السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله رب العالمين، حمدا يوافي نعمه ويكافئ مزيده، والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وصحبه ومن والاه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدا عبده وحبيبه ورسوله. وبعد.

 Para sesepuh, alim ulama dan tokoh masyarakat…

Orang tua dari kedua calon mempelai…

Ibu-Ibu dan Bapak-bapak…..

Kedua calon mempelai…

Saudara-saudari….. para hadirin sekalian yang saya hormati….

Alhamdulillah, shalawat serta salam dihaturkan kepada junjungan Nabi agung Muhammad Saw. Segala puji bagi Allah Swt atas segala karunia yang diberikan kepada kita semua.

Pada kesempatan ini, hari ini, Jum’at, hari yang paling mulia dalam Islam, pada saat-saat penuh berkah dan momentum kebahagiaan, kita semua menyaksikan keinginan kuat dan tekad bulat kedua insan, adinda Ahmad Ansari dan adinda Mutiara Annisa, yang akan melangsungkan akad pernikahan yang disyariatkan Allah Swt dan disunnahkan Rasul-Nya Muhammad Saw.

Ibu-Bapak, saudara-saudari, kedua calon mempelai, para hadirin sekalian ……

Siapapun menginginkan perubahan hidup untuk lebih baik. Pernikahan adalah salah satu tahapan hidup dimana seseorang merangkai harapan untuk memperoleh pasangan yang bisa membawanya ke kondisi yang lebih tenang secara psikologis, lebih baik secara materi, lebih nyaman secara sosial, dan lebih berkualitas secara spiritual dan pengetahuan.

Bolehkah kita punya keinginan dalam menikah?

Tentu saja boleh. Dan memang setiap orang pasti memiliki keinginan dan harapan, yang kemudian menjadi niat yang harus diwujudkan melalui pernikahan. Dalam sebuah hadis, Nabi Saw menggambarkan; ada empat harapan/keinginan yang biasa digantungkan seseorang ketika menikah; paras yang cantik/ganteng, status sosial yang baik, harta yang melimpah, dan komitmen kuat pada nilai-nilai agama. Nabi Saw menyarankan agar kita menomorsatukan komitmen agama ini.

Dengan pasangan yang memiliki paras yang cantik/ganteng, seseorang berharap memperoleh pelayanan dan pelampiasan kebutuhan psikis dan biologis. Sementara status sosial agar bisa memudahkan kebutuhan sosial yang akan dihadapi keluarga ke depan. Harta tentu saja diperlukan untuk memperlancar biduk rumah tangga yang tanpanya sulit untuk bisa berlabuh. Terakhir, agama, sebagai pondasi yang memperkuat komitmen bersama agar semua nilai-nilai baik dan harapan-harapan yang indah tetap bisa menjadi kendali bersama dalam mengelola segala persoalan rumah tangga.

Dalam sebuah hadis Bukhari disebutkan:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ (رواه البخاري).

“Dari Abu Hurairah ra, Nabi Saw bersabda: “Seorang perempuan dinikahi seorang laki-laki (begitupun sebaliknya seorang laki-laki dipiliha perempuan) biasanya karena empat hal; harta (yang melimpah), status sosial (yang baik), paras yang rupawan, dan (komitmen) agama (yang tinggi). Maka pilihlah yang memiliki (komitmen) agama, agar kamu tanganmu terbebas (dari kesengsaraan hidup).” (Riwayat Bukhari, no. 5146).

Hadis ini biasanya hanya diterjemahkan untuk laki-laki yang menginginkan perempuan berharta, rupawan, berstatus, dan beragama. Padahal, ia juga berlaku bagi perempuan yang sesungguhnya memiliki keingian yang relatif sama; laki-laki yang rupawan, berharta, berstatus, dan beragama. Jika semua sifat-sifat ini terkumpul dalam satu orang, tentu saja merupakan hal yang sangat paripurna. Tetapi karena kehidupan ini penuh dengan berbagai warna dan dinamika, maka kita harus punya pilihan yang paling memungkinkan. Di sinilah Nabi Saw menyarankan agar menomorsatukan calon pasangan yang memiliki komitmen agama yang tinggi dan kokoh, sebagai bekal mengarungi kehidupan rumah tangga yang biasanya akan menemui berbagai gejolak, angin kencang, dan badai.

