عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّهَا لَمَّا تُوُفِّىَ سَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ أَرْسَلَ أَزْوَاجُ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يَمُرُّوا بِجَنَازَتِهِ فِى الْمَسْجِدِ فَيُصَلِّينَ عَلَيْهِ فَفَعَلُوا فَوُقِفَ بِهِ عَلَى حُجَرِهِنَّ يُصَلِّينَ عَلَيْهِ. رواه مسلم في صحيحه، رقم الحديث: 2297، كتاب الجنائز، باب الصَّلاَةِ عَلَى الْجَنَازَةِ فِى الْمَسْجِدِ

 Terjemahan:

Dari Aisyah ra, berkata: Bahwa ketika Sa’d bin Abi Waqqash ra meninggal dunia, istri-istri Nabi Saw meminta agar jenazahnya ditempatkan di masjid, agar mereka bisa menshalatinya. Permintaan itu dikabulkan, jenazah didekatkan dengan kamar-kamar para istri, dan mereka menshalatinya. (Sahih Muslim, no. Hadis: 2997).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Muslim dalam Sahihnya (no. Hadis: 2296 dan 2297), Imam Malik dalam Muwatta’nya (no. Hadis: 544) dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 25594).

 Penjelasan Singkat:

Teks hadis ini seperti membalik kesadaran banyak umat Islam. Pada saat ini, masjid, shalat jama’ah, shalat jum’ah dan shalat jenazah lebih banyak diikuti oleh laki-laki. Hampir sulit menemukan perempuan yang ikut menshalati jenazah. Bisa jadi karena perempuan disibukkan oleh hal-hal lain soal akomodasi dan konsusmi dan bisa jadi juga sistem budaya tertentu tidak mendorong perempuan untuk terlibat dalam hal-hal yang dianggap sebagai wilayah laki-laki, seperti shalat jenazah ini. Ternyata pada masa Nabi Saw, para perempuan tidak hanya aktif berjam’ah dan shalat jum’ah, tetapi juga biasa terlibat untuk ikut menshalati jenazah orang-orang yang meninggal.

Jika boleh dipahami lebih luas, maka teks ini juga menginspirasi bahwa ruang-ruang kehidupan itu tidak bisa dikhususkan untuk jenis kelamin tertentu, sementara yang lain harus puas dengan ruang lain yang lebih kecil, tertutup dan sederhana. Jika kita yakin bahwa perempuan adalah manusia, maka semua ruang kehidupan ini juga harus terbuka untuk mereka. Kita tidak bisa melarang mereka hanya karena alasan mereka adalah perempuan. Sebagaimana kita juga tidak boleh melarang laki-laki.

Jika larangan itu karena faktor keamanan, maka semestinya penangaannya difokuskan pada penyediaan perlindungan yang nyata kepada semua orang (laki-laki maupun perempuan) agar mereka bisa beraktifitas dengan aman dan nyaman. Kebijakan yang melarang sebagian orang dan membiarkan sebagian yang lain adalah sesuatu yang diskriminatif dan bertentangan dengan Islam. Bisa jadi problem keamanan itu nyata terjadi dalam keadan tertentu, maka perlindungan (jikapun benar dengan pelarangan seperti pada kasus keadaan darurat) juga berlaku kepada semua orang, tidak hanya perempuan.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.