Mengukuhkan Keimanan dan Mengokohkan Persaudaraan

Materi Khutbah Idul Fitri 1438 H

1
589

Khutbah Pertama:

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ.
اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً.
اللهُ أكبرُ ما أقبلَ النّاسُ إلى ربّهم آيبينَ تائبين، اللهُ أكبرُ ما زانت المساجدُ في أنحاءِ الأرض بالذّاكرينَ والمسبّحين.
اللهُ أكبر ما أقبلَ اللهُ على عباده في شهرِ رمضانَ بالمغفرةِ والرّحمةِ، ما تصافحت قلوبُ عبادِ اللهِ في هذا اليوم بالمحبّةِ والسماحة.
اللهُ أكبر، اللهُ أكبر، اللهُ أكبر، ولله الحمد.

الحمد للهِ حمداً يوافي نعمه ويكافئ مزيده، يا ربّنا لك الحمدُ كما ينبغي لجلال وجهك ولعظيمِ سلطانك، سبحانك اللهم لا أحصي ثناءاً عليك أنتَ كما أثنيتَ على نفسك، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا ونبينا محمداً عبده ورسوله، وصفيُّهُ وخليلُه، خيرُ نبيٍّ أرسله، أرسله الله إلى العالمِ كلّهِ بشيراً ونذيراً، اللهمَّ صلِّ وسلّم وباركْ على سيّدنا محمدٍ وعلى آلِ سيّدنا محمد، صلاةً وسلاماً دائمين متلازمين إلى يوم الدين.

أيها المسلمون: اتقوا الله واعملوا صالحا يصلح الله أحوالكم في الدنيا والآخرة. قال الله تعالي في كتابه العظيم: ((مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ))، النحل، 97. وقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم: ((كُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَا هُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ)) رواه مسلم.

أما بعد.

Hadirin Sidang Idul Fitri warga Desa Klayan yang dimuliakan Allah…

Alhamdulillah… segala puji bagi Allah yang telah memberikan keimanan dan kesehatan sehingga kita semua mampu melewati bulan Ramadan, bulan penuh ibadah dan amal kebaikan. Pagi hari ini, alhamdulillah, kita sama-sama menyaksikan hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1438 H, menjalankan shalat dan mendengarkan khutbah, sebagai penutup sekaligus perayaan dari seluruh usaha dan upaya amal kita selama satu bulan penuh.

Hadirin sekalian, Apa makna Idul Fitri? Dan bagaimana kita memaknai Idul Fitri dalam kehidupan kita sehari-hari?

Secara bahasa “Iid” artinya kembali dan “Fitri” adalah yang fitrah, yang asal, dan yang hakikat. Jadi, Idul Fitri adalah kembali kepada yang fitrah, kembali kepada yang asal, atau kembali kepada yang hakikat dari kita sebagai manusia. Setidaknya ada tiga hal tentang hakikat kita sebagai manusia. Pertama, kita semua adalah makhluk ciptaan Allah Swt yang lemah dan terbatas oleh tempat dan waktu. Kedua, kita semua adalah hamba-hamba Allah Swt yang tercipta untuk beribadah kepada-Nya. Ketiga, karena kita semua adalah hamba-hamba-Nya, maka kita adalah bersaudara, dimana satu sama lain seharusnya saling menghormati, saling tolong menolong dan kerjasama. Dengan tiga hakikat ini, maka Idul Fitri adalah momentum untuk mengukuhkan keimanan dan mengokohkan persaudaraan.

اللهُ أكبر، اللهُ أكبر، اللهُ أكبر، ولله الحمد.

Hadirin Sidang Idul Fitri yang berbahagia….

Untuk hakikat yang pertama. Idul Fitri mengingatkan kita pada hakikat bahwa hidup kita tidak lain adalah soal waktu belaka yang bergulir terus dan terus. Kita tak bisa menahannya. Kita juga tak bisa mengejarnya. Sepertinya baru kemarin kita mulai berpuasa, sekarang sudah hari raya. Inilah bergulirnya sang waktu itu. Sepertinya baru kemarin kita lulus SD, atau SMP, atau SMA. Sekarang kita sudah dewasa, berkeluarga dan beranak cucu. Yang sekarang kecil, sebentar lagi tumbuh remaja. Yang remaja akan dewasa.  Yang dewasa tentu saja pasti beranjak tua dan kemudian menjadi lemah dan tidak lagi bisa berbuat lebih banyak.