Mengapa agama/komitmen moral harus dinomorsatukan?

Karena paras yang cantik, body yang aduhai, dan wajah yang rupawan bisa sirna seiring dengan berjalannya waktu. Apalagi jika mengalami suatu musibah atau penyakit di kemudian hari. Siapa tahu. Status sosial bisa berubah karena keadaan sosial dan politik yang tidak menentu. Begitupun harta bisa habis dikonsumsi. Apalagi jika ada krisis atau bencana. Semua bisa hilang tanpa jejak dan harus memulai lagi dari nol. Apa yang bisa menguatkan relasi pada kondisi yang bisa gonjanng-ganjing ini? Ialah agama,, atau komitmen pada semua nilai-nilai baik. Tetapi komitmen ini tentu harus ditumbuhkan, disemai, dipupuk, dijaga, dirawat, dikembangkan, dan dirayakan bersama. Tanpa ini semua. Komitmen juga bissa pudar dan tercerai berai.

Komitmen ini bisa ditumbuhkan lebih baik jika kita menjadikan keluarga sebagai rumah dimana setiap anggotanya memandang yang lain secara setara, terhormat, dan bersedia secara penuh untuk memberikan pelayanan paripurna sebagaimana ia menginginkannya dari yang lain. Sehingga tercipta komitmen untuk saling mencintai, melengkapi, melayani, dan menolong satu sama lain. Inilah yang saya sebut sebagai cara pandang kesalingan dalam rumah tangga. Dan dengan demikian keluarga menjadi rumah tempat tumbuh kembangnya rasa dan komitmen kesalingan antar seluruh anggota di dalamnya. Komitmen ini akan lebih mudah tumbuh dan berkembang jika kedua individu dalam pasangan membiasakan ibadah ritual seperti shalat sebagai wahana refleksi dan evaluasi diri bagi keutuhan dan keberlangsungan mereka berdua.

Ibu-Bapak, saudara-saudari, kedua calon mempelai, para hadirin sekalian ……

Menikah adalah pintu pertama menuju pembentukan sebuah keluarga yang diharapkan menghadirkan kesejahteraan dan kebahagiaan. Jika bicara menikah, biasanya ingatan kita meruyak pada hal-hal pernak-pernik rumah tangga, kebahagiaan, keindahan, keruwetan, konflik, keturunan, kesepakatan bersama, nafkah, cinta kasih, dan tentu saja soal seks. Kayaknya, diantara sekian banyak ingatan soal nikah, yang paling banyak dibahas kalangan ulama/agamawan adalah soal seks.

Mengapa?

Karena seks (dengan arti hubungan intim) dalam Islam hanya diperkenankan dalam pernikahan. Di luar itu, tidak boleh. Sementara soal-soal lain yang diperoleh dari pernikahan, bisa diperoleh melalui relasi-relasi kemanusiaan yang lain; pertemanan, keluarga, asosiasi atau geng-geng. Karena itulah kita sering mendengar nasehat-nasehat mengenai kehidupuan pernikahan yang harus menjadi media atau wahana yang bisa menghindarkan kedua pasangan dari perbuatan zina yang diharamkan. Bagi orang yang sudah biasa melanglang buana soal seks tanpa harus menikah, mungkin relasi nikah dan seks menjadi tidak penting. Islam tidak demikian. Karena itu, seks penting sekali diperhatikan dalam lembaga pernikahan.

