عن عُرْوَة بْن الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَخْبَرَتْهُ قَالَتْ: كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَلاَةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ، ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلاَةَ، لاَ يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ. رواه البخاري في صحيحه، رقم الحديث: 578، كتاب مواقيت الصلاة، باب وَقْتِ الْفَجْرِ

 Terjemahan:

Dari Urwah bin Zuabir ra, bahwa Aisyah ra bercerita: “Bahwa kami para perempuan mu’min biasa hadir mengikuti Rasululah Saw shalat Subuh dengan pakaian wol kami, kami akan bergegas pulang ke rumah masing-masing setelah selesai menunaikan shalat. Karena masih pagi buta dan gelap, seseorang masih belum bisa mengenali kami”. (Sahih Bukhari, no. Hadis: 578).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahihnya (no. Hadis: 578 dan 875), Imam Muslim dalam Sahihnya (no. Hadis: 1491 dan 1495), Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. Hadis: 423), Imam Nasa’i dalam Sunannya (no. Hadis: 550 dan 551) dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 24645, 24730, 26091, dan 26751).

 Penjelasan Singkat:

Teks ini menambah catatan mengenai aktivitas perempuan yang selalu shalat berjama’ah di subuh hari. Betapa mulia para perempuan itu yang keluar beribadah justru ketika sebagian besar orang masih memilih tidur di rumah atau sibuk mengurus rumah tangga. Catatan hadis ini, dan hadis-hadis serupa seperti di atas, menunjukkan dua hal penting:

Pertama, bahwa shalat berjama’ah itu pada prinsipnya adalah baik di mata Islam bagi laki-laki dan perempuan. Untuk itu tidak bisa dikatakan bahwa berjama’ah hanyalah baik bagi laki-laki, sementara perempuan dianggap lebih baik shalat di rumah. Apalagi jika dikatakan bahwa shalat perempuan di tempat yang paling tersembunyi dianggap lebih baik agar lebih khusyu dan tidak diganggu atau mengganggu orang lain. Tidak. Manfaat shalat berjama’ah, baik dari sisi pahala, penguatan spiritual, maupun peningkapatan pengetahuan tidak boleh hanya dikhususkan bagi laki-laki. Karena secara prinsip, Islam diperuntukan bagi laki-laki dan perempuan.

Kedua, kehadiran seseorang untuk bersosialisasi dengan masyarakat, melalui shalat berjama’ah dan yang lain, adalah baik untuk perkembangannya secara psikologis dan sosial. Seringkali di tempat-tempat publik dilakukan musyawarah bersama, kesepakatan-kesepakatan, atau penyediaan layanan-layanan tertentu, bahkan pembagian-pembagian bantuan ekonomi. Mengucilkan perempuan di dalam rumah berarti menjauhkan mereka dari segala manfaat penguatan psikologi dan sosial tersebut. Ini tentu saja bertentangan dengan kemaslahatan Islam yang bersifat universal.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.