Hadirin sekalian, Siapaka kita dalam perjalana waktu ini? Dimanakah kita sekarang ini? Dan kemanakah kita akan melangkah besok dan lusa setelah wafat dan tiada?

Kita adalah makhluk Allah Swt, diciptakan oleh-Nya untuk menjalani kehidupan ini dan akan kembali kepada-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Artinya: Kita adalah milik Allah dan kita juga akan kembali kepada-Nya. Bapak dan ibu, saudara-saudari, serta adik-adik sekalian. Kita semua akan kembali kepada Allah Swt. Memang kita tidak tahu waktunya kapan, tetapi kembali itu pasti. Semua ini hanyalah soal waktu saja, dan kita semua akan pulang kembali kepada Allah Swt. Tidakkah kita bertanya: apakah bekal yang sudah kita siapkan ketika pulang dan menemui-Nya?

Semua kehidupan adalah soal waktu belaka. Bagi yang sedang bersedih, atau sakit, atau susah, mungkin sepertinya kehidupan begitu sempit, menyiksa dan terasa lama sekali. Begitupun bagi yang sedang bergembira, bersuka cita, bersenang dan bahagia, mungkin terasa seluruh dunia itu miliknya. Para hadirin sekalian, semua adalah soal waktu saja, sementara dan akan sirna. Kesedihan akan bergulir dan kebahagiaan juga akan pergi.

Semua akan pergi, dan yang tersisa adalah kita sendiri, sebagai makhluk Allah, dan kita akan kembail kepada-Nya. Allah tidak akan bertanya tentang kesusahan atau kebahagiaan kita, tetapi tentang bagaimana kita menghadapi dan melaluinya. Jika kita menghadapinya dengan baik, kita kelak akan diterima Allah Swt dan memperoleh balasan kebaikan yang berlipat-lipat, dan jika kita melaluinya dengan keburukan, kita kelak akan dimintai pertanggung-jawaban dan akan memperoleh balasan yang setimpal.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِلْعَبِيدِ

“Barangsiapa yang berbuat baik, maka (kebaikan itu akan kembali) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka juga (keburukan itu) akan kembali kepada dirinya. Tidaklah sekali-kali Tuhanmu berbuat zalim kepada hamba-hamba(Nya)”. QS. Fushilat, 41: 46.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

“Barangsiapa yang berbuat baik, maka (kebaikan itu akan kembali) untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang melakukan keburukan, maka (keburukan itu) juga akan kembali kepada dirinya. Kemudian kepada Tuhan-mulah, kalian semua akan dikembalikan pulang”. QS.  Al-Jatsiyah, 45: 15.

اللهُ أكبر، اللهُ أكبر، اللهُ أكبر، ولله الحمد.

Hadirin Sidang Idul Fitri yang berbahagia………………….

Hakikat yang yang kedua yang harus kita sadari adalah bahwa kita semua adalah hamba Allah Swt. Kita semua adalah hamba yang harusnya tunduk pada tatanan, nilai, norma, dan hukum yang diturunkan Allah Swt. Hamba yang seharusnya kembali bersedia memperkokoh keimanannya kepada Allah Swt dan kembali memperbaharui komitmen ibadah kepada-Nya.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidak sekali-kali Aku jadikan jin dan manusia, kecuali agar mereka beribadah (dan menghamba) kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat, 56).

Ini adalah kalimat Allah Swt dalam al-Quran. Kita wajib beribadah kepada Allah Swt, karena kita adalah hamba-Nya. Sebagai hamba, kita membutuhkan ibadah ini. Bukan Allah yang membutuhkan kita, tetapi kita membutuhkan-Nya. Kita membutuhkan ibadah-ibadah ini, untuk menempa kita menjadi pribadi yang baik dan bermanfaat, untuk melatih kita menjadi insan-insan yang kuat dan tangguh, untuk mengasah kita agar menjadi manusia yang simpatik dan empatik kepada orang lain. Lebih dari itu, kita membutuhkan ibadah-ibadah ini, agar kita semua mampu menjadi khalifah Allah di muka bumi, untuk memakmurkan, melestarikan, dan menghadirkan segala kebaikan untuk semua makhluk dan semesta alam.