Dalam konteks inilah, Hukum Islam membicarakan nikah sebagai seks yang halal. Secara sederhana, nikah kemudian didefinisikan sebagai kesepakatan dua orang yang berbeda jenis, untuk hidup bersama. Utamanya untuk bisa berhubungan intim secara halal dan direstui Allah Swt. Definisi nikah sebagi seks adalah definisi minimal. Ibarat makan didefinisikan dengan nasi bagi orang Indonesia. Ini definisi minimal. Karena makan bisa dengan banyak hal, banyak cara, di banyak tempat dan model, bahkan bisa untuk tujuan-tujuan lain selain makan itu sendiri.

Intinya seks itu penting dan harus diperhatikan oleh pasangan yang baru menikah maupun yang sudah lama menjalani kehidupan rumah tangga. Ini perlu dicamkan. Ini juga penting untuk dikomunikasikan antar pasangan secara timbal balik, resiprokal, atau biasa saya sebut sebagai mubadalah. Apa yang diinginkan seseorang dari pasangannya mengenai seks harus disampaikan dan dia juga sebaiknya menanyakan apa yang diinginkan pasanganya. Seseorang dalam sebuah pasangan pernikahan harus bersedia melayani dan pada saat yang sama juga menerima layanan yang serupa. Jika tidak, ini bisa menjadi awal kemungkinan beralih pada yang lain. Hanya rasa kesalingan yang bisa menutup rapat kemungkinan pasangan seseorang beralih ke lain hati dan atau pasangan seks yang lain.

Tetapi menikah pada prakteknya tentu saja tidak sekedar seks. Sekalipun, sekali lagi ditegaskan, ia penting dalam pernikahan dan laksana nasi dalam tradisi makan orang Indonesia. Jika merangkum semua ayat dan hadits yang membicarakan mengenai pernikahan, mungkin bisa dikatakan bahwa nikah dalam Islam itu menyangkut soal hubungan seks, melanjutkan keturunan, media saling menolong, perwujudan cinta kasih, pembentukan keluarga sakinah mawaddah wa rahmah. Semua ini semesetinya menjadi pertimbangan ketika berbicara mengenai pernikahan, dan terutama ketika seseorang berkomitmen untuk menjadikan pernikahan sebagai pintu harapan menuju rumah sejahtera dan bahagia, atau sakinah mawaddah wa rahmah.

Ibu-Bapak, saudara-saudari, kedua calon mempelai, para hadirin sekalian ……

Kita sudah sering mendengar kalimat sakinah mawaddah wa rahmah sebagai tujuan mulia dari lembaga pernikahan. Tapi masih sedikit yang memahaminya secara baik, apalagi mempraktikkanya dalam kehidupan sehari-hari. Kalimat ini tercantum dalam ayat ar-Rum, surat ke-30, ayat ke-21. Ayat yang dimaksud adalah sebagai berikut.

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan dari tanda-tanda (keagungan)-Nya, Dia menciptakan untuk kamu pasangan kamu, dari jenis yang sama dengan kamu, agar kamu bisa memperoleh ketentraman di sisinya, dan Dia menjadikan di antara kamu (pasangan-pasangan) rasa saling cinta dan sayang. Sesungguhnya pada (semua) hal itu, ada tanda-tanda (keagungan Tuhan) bagi orang-orang yang berfikir”. (QS. Ar-Rum, 30:21).

Ayat ini cukup terkenal, terutama pada bulan ini, bulan Syawal. Kata orang, ini bulan kawin. Karena banyak orang menyelenggarakan pernikahan pada bulan ini. Ayat ini terkenal karena sering dibacakan pada resepsi pernikahan dan dikutip para penceramah saat pernikahan. Ayat ini juga sering menghiasi kartu-kartu undangan pernikahan. Karena itu sering disebut juga sebagai “Ayat Undangan”. Artinya, ayat yang menempel pada kartu undangan pernikahan. Tentu saja, semua ini sebagai harapan agar kehidupan mempelai seperti yang digambarkan ayat tersebut: tentram dan penuh cinta kasih. Sakinah, mawaddah wa rahmah.

