Ilustrasi Pernikahan Anak

Pernikahan anak terjadi karena berbagai faktor, terutama sosial, ekonomi, dan bisa jadi karena dorongan libido yang tinggi. Berangkat dari kenyataan bahwa pernikahan anak bisa membawa berbagai persoalan bagi anak dan masyarakat, Islam menawarkan berbagai tips agar seseorang tidak terjebak pada pernikahan anak. Di antaranya 7 tips berikut ini yang pernah dibicarakan dalam Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) di Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin Cirebon:

  1. Menanamkan keyakinan pada anak, orang tua, dan masyarakat, bahwa pernikahan dalam Islam bukan sekedar menghalalkan hubungan intim, tetapi lebih dari itu untuk membentuk keluarga bahagia, sakinah, mawaddah wa rahmah. Karena itu, mempersiapkan seseorang agar mampu menunaikan tujuan berkeluarga ini lebih penting daripada sekedar menyegerakan pernikahan untuk memperoleh hubungan intim yang halal.
  2. Menanamkan kesadaran kepada masyarakat luas bahwa seseorang pada usia anak membutuhkan waktu dan kesempatan untuk bisa tumbuh kembang sebagaimana manusia yang utuh, secara mental dan sosial. Pernikahan dan berkeluarga bisa merenggut kesempatan emas seorang anak untuk bisa tumbuh sebagai generasi yang kuat dan tangguh sebagaimana diharapkan Islam.

[baca: http://mubaadalah.com/2017/06/pendidikan-wajib-menikah-mubah/ ]

  1. Menegaskan kepada orang tua dan masyarakat bahwa Islam mewajibkan agar anak memperoleh pendidikan, tetapi sama sekali tidak mewajibkan mereka agar menikah. Pendidikan dalam Islam adalah wajib, sementara pernikahan paling jauh adalah sunnah. Itupun harus dibarengi dengan kemungkinan mereka dapat menjalani kehidupan berkeluarga secara baik dan tidak berperilaku buruk.
  2. Meminta orang tua untuk tidak menggunakan hak ijbar sebagai pemaksaan anak perempuan untuk menikah. Karena ijbar bukan hak memaksa, tetapi mengganti untuk memastikan sang anak memperoleh kemaslahatan dari pernikahan. Karena pernikahan praktiknya tidak maslahat bagi anak, maka orang tua sebaiknya tidak lagi menggunakan hak ini.

[baca: http://mubaadalah.com/2017/06/7-argumentasi-wajibnya-mencegah-nikah-anak/ ]

  1. Menuntut pemerintah untuk menunaikan kewajiban penyelenggaran pendidikan dasar 12 tahun kepada semua warga negara dan menyelesaikan persoalan ekonomi masyarakat. Jika anak bisa melampaui pendidikan dasar ini, setidaknya ia bisa terbebas dari pernikahan di usia anak. Dalam Islam, negara berkewajiban memberi yang terbaik untuk kemaslahatan seluruh rakyatnya.
  1. Mengajak para remaja untuk bisa menahan diri dan menjaga diri agar tidak terjerumus pada ekspresi seks yang diharamkanan. Beberapa ayat al-Qur’an meminta orang-orang beriman untuk menundukkan pandangan dan tidak tebar pesona. Beberapa hadits juga menyarankan agar berpuasa yang bisa diartikan tidak hanya puasa dari makan dan minum, tetapi dari seluruh kegiatan yang menjurus pada ekspresi seks yang diharamkan.
  1. Mendorong para remaja agar bisa menyibukkan diri dengan ragam aktivitias positif yang dapat mengembangkan kepribadian mereka, meningkatkan kapasitas diri mereka, menambah pengetahuan, memperbanyak pengalaman, dan memperluas jaringan. Semua ini sebagai bekal kehidupan yang lebih baik dan lebih tangguh.

Dengan tujuh langkah ini, jika dilakukan oleh seluruh elemen masyarakat, insha Allah harapan al-Qur’an terhadap generasi yang kuat dan tangguh dalam segala hal dan tidak lemah (QS. An-Nisa, 4: 9) dapat terpenuhi. Dengan orang-orang yang sudah cakap untuk berkeluarga, tujuan pernikahan  yang digariskan al-Qur’an, yaitu keluarga bahagia (sakinah, mawaddah, wa rahmah), juga akan lebih mudah tercapai. Wallhu a’lam bish-shawab.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.