Dalam sebuah hadits qudsi riwayat Imam Muslim, Allah Swt berfirman:

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِى مُلْكِى شَيْئًا

“Wahai hamba-hamba-Ku, jika semua manusia dan semua jin, dulu sekarang dan nanti, semuanya menjadi orang yang paling bertakwa di antara kamu, semua itu tidak menambah apapun dari kebesaran-Ku”.

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَفْجَرِ قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِنْ مُلْكِى شَيْئًا

“Wahai hamba-hamba-Ku, jika semua manusia dan semua jin, dulu, sekarang dan nanti, semuanya menjadi orang yang paling buruk di antara kamu, semua itu tidak mengurangi apapun dari kerajaan-Ku”.

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

“Wahai hamba-hamba-Ku, jika semua manusia dan semua jin, dulu sekarang dan nanti, semuanya berdiri di satu tempat, lalu meminta kepada-Ku, lalu aku berikan setiap orang apa yang diminta, semua itu tidak mengurangi kekayaan-Ku, kecuali seperti air laut yang dicelup sebuah jarum (lalu diangkat dan sebagian air laut melekat pada jarum tersebut)”.

يَا عِبَادِى إِنَّمَا هِىَ أَعْمَالُكُمْ أُحْصِيهَا لَكُمْ ثُمَّ أُوَفِّيكُمْ إِيَّاهَا فَمَنْ وَجَدَ خَيْرًا فَلْيَحْمَدِ اللَّهَ وَمَنْ وَجَدَ غَيْرَ ذَلِكَ فَلاَ يَلُومَنَّ إِلاَّ نَفْسَهُ

“Wahai hamba-hamba-Ku, semua itu hanyalah amal perbuatan kalian (yang akan kembali untuk kalian sendiri). Aku akan menghitungnya untuk kalian, lalu Aku penuhi balasannya untuk kalian juga. Barangsiapa yang memperoleh balasan kebaikan (kelak), maka bersyukurlah kepada Allah, dan barangsiapa yang memperoleh balasan yang lain (keburukan), maka tidak perlu menyalahkan siapapun, kecuali dirinya sendiri”.

اللهُ أكبر، اللهُ أكبر، اللهُ أكبر، ولله الحمد.

Hadirin Sidang Idul Fitri yang dimuliakan Allah Swt….

Hakikat yang ketiga, yang harus kita sadari melalui momentum Idul Fitri ini adalah bahwa semua kita sebagai hamba-hamba Allah Swt, secara sosial, tidak ada satupun di antara kita yang boleh menjadi tuhan atas yang lain. Merasa lebih mulia, lebih agung, dan lebih istimewa. Tidak. Kita semua adalah hamba dan karena itu kita adalah setara. Karena kesetaraan ini, Nabi Saw meminta kita semua agar bersaudara satu sama lain, tidak saling membenci dan tidak juga saling mendengki.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَ تَدَابَرُوا وَلاَ تَبَاغَضُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا

“Dari Abu Hurairah ra dari Nabi Saw bersabda: ….Janganlah kamu saling mendengki, saling memunggungi, atau saling membenci. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang bersaudara satu sama lain”. (Riwayat Imam Bukhari).

Dalam hadits yang lain, riwayat Imam Muslim, seperti yang sudah saya kutip pada permulaan Khutbah ini, Nabi Saw bersabda:

كُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يَخْذُلُهُ وَلاَ يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَا هُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ.

“Jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara (satu sama lain). Seorang muslim adalah saudara bagi musliim yang lain. Tidak boleh menzalimi, merendahkan, dan menghina”. (Kemudain Nabi Saw menyatakan): “Takwa itu di sini”, sambil Nabi Saw menunjuk pada dada baginda, (dan mengucapkan kalimat itu) tiga kali. “Cukup sudah seseorang itu dianggap buruk jika sudah merendahkan saudaranya yang muslim. Setiap muslim atas muslim yang lain, adalah haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya”. (Hadits Riwayat Imam Muslim).

Dengan semangat dari dua hadits di atas, untuk memperkokoh tali persaudaraan di antara kita, kita harus memupuk nilai-nilai kesalingan di antara kita, saling memahami, saling mengerti, saling tenggang-rasa, dan saling tolong menolong. Di hari raya lebaran ini, karena itu, kita dianjurkan untuk saling sapa, saling salam, saling senyum, saling berkirim makanan, saling bertukar rizki dan pendapatan. Jumlah sedikit dari harta yang kita nafkahkan, jika dibarengi dengan ketulusan, kelapangan, dan perkataan baik, akan menjadi akar yang kuat untuk pohon persaudaraan kita.