Sakinah adalah ketentraman hati dan ketenangan psikologis. Ini penting sekali dirasakan oleh kedua pihak dalam pernikahan, suami dan istri. Untuk itu, istri harus bisa menentramkan hati suami, begitupun suami harus bisa menentramkan hati sang istri. Jika hanya salah satu yang merasakan, dan yang lain yang terus bertugas menentramkan, akan terjadi kepincangan, yang berbuat akan capai dan lelah, mentok, dan akhirnya bisa sakit hati dan bahkan bisa bubar. Untuk itu, sakinah harus dilakukan keduanya dan dirasakan keduanya. Suami kepada istri dan istri kepada suami. Inilah makna kesalingan, atau mubadalah.

Mawaddah adalah perasaan cinta yang membuat seseorang menikmati sesuatu yang dilakukan dan diberikan orang yang dicintainya. Mawaddah akan mendorong seseorang menuntut kekasih yang dicintainya melakukan sesuatu untuknya, karena ia menikmatinya, menyukai dan mencintainya. Dengan mawaddah, seseorang akan nyaman, tenang, dan senang jika berada di samping orang yang dicintainya. Ia ingin dilayani dan dipenuhi segala keinginannya oleh sang kekasih. Artinya, mawaddah adalah rasa cinta untuk memiliki dan menerima dari sang kekasih.

Rahmah adalah perasaan cinta yang membuat seseorang merasa terdorong dan bahagia ketika bisa melakukan sesuatu yang diinginkan orang yang dicintainya. Rahmah akan memotivasi seseorang melakukan segala sesuatu yang menjadi keinginan kekasih yang dicintainya. Ia akan senang dan bahagia ketika bisa berbuat sesuatu, bisa memberikan, bisa menemani, melayani, bahkan bersedia berkorban apapun untuk sang kekasih. Artinya, rahmah adalah rasa cinta untuk memberi dan melayani orang yang dicintai.

Di dalam relasi suami-istri, seseorang tidak bisa hanya memiliki salah satu saja. Mawaddah saja atau rahmah saja. Kehidupan pernikahan akan pincang, tidak seimbang, dan tidak menutup kemungkinan bahtera kan oleng dan bisa tenggelam. Sebagaimana ditegaskan al-Qur’an, kedua belah pihak dalam pasangan harus memiliki kedua rasa cinta, mawaddah dan rahmah. Cinta dan bahagia dengan memberi dan melayani. Ini rahmah. Juga senang dan bahagia karena menerima dan dilayani. Dan Ini adalah mawaddah. Inilah, sekali lagi, arti dari kesalingan dalam kehidupan rumah tangga melalui perwujudan kelimat mawaddah dan rahmah. Persisnya antara suami-istri. Ini yang disebut mubadalah.

Ibu-Bapak, saudara-saudari, kedua calon mempelai, para hadirin sekalian ……

Kita juga sering mendengar petuah-petuah bahwa nikah adalah ibadah. Padahal, tentu saja, nikah itu berbeda dan bukan shalat, puasa, atau haji. Bukan. Karena itu, nikah dianggap ibadah hanya jika dijadikan wahana oleh masing-masing pasangan untuk melakukan kebaikan bagi pasangannya, dan anggota keluarga yang lain. Setiap senyum, melayani, berbagi, memberi, membikin teh, membelikan baju, mencari nafkah, membersihkan rumah, mencuci baju, memijit, mencium, dan bahkan berhubungan intim, bisa menjadi ibadah dan berpahala. Inilah mengapa menikah kemudian disebut sebagai ibadah.

