Pasangan yang baru saja melangsungkan pernikahan, terutama pasca Lebaran tahun ini akan menjalani babak baru kehidupan yang lebih menantang dan dinamis. Di antara mereka mungkin masih sedang dalam bulan madu, ada juga yang mulai menemukan perbedaan-perbedaan, juga mungkin ada yang sedang penuh harap merencanakan kehidupan masa depan; soal momongan, rumah idaman dan lain sebagainya. Dalam masa tiga bulan ke depan, atau paling lama dalam masa setahun, kehidupan rumah tangga bisa dibilang masih akan terkendali.

http://mubaadalah.com/2017/06/mengukuhkan-keimanan-dan-mengokohkan-persaudaraan/

Riak-riak atau sumber prahara akan mulai muncul paling tidak pasca masa setahun pernikahan. Di sinilah kehidupan istri dan suami yang sesungguhnya dimulai. Sebuah kehidupan serba dinamis dan mungkin tak terduga sebelumnya akan dirasakan sampai menimbulkan rasa khawatir, kaget, gelisah, ragu-ragu; campur aduk. Perasaan-perasaan seperti itu dapat kita tanyakan kepada para pasangan suami yang telah banyak makan garam. Ujian dalam upaya ‘belajar berbeda’ atau belajar dewasa dalam perbedaan betul-betul akan menguras pikiran, tenaga dan segalanya.

Berikut saya ungkapkan 3 (tiga) kunci bagaimana kita berikhtiar untuk membangun rumah tangga yang bahagia. Pertama, niat yang tulus. Niat dalam beribadah itu sangat penting. Kesannya sepele tetapi sangat menentukan. Menikah itu ibadah–meskipun kedudukannya sunah–dan yang namanya ibadah selalu membawa konsekuensi yang berat dalam pelaksanaannya. Hampir tidak ada ibadah yang bisa dilakukan dengan mudah tanpa ada pembiasaan dan niat (komitmen) yang kuat.

Kedua, komunikasi dan kejujuran. Hampir semua masalah yang terjadi dalam rumah tangga itu karena komunikasi dan kejujuran yang tidak terbangun. Kembali ke niat yang tulus karena ibadah pernikahan. Jangan sampai memulai pernikahan dengan kebohongan. Sehingga karena telah sah dalam pernikahan maka kedua pasangan akan menerima apapun risikonya. Jaga dan terus bangunlah komunikasi yang jujur. Jangan ada sedikit pun masalah yang ditutup-tutupi dan disembunyikan. Ingat, istri dan suami setelah menikah menjadi satu jiwa. Kalian berdua harus saling jujur dan menguatkan.

Ketiga, jangan pernah mengidentikkan kebahagiaan dalam rumah tangga dengan uang dan harta dunia lainnya. Kebahagiaan itu sebuah kualitas hidup yang tidak bisa dibeli dengan sebanyak apapun uang. Ini kesalahan yang banyak dilakukan pasangan istri dan suami dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Seolah-olah sebuah rumah tangga akan pasti bahagia kalau punya uang banyak dan harta yang melimpah. Akhirnya hanya karena ingin mendapatkan uang dan harta yang banyak, prinsip dalam rumah tangga yang jauh lebih penting misalnya tentang niat, proses, komitmen dll, termasuk kebutuhan akan beribadah (shalat lima waktu berjemaah, sedekah, dll) dilupakan dan dianggap bukan prioritas.

Sepanjang 3 kunci ini dipegang dan diupayakan maka seberat apapun masalah dan ujian dalam rumah tangga, insya Allah akan mampu dijalani dengan sabar dan tanpa beban. Karena istri dan suami memahami betul bahwa rumah tangga itu sebuah perjalanan panjang, kesempatan bagi keduanya untuk belajar memupuk kedewasaan, melatih diri untuk bersikap rendah hati, dan tidak mengedepankan emosi ketika ada kekeliruan.

http://mubaadalah.com/2017/06/pendidikan-wajib-menikah-mubah/

Yang paling bikin saya ‘geli’ adalah sebagian dari kita yang sering kali meremehkan nasihat baik. Katanya, ucapan itu tidak semudah perbuatan (pelaksanaan, praktik). Berbicara baik itu mudah, praktek itu susah. Padahal kita bisa belajar baik, bukan dengan meremehkan nasihat baik, tetapi diri kita yang sebetulnya selama ini belum baik. Jadi kalau mau disalahkan bukan nasihat baiknya tetapi perilaku kita yang belum baik itu.

Walhasil, karena pernikahan merupakan perjanjian yang berat maka kita memerlukan ikhtiar dan doa yang kuat. Apalagi Islam adalah agama yang punya ajaran tentang kesalingan dan berbagi peran bahwa istri dan suami punya kewajiban bersama untuk selalu terlibat dalam urusan rumah tangga mana pun: mendidik anak, menjemput rezeki, dan berbagi peran dalam mengerjakan aktivitas rumah tangga. Hanya dengan kebersamaan kita akan meraih kebahagiaan. Maka jangan ada perasangka-perasangka buruk atau perasaan tidak enak, kemukakan dan atasi semuanya secara bersama antara istri dan suami dalam hal apapun.

Wallaahu a’lam.

Mamang M Haerudin (Aa)
Tangerang, 19 Juli 2017, 21.03 WIB.