Saat ini, ketika tehnologi semakin canggih, komunikasi dengan seluruh penduduk dunia, baik lewat gambar, tulisan, dan suara, ada dalam genggaman tangan, wabah perpecahan, perseteruan justru sedang melanda. Kita, sesama anak bangsa, mudah mencaci, menghina, dan merendahkan. Tangan-tangan kita tanpa sadar ikut menyebarkan kalimat-kalimat kebencian tentang seseorang atau kelompok tertentu, hanya karena mereka berbeda dari kita. Berita-berita bohong, fitnah, ghibah, dan adu domba mudah sekali ditemukan dalam gadget kita. Ini semua bertentangan dengan semangat Idul Fitri yang meminta kita untuk kembali mengukuhkan keimanan dan mengokohkan persaudaraan.

Melalui momentum Idul Fitri ini, mari kita kembali cerdas menggunakan media sosial untuk komunikasi yang positif, dengan gambar-gambar yang motivatif, tulisan-tulisan yang mengajak pada kebaikan dan persaudaraan, serta suara-suara yang justru meneduhkan dan menentramkan.

اللهُ أكبر، اللهُ أكبر، اللهُ أكبر، ولله الحمد.

Hadirin Sidang Idul Fitri yang dimuliakan Allah Swt….

Sebagai kalimat akhir dari khutbah ini, saya ingin menegaskan, terutama kepada diri saya pribadi, juga kepada para hadirin sekalian, bahwa Idul Fitri hanyalah sebuah momentum, yang akan pergi dan berlalu beberapa jam kemudian. Jika kita tidak mengambil pelajaran darinya, maka ia tidak bermakna dan bisa sia-sia. Salah satu pelajaran yang mungkin bisa diambil adalah, bahwa Idul Fitri mengingatkan kita untuk kembali kepada yang fitrah dari diri kita, kepada yang asal dan yang hakikat.

Di antara yang hakikat tentang diri kita adalah tiga hal; pertama bahwa kita adalah ciptaan Allah Swt yang pasti akan kembali kepada-Nya, karena itu kita perlu mempersiapkan bekal mudik kita kembali pada-Nya; kedua bahwa kita semua adalah hamba-hamba-Nya yang membutuhkan ibadah kepada-Nya; ketiga karena kita semua adalah hamba, maka kita harus bersaudara satu sama lain, saling mencinta bukan saling mencela, saling berbagi bukan mendengki, saling mengajak bukan mengejek, dan saling menasehati bukan memaki.

Idul Fitri adalah momentum untuk kembali kepada yang hakikat. Sebagai anak, ingatlah hakikat bahwa kita memiliki orang tua, kembalilah kepada mereka, mintalah restu mereka, ciumlah tangan mereka, doakan  untuk kebaikan dan ampunan mereka, berbagilah rizki dengan mereka, senangkanlah hati mereka, dan tolonglah mereka semampu yang bisa kita lakukan.

Sebagai orang tua yang memiliki anak, ingatlah bahwa pada hakikatnya mereka adalah darah daging kita, yang harus kita penuhi dengan segala kasih sayang, senyumlah kepada mereka, bergemberilah bersama mereka, berikanlah mereka pendidikan yang terbaik, makanan yang terbaik, pakaian terbaik, dan rumah terbaik. Sesuai kemampuan kita. Setidaknya, perlakukanlah mereka dengan penuh kebaikan dan kasihh sayang.

Sebagai seorang suami atau seorang istri, ingatlah bahwa hakikat mereka adalah pasangan dan mitra hidup kita. Istri bukan pembantu, suami juga bukan majikan. Atau sebaliknya. Tetapi satu sama lain mitra untuk mengarungi kehidupan menuju keluarga bahagia yang penuh kasih sayang, atau sakinah, mawaddah wa rahmah. Dalam bahasa al-Qur’an, suami dan istri itu ibarat pakain bagi yang lain, saling menghangatkan ketika dingin menghunjam, saling meneduhkan ketika panas membara, saling menutupi kesalahan, dan melengkapi kekurangan.