Jika yang terjadi sebaliknya, dimana seseorang justru berbuat jahat dan kekerasan pada pasangannya, tidak mau tersenyum, tidak bersedia melayani, bahkan sebaliknya hanya menyuruh, meminta, dan memaksa, maka menikah, untuk orang-orang tersebut, tentu saja bukan ibadah dan tidak akan berpahala. Ia malah akan menambah dari satu dosa ke dosa yang lain selama kehidupan pernikahannya. Mereka yang berpikir demikian harus segera berhenti dan mulai menjadikan pernikahan sebagai wahana meningkatkan ibadah, dengan memperkuat tali hubungan dengan Allah Swt melalui ibadah ritual (hablum minallah) dan tali hubungan dengan pasangan (hablum minannas) dengan melakukan yang terbaik dan hanya untuk kebaikan rumah tangga.

Anggapan “menikah sebagai ibadah” sebaiknya tidak berujung pada pensakralan lembaga pernikahan. Dengan pensakralan “lembaga pernikahan” ini, banyak orang kemudian tidak siap menghadapi kenyataan ketika kehidupan perkawinan ternyata tidak menghadirkan keindahan. Bahkan tidak sedikit yang menjadi korban kekerasan, justru ketika ia hidup dalam bahtera perkawinan. Mereka tidak mau mengantisipasi agar dalam perkawinannya tidak terjatuh sebagai korban kekerasan. Bentuk ketidak-siapan lain, adalah penolakan terhadap kasus kekerasan rumah tangga untuk dibawa dilaporkan ke pihak kepolisian. Penolakan ini tidak hanya berangkat dari kekhawatiran terhadap terbukanya aib keluarga, tetapi juga ketakutan terhadap merosotnya citra perkawinan di mata masyarakat.

Pensakralan terhadap perkawinan, mungkin awalnya dimaksudkan agar semua orang berhati-hati dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Tidak mudah patah semangat dan tidak mudah mengajukan gugatan cerai. Tetapi pada prakteknya pensakralan justru mempersulit banyak orang untuk menemukan makna keindahan dalam perkawinan. Pensakralan juga mengungkung dan mempersulit orang untuk keluar dari prahara perkawinan, ketika prahara itu benar-benar sudah terjadi. Banyak orang, terutama perempuan hanya dikonstruksikan untuk menunaikan kewajiban dalam perkawinan, daripada untuk memperoleh hak-hak yang harus dinikmatinya. Ini salah satu bentuk pensakralan yang tidak berimbang, tidak timbal balik, atau tidak mubadalah.

Menikah sebagai ibadah dimaksudkan sebagai peringatan bahwa relasi ini harus dipertahankan secara kokoh. Dalam sebuah ayat al-Qur’an, Allah menyebut pernikahan sebagai janji kokoh (mitsaqan ghalizhan) (an-Nisa, 4: 20-21). Allah menggunakan istilah ini hanya tiga kali saja. Dua lainnya terkait dengan janji antara Allah dan para Rasul-Nya (al-Ahzab, 33:7)), janji antara Rasul Musa as dengan umatnya (an-Nisa, 4:154). Hal ini mengisyaratkan bahwa al-Qur’an memandang pernikahan sebagai sebuah janji kuat yang tidak boleh dipermainkan oleh siapa pun. Sebagaimana ebagaimana kuatnya perjanjian antara Rasul Musa as dengan kaumnya, bahkan sekuat janji yang diambil Allah Swt dari para Rasul.

Ungkapan “janji kokoh” ini serupa maksudnya dengan dengan ungkapan Nabi Saw terhadap perceraian sebagai “sesuatu yang paling dibenci Allah Swt”. Ini sebagai bentuk peringatan agar tidak mudah menyelesaikan persoalan rumah tangga dengan perceraian.

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبْغَضُ الْحَلَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى الطَّلَاقُ

Dari Ibnu Umar dari Nabi Saw beliau bersabda: hal halal yang paling dibenci Allah adalah perceraian” (HR Abu Daud, 2180).

