عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما، قَالَ كَانَتِ امْرَأَةٌ لِعُمَرَ تَشْهَدُ صَلاَةَ الصُّبْحِ وَالْعِشَاءِ فِى الْجَمَاعَةِ فِى الْمَسْجِدِ، فَقِيلَ لَهَا لِمَ تَخْرُجِينَ وَقَدْ تَعْلَمِينَ أَنَّ عُمَرَ يَكْرَهُ ذَلِكَ وَيَغَارُ قَالَتْ وَمَا يَمْنَعُهُ أَنْ يَنْهَانِى قَالَ يَمْنَعُهُ قَوْلُ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – «لاَ تَمْنَعُوا إِمَاءَ اللَّهِ مَسَاجِدَ اللَّهِ». رواه البخاري في صحيحه، رقم الحديث: 908، كتاب الجمعة

 Terjemahan:

Dari Ibn Umar ra, berkata: Bahwa istri Umar selalu ikut shalat Subuh dan Isya berjama’ah di masjid. Ditanyakan kepadanya: “Mengapa masih keluar rumah padahal kamu tahu suamimu Umar membenci hal ini dan cemburu?”. Ia menimpali: “Mengapa ia tidak mau melarang saya saja sekalian”. Umar tidak melarangmu karena ada pernyataan Rasulullah Saw: “Janganlah melarang perempuan yang ingin mendatangi masjid-masjid Allah”. (Sahih Bukhari, no. Hadis: 908).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahihnya (no. Hadis: 908), Imam Muslim dalam Sahihnya (no. Hadis: 1018), Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. Hadis: 565 dan 566), Ibn Majah dalam Sunannya (no. Hadis: 16), Imam Malik dalam Muwatta’nya (no. Hadis: 469) dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 4745, 9776, 10287, 22083, dan 22093).

 Penjelasan Singkat:

Teks hadis ini, sekali lagi, mencatat budaya akut masa pra-Islam yang lebih banyak mengekang perempuan dan melarang mereka dari segala aktivitas publik, termasuk ibadah di tempat-tempat publik seperti masjid. Kebiasaan ini tentu saja masih merembes dan bercokol dalam kepala banyak masyarakat, laki-laki dan perempuan. Jika hukum asal bagi aktivitas laki-laki adalah boleh, kecuali yang dilarang, maka hokum asal bagi perempuan, dalam benak banyak orang, adalah dilarang kecuali yang dibolehkan.

Ketika hal tersebut masih terjadi di kalangan umat Islam, Nabi Saw langsung memberi ultimatum: “Janganlah melarang perempuan yang mauh pergi ke masjid-masjid”. Masjid saat itu adalah satu-satunya representasi tempat pertemuan publik untuk segala urusan, baik ritual, sosial, maupun politik. Pernyataan ini penting untuk mengembalikan kesadaran umat Islam bahwa perempuan adalah manusia yang memiliki kebutuhan yang sama dengan laki-laki untuk memperoleh manfaat dari kebaikan yang bersifat publik. Jika mereka terus menerus dilarang, darimana mereka akan memperoleh kebaikan tersebut. Pernyataan Nabi Saw ini yang demikian tegas dan jelas mungkin tidak mudah diterima banyak orang, terutama laki-laki. Dari dialog di atas, orang sekelas Umar bin Khattab ra saja masih tidak suka perempuan keluar. Tetapi ia harus tunduk dengan titah Nabi Saw.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.