Tentu saja, masih banyak detail hakikat yang lain, seperti bahwa kita juga memiliki keluarga besar tidak sekedar orang tua, anak, dan pasangan. Kita juga memiliki tetangga, sahabat, teman, dan juga masyarakat. Kita juga memiliki komunitas di tempat kerja masing-masing. Ini semua adalah sarana untuk beribadah sosial, mengukuhkan keimanan dan mengokohkan persaudaraan.

Ingatlah bahwa ladang ibadah dalam Islam itu ada dua, ibadah ritual, seperti dzikir, shalat, dan puasa, dan ibadah sosial seperti perilaku baik kepada keluarga, tetangga, dan masyarakat luas. Kedua jenis ibadah ini penting dan tidak bisa ditinggalkan yang satu untuk yang lain. Idul Fitri mengingatkan kita bahwa kedua jenis ibadah inilah yang akan mengukuhkan keimanan kitan dan mengokohkan persaudaraan kita.

Semoga Allah Swt menerima seluruh amal ibadah kita, selama Bulan Ramadan, baik yang ritual, puasa kita, shalat kita, tarawih kita, zakat dan sedekah kita, tmaupun yang sosial, yaitu segala perilaku baik kita kepada orang lain. Amin ya rabbal alamin.

نفعني وإياكم لما فيه من الآيات والذكر الحكيم. أعوذ بالله من الشيطان الرجيم: ((مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ)). أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فيا فوز المستغفرين، فاسغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah Kedua:

اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ، اَللهُ اَكْبَرُ.

اَللهُ اَكْبَرُ كَبِيْرًا، وَالْحَمْدُ ِللهِ كَثِيْرًا، وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَّاَصِيْلاً. الحمد لله حمدا كثيرا كما أمر. أشهد أن لا إله اله الله وحده لا شريك له. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. المبعوث رحمة للعالمين. اللهم صل على سيدنا محمد وعلى أله وصحبه وسلم ورضي الله عن كل الصحابة وتابعيهم بإحسان إلى يوم الدين.

أيها المسلمون الكرام، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فاتقوه حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون، واعملوا صالحا يوف الله لكم بأحسن ما كنتم تعلمون. قال الله تعالى في القرآن العظيم: ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا))، الأحزاب، 70-71.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. أللهم صل على سيدنا محمد وآله وصحبه وسلم، وخاصة خديجة وأبو بكر وعلي وعثمان وعمر وأم سلمة وعائشة، وغيرهم من الصحابة أجمعين، والتابعين وتابعيهم بإحسان إلى يوم الدين.

Saya akan berdoa, mohon diresapi dan di-amin-kan agar didengar dan dikabulkan Allah Swt.

Ya Allah, kami adalah makhluk ciptaan-Mu, kami adalah hamba-hamba-Mu, kuatkanlah iman kami, terimalah amal-amal kami, ampunilah dosa-dosa kami, sempurnakanlah ibadah kami, cukupkanlah rizki kami, sehatkanlah tubuh kami, dan bahagiakanlah keluarga kami.

Ya Allah, amal ibadah kami mungkin baru sedikit, tolong terimalah yang sedikit itu dari kami. Jika Engkau tidak menerimanya, maka akan sia-sialah kami ini. Ya Allah, dosa-dosa kami jadi banyak sekali, siang malam kami sering lupa dan salah, tolong ampunilah kami, jika tidak Engkau yang mengampuni lalu kepada siapa kami akan berharap.

Ya Allah ya Tuhan kami, di antara kami ada yang sakit, maka sembuhkanlah ia, di antara kami ada yang sedang dalam kesulitan, maka bukalah jalan baginya, ada yang memiliki hutang, maka mudahkanlah rizkinya agar bisa membayar hutang-hutangnya, ada yang sedang mencari pekerjaan, maka lapangkanlah jalan baginya, di antara kami juga ada yang sedang menempuh pendidikan atau mencari pendidikan yang lebih tinggi, maka berikanlah kekuatan padanya agar memperoleh yang terbaik.

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات، ووفق ولات أمور المسلمين لما فيه الرشاد والخير والرفاهية للعباد. واجعل بلدنا هذا إندونيسيا وسائر بلاد المسلمين بلاد خير وأمان وسعة ورخاء، وسلام دائم إلى يوم الدين.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ. وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

Faqihuddin Abdul Kodir
Masjid Mu’amalah
Klayan Cirebon
Minggu, 1 Syawal, 1438 H
25 Juni 2017

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.