Baik ayat maupun hadis di atas, sesunguhnya, dimaksudkan untuk mendorong umat Islam, baik dalam skala individu, keluarga, komunitas, maupun negara, agar berpikir keras bagaimana menciptakan sebuah sistem perkawinan yang sehat dan keluarga yang kokoh yang terus bisa dijaga untuk kemaslahatan semua anggota keluarga dan masyarakat. Kemaslahatan pernikahan ini mesti meliputi dari masa pra-pernikahan, masa pernikahan, bahkan masa ketika perkawinan terpaksa berakhir, baik karena kematian maupun karena perceraian. Dalam semua fase-fase ini, Islam hanya berpesan ajaran kebaikan. Kebaikan sebelum, pada saat, bahkan jika harus berpisah. Fa imsakun bi ma’ruf aw tasrihun bi ihsan, kata al-Qur’an. Dalam pernikahan, berkumpullah dalam kebaikan, dan jika berpisah juga jangan lupa berpegang pada nilai-nilai kebaikan pula.

Dengan menyebut pernikahan sebagai ibadah, sebagai janji yang kokoh, sebagai amanah dari Allah Swt, sesungguhnya komitmen dua orang insan yang menikah ini harus dipertanggung-jawabkan kepada manusia, yaitu pasangan, keluarga, masyarakat dan negara, juga pertanggun-jawaban di hadapan Allah Swt. Orang yang mempermaikan pernikahan tidak hanya mempermainkan istri/suami atau anak-anak, tetapi juga mempermainkan amanah dan aturan Allah Swt.

Ibu-Bapak, saudara-saudari, para hadirin sekalian ……

Menikah, disamping sebagai ibadah, juga seringkali disosialisasikan sebagai sunnah Nabi Saw. Ada sebuah teks yang menyatakan bahwa dengan menikah seseorang sudah dianggap separoh beragama, tinggal meraih separoh yang lain. Dari Anas ra, dikatakan bahwa Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa yang menikah, maka ia telah menguasai separoh agamanya, maka hendaknya bertakwa pada separoh yang lain”. Redaksi hadits ini diriwayatkan Ibn al-Jawzi, tetapi dia sendiri menilainya lemah. Dalam redaksi lain, yang diriwayatkan Imam al-Hakim, dari Anas ra, berkata: Bahwa Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa yang dianugerahi isteri yang shalihah, maka sesungguhnya ia telah dibantu dalam separoh urusan agama, maka bertakwalah pada separoh yang lain”. (Riwayat Ibn al-Jawzi, lihat: Kasyf al-Khafa, II/239, no. Hadits: 2432).

Dalam catatan komentar Ibn Hajar al-‘Asqallani (w. 852H), teks-teks hadits seperti ini sebenarnya lemah. Karena itu, hanya bisa dipahami substansinya saja, tidak pada kebenaran detail literalnya. Substansinya adalah mengenai motivasi dan anjuran menikah. Anjuran ini ada dalam berbagai riwayat hadits (Fath al-Bari, X/139). Di antaranya hadis berikut ini:

Dari Anas bin Malik ra, berkata: “Ada tiga orang mendatangi keluarga Nabi Saw, mereka menanyakan tentang ibadah yang dilakukan Nabi. Ketika dikabari, mereka merasa sangat jauh dari apa yang dilakukan Nabi Saw. Mereka berkata: “Kami jauh sekali dari apa yang dilakukan Nabi Saw, padahal baginda sudah diampuni dari segala dosa”. Satu orang dari mereka berkata: “Kalau begitu, saya sembahyang sepanjang malam selamanya”. Yang lain berkata: “Saya akan berpuasa setahun penuh, selamanya”. Yang satu berkata: “Saya akan menjauhi perempuan dan tidak akan menikah”. Kemudian datang Rasulullah Saw dan berkata: “Kamu yang berkata ini dan itu?. Demi Allah, akulah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa di antara kamu, tetapi aku tetap kadang berpuasa dan kadang tidak berpuasa, ada waktu untuk sembahyang dan ada waktu untuk tidur istirahat, dan aku juga mengawini perempuan. Barangsiapa yang enggan dengan sunnahku, maka ia tidak masuk dalam golongan ummatku”. (Riwayat Bukhari, kitab an-Nikah, no. Hadits: 5063).

