjaj di tengah-tengah masyarakatnya ternyata dianggap para penguasa berbagai negeri mengganggu dan mengacaukan keamanan negerinya. Laki-laki itu menjadi sumber fitnah kaum perempuan.

Cirebon, 21 April 2011

BAGIKAN