sumber: islam-science.net

Tepat pada tahun 611 M, sebelas tahun sebelum hijrah, ketika Nabi Saw berusia 40 tahun wahyu Islam pertama turun melalui malaikat Jibril as di gua Hira Mekah, sekarang masuk wilayah Saudi Arabia.

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu. Yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan pena (agar bisa menulis dan membaca). Yang mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (al-‘Alaq, 96: 1-5).

Ayat ini turun kepada Nabi Muhammad Saw seorang laki-laki. Secara literal, ayat berbicara menggunakan struktur bahasa laki-laki yang dipakai masyarakat Arab, bukan struktur kalimat perempuan. Yaitu kalimat iqra’ bukan iqra’ī. Tetapi Nabi Saw paham bahwa wahyu ini bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk umat manusia. Karena itu, orang yang pertama kali diperdengarkan Nabi Saw tentang wahyu ini adalah perempuan. Yaitu Khadijah binti Khuwailid ra. Istri baginda Nabi Saw. Artinya, perintah “membaca” tidak hanya untuk Nabi Saw, tetapi juga untuk umatnya. Tidak hanya untuk laki-laki tetapi juga untuk perempuan. Jika laki-laki dituntut, dengan ayat ini, untuk membaca ayat-ayat Allah Swt, baik yang tertulis dalam wahyu maupun yang tidak tertulis yang ada di hamparan alam semesta, maka seharusnya juga perempuan dituntut hal serupa.

Khadijah adalah perempuan pertama yang menerima berita kewahyuan Nabi Saw. Ia tidak saja beriman, tetapi menjadi pendukung utama misi kenabian ini. Ia teguh, yakin, mantap dengan imanya, dan setia sepenuhnya. Ia yang justru meyakinkan Nabi Saw ketika beliau ragu, menenangkan ketika galau, dan melipur ketika sedih. Ia belanjakan seluruh hartanya untuk misi ini. Seluruhnya sanpai tanpa sisa. Bulan-bulan awal kewahyuan, Nabi Saw masih bimbing dan menceritakan kebimbangan ini kepada Khadijah. “Benarkah aku Nabi”, “Tidakkah yang datang kepadaku itu sama seperti yang datang kepada para peramal itu?”, demikian kegelisahan Nabi Saw. Dengan intuisi perempuan yang teguh dan yakin, Khadijah berkata kepada Nabi Muhammad Saw:

“Tidak (wahai suamiku), berbahagialah, (kamu tidak usah khawatir), demi Allah, Dia tidak akan mencelakakan kamu sama sekali, karena kamu selalu berbuat baik dengan keluarga, selalu jujur dalam berbicara, membantu orang yang susah, menanggung orang yang papa, menghormati tamu, dan menolong segala kesulitan orang”. (Sahih Bukhari, no. Hadis: 5005).

Ungkapan ini, seperti dikisahkan Imam Bukhari, disampaikan Khadijah setelah Nabi Saw menerima wahyu pertama dan merasa khawatir dengan apa yang dialami dan diterimanya. Khadijah justru yakin dan teguh bahwa ini adalah wahyu dan kebenaran. Untuk lebih meyakinkan lagi, Khadijah menawarkan untuk pergi berkunjung menemui seorang pendeta Kristen yang berilmu, Buhaira. Khadijah yang menawarkan, mengajak, dan menemani. Dalam kasus dimana Nabi Saw sedang khawatir dan galau, maka yang membesarkan hati dan melindungi adalah justru seorang perempuan, sang istri yang sangat dihormati, dicintai, dan disegani. Bayangkan bagaimana Nabi Saw mendeskripsikan tentang siapa Khadijah ra di mata beliau.

Khadijah adalah perempuan terhormat, pengusaha sukses, kaya, mandiri, mengungkapkan rasa cintanya lebih dulu kepada Nabi Saw, melamar, menafkahi keluarga, menenangkan suami, melipur lara, menyarankan, mengajak, menemani, dan bahkan melindungi. Dia adalah subyek dari wahyu Islam: “Bacalah” dan wahyu-wahyu lain. Semua perempuan juga, sebagaimana semua laki-laki adalah subyek dari wahyu-wahyu Islam yang diturunkan. Mereka dipanggil dan diajak untuk masuk ke haribaan Islam dan mengikuti petunjuk dan ajaran-ajarannya. Perempuan bukanlah kelas kedua dalam panggilan ini. Bukan juga dipinggirkan dalam kerja-kerja pengorbanan untuk Islam. Sejak hari pertama Islam hadir, perempuan bersama dengan laki-laki menjadi subyek dari panggilan Islam dan bahu-membahu menggerakkan komunitas untuk kesuksean da’wah Islam.

Sebagaimana dikisahkan berbagai sumber sejarah kenabian, termasuk kitab-kitab Hadis, orang-orang yang dipanggil Rasulullah Saw untuk mengenal Islam ketika ayat-ayat pertama turun adalah nama-nama perempuan di samping nama-nama laki-laki. Beliau berdiri di atas bukit Shafa dan memanggil putri-putrinya, bibi dan paman-pamannya, kerabat dan teman dekatnya. Ali bin Abi Thalib ra adalah orang kedua yang masuk Islam, disusul oleh Abu Bakr ra. Abu Bakr adalah orang yang sangat aktif mengajak teman-temanya untuk masuk Islam. Utsman bin Affan ra dan Abu Ubaidah bin Jarrah masuk Islam karena diajak oleh Abu Bakr ra. Orang yang berjasa mengislamkan Umar bin Khattab ra adalah Fathimah bint al-Khattab ra adiknya sendiri. Fathimah termasuk generasi pertama yang masuk Islam tanpa sepengetahuan kakaknya. Umar saat itu masih menjadi orang yang begitu membahayakan bagi Islam dan menakutkan banyak orang Islam. Fathimah lah yang berani menghadapinya dan melunakkan hatinya. Sumayyah ibu Ammar bin Yasir adalah orang pertama yang tercatat meninggal syahid karena membela keimanannya. Dan dia adalah perempuan.

Semua ajakan dan perintah dalam al-Qur’an adalah tertuju pada laki-laki dan perempuan. Ada banyak ayat al-Qur’an yang mengajak untuk beriman, bertakwa, beramal baik, shalat, puasa, haji, zakat, bekerja, berpikir, mencari pengetahuan, melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, bersabar, bersyukur, berlaku adil, menghormati orang tua, melayani pasangan, menyayangi anak, dan melakukan aktivias sosial untuk kepentingan masyarakat, semuanya ditujukan kepada laki-laki dan perempuan. Tanpa membedakan sama sekali. Islam mengajak keduanya, memanggil keduanya, dan meminta komitmen dari keduanya. Karena itu, pahala yang dijanjikan juga, untuk keduanya, dengan prinsip ‘siapa yang berbuat dia yang dapat’ bukan atas dasar jenis kelamin sama sekali.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.