Hadis Ketigapuluh Lima

0
705

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتُبُ عَلَيْهِ فِى خُلُقٍ وَلاَ دِينٍ، وَلَكِنِّى أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِى الإِسْلاَمِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – «أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ». قَالَتْ نَعَمْ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – «اقْبَلِ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً». رواه البخاري في صحيحه، رقم الحديث: 5328، كتاب الطلاق، باب الخلع وكيف الطلاق فيه

Terjemahan:

Dari Ibn Abbas ra: bahwa Istri Tsabit bin Qays datang mengunjungi Nabi Saw. Dia berkata: “Tidak ada yang saya kecam dari agama maupun moral Tsabit, tetapi saya tidak ingin ada kekafiran dalam keislaman saya (dengan satu rumah bersama Tsabit)”. Rasulullah Saw bertanya: “Maukah kamu kembalikan kebunnya (yang diberikan sebagai maskawin)?”. “Ya, mau”, jawab sang istri. “Terimalah kebun itu dan ceraikan dia”, kata Nabi Saw kepada Tsabit sang suami. (Sahih Bukhari, no. Hadis: 5328).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahihnya (no. Hadis: 5328) dan Imam Nasa’i dalam Sunannya (no. Hadis: 3476), Imam Ibn Majah dalam Sunannya (no. Hadis: 2134 dan 2135), dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 16344).

 Penjelasan Singkat:

Teks ini memiliki semangat yang sama persis dengan teks sebelumnya mengenai hak perempuan atas dirinya. Di samping memiliki nilai ibadah, pernikahan adalah kontrak sosial antara dua pihak, laki-laki calon suami dan perempuan calon istri. Keduanya harus masuk dalam keadaan nyaman, rela, dan tanpa paksaan. Begitupun ketika dalam pernikahan itu mengalami ketidak-nyamanan, tekanan, dan kekerasan, maka kedua belah pihak memiliki hak yang sama untuk memutuskan kontrak tersebut. Jika laki-laki yang melakukannya disebut thalaq (cerai), jika perempuan melalui mekanisme khulu’ (cerai tebus).

Mekanisme penghentian ini menjadi berbeda, karena pada awal kontrak, laki-laki memberi mahar sementara perempuan menerimanya. Jadi yang menerima harta awal pernikahan ini harus mengembalikan, jika ia berinisiatif untuk menghentikan pernikahan karena ketidak-puasan darinya terhadap pasangan. Sebagai kompnesasi atas kerugian yang mungkin diakibatkan dari perceraian ini. Seperti diungkap dalam teks, ketidak-puasan ini bersifat subyektif dan bukan karena perilaku buruk dari pihak laki-laki. Jika diakibatkan perilaku buruk, seperti kekerasan dalam rumah tangga, semestinya perempuan tidak diwajibkan mengembalikan harta tersebut. Karena ia menjadi korban yang seharusnya memperoleh dukungan psikis dan kompensasi materi atas apa yang dialaminya.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.