Dalam teks hadits ini, perkawinan tidak menjadi satu-satunya yang disebut sebagai sunnah. Tetapi juga tidur-bangun dan makan-berpuasa, serta tentu menikah. Ibn Hajar al-‘Asqallani dalam komentarnya terhadap teks hadits ini menyatakan bahwa yang dimaksud ‘sunnah’ adalah jalan yang biasa dilakukan Nabi Saw. Katanya, pernyataan Nabi Saw ‘tidak termasuk golonganku’ bagi yang enggan menikah, tidak serta merta mengeluarkan seseorang dari agama Islam hanya karena ia menolak atau memilih untuk tidak menikah. Jika penolakan atau pilihan itu karena alasan yang pantas diajukan. Tetapi jika penolakan itu memang berangkat dari prinsip dan keyakinan ketidak-benaran menikah, maka ia bisa dianggap keluar dari agama Islam.

Sekalipun dalam teks hadits ini menikah dianggap sebagai sunnah, tetapi dalam diskursus fiqh, menikah tidak serta menjadi pilihan satu-satunya. Bisa saja orang tidak memilih menikah, karena tidak merasa berhasrat dan lebih memilih beribadah atau menuntut ilmu. Ada banyak argumentasi yang diajukan dalam pembicaraan ini. Paling tidak adalah teks hadits yang mengaitkan pernikahan dengan kemampuan, dan pembukaan peluang bagi yang tidak mampu menikah untuk berpuasa sebagai ganti dari anjuran menikah. Ketika pernikahan dikaitkan dengan kemampuan, berarti ia tidak menjadi pilihan satu-satunya. Karena pasti ada kondisi di mana seseorang tidak merasa mampu untuk menikah, dan dia memilih untuk tidak menikah. Bahkan teks hadits Ibn Majah di atas menyebutkan secara eksplisit pilihan untuk tidak menikah itu dengan ungkapan ‘berpuasalah’.

Ada teks hadits lain yang lebih shahih: Dari Ibn Mas’ud ra berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang memiliki kemampuan, maka menikahlah, karena menikah itu bisa menundukkan mata dan menjaga kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu maka berpuasalah, karena puasa itu bisa menjadi kendali baginya”. (Riwayat Imam Bukhari, Kitab an-Nikah, no. Hadits: 5066).

Menikah dalam teks hadits ini dikaitkan dengan kemampuan seseorang. Berarti bagi orang yang tidak memiliki kemampuan, atau mungkin kesiapan, dia tidak dikenai anjuiran menikah. Dalam komentar Ibn Hajar (w. 852H) terhadap teks hadits ini, orang yang tidak mampu menikah (bersetubuh) justru disarankan untuk tidak menikah, bahkan bisa jadi menikah itu baginya menjadi makruh. Memang dalam diskursus fiqh, menikah tidak serta merta menjadi sunnah, sekalipun disebutkan dalam teks hadits di atas sebagai sesuatu yang sunnah. Menikah banyak berkaitan dengan kondisi-kondisi kesiapan mempelai dan kemampuan untuk memberikan jaminan kesejahteraan.

Menurut sebagian besar ulama fiqh, hukum menikah terkait dengan kondisi kesiapan mempelai; bisa sunnah, bisa wajib, bisa makruh dan bisa haram. Ibn Daqiq al-‘Id menjelaskan; bisa wajib ketika seseorang merasa sangat tergantung untuk menikah, yang jika tidak dilakukan ia bisa terjerumus pada perzinahan. Tetapi juga bisa haram, ketika pernikahan menjadi ajang penistaan terhadap isteri, baik dalam hal nafkah lahir maupun batin. Menjadi sunnah jika ia tidak tergantung terhadap menikah, tetapi bisa mendatangkan manfaat baginya. Jika menikah tidak mendatangkan manfaat, maka hukumnya justru menjadi makruh. (lihat: Fath al-Bari, X/138-139).

Pernyataan ulama fiqh ini menyiratkan betapa ungkapan ‘menikah adalah sunnah’ tidak bisa dipahami secara literal dan berlaku secara umum. Ungkapan ini merupakan motivasi agar setiap orang mengkondisikan pernikahan sebagai sesuatu yang bisa mendatangkan kebaikan dan manfaat. Dengan kondisi seperti ini, semua orang akan termotivasi dan terdorong untuk menikah dan memperbaiki kehidupan pernikahannya. Tetapi dalam realitas kehidupan bisa saja yang terjadi adalah yang sebaliknya, di mana pernikahan juga bisa mendatangkan kenistaan dan kekerasan. Ulama fiqh telah begitu cermat membaca teks hadits ‘menikah sunnah’ dalam koneks realitas kehidupan yang nyata. Sehingga bisa saja menjadi wajib, makruh, bahkan haram.

Menikah bisa menjadi haram, karena dalam Islam ada yang lebih prinsip dari sekedar menikah atau tidak menikah, yaitu keadilan, anti kezaliman dan kekerasan. Jika suatu perbuatan akan mengakibatkan kemudharatan, maka dapat dipastikan bahwa sesuatu itu secara prinsip dilarang dalam Islam. Karena itu, setiap perkawinan yang akan mengakibatkan kenistaan pada salah satu pihak, perempuan atau laki-laki, atau keduanya, maka harus dicegah dan diharamkan. Dengan demikian, pembicaraan ‘sunnah menikah’ sejak awal harus dikaitkan dengan prinsip-prinsip yang lebih mendasar; keadilan, kesetaraan dan anti kezaliman.

Untuk mengkondisikan agar pernikahan tidak jatuh menjadi makruh atau haram, sebaiknya diupayakan pra-kondisi dengan melihat pernikahan sebagai suatu praktek sosial dan kesepakatan dua insan. Keterlibatan dan intervensi manusia, dalam hal ini kedua mempelai, menjadi sangat penting agar mereka benar-benar tidak jatuh dalam kenistaan pernikahan. Keterlibatan untuk merumuskan hak dan kewajiban kedua mempelai, mengkondisikan, menjaga dan melestarikannya. Hal ini hanya bisa diupayakan jika kedua belah pihak menjadikan prinsip kesalingan sebagai pondasi pernikahan dan perwujudan keluarga sakinah mawadah wa rahmah.

Ibu-Bapak, saudara-saudari, para hadirin sekalian ……

Menikah dalam diskursus fiqh juga dibicarakan sebagai akad, atau kontrak dua belah pihak. Kontrak ini tentu saja menuntut syarat-syarat sebuah kesepakatan, terutama kerelaan kedua belah pihak dan tidak boleh ada unsur paksaan terhadap salah satu pihak. Kontrak ini juga memberikan kesempatan yang sama untuk memperoleh hak dan kewajiban secara setara dan berimbang, sebagai konsekuensi logis dari kontrak tersebut.

Ketika seseorang, baik laki-laki maupuan perempuan merasa dipaksa diikat dalam sebuah kontrak pernikahan, maka ia memiliki hak yang penuh untuk membatalkan akad nikah tersebut. Seperti yang dituturkan Aisyah ra, bahwa ada seorang remaja perempuan yang datang menemuinya seraya berkata: “Ayahku mengawinkanku dengan anak saudaranya, agar status sosialnya terangkat olehku, padahal aku tidak suka”. “Duduklah, sebentar lagi Rasulullah datang, nanti aku tanyakan”, jawab Aisyah. Ketika Rasulullah SAW datang, langsung diungkapkan di hadapan beliau persoalan perempuan tadi. Beliau memanggil orang tua si perempuan (sambil memberi peringatan), dan mengembalikan persoalan itu kepada si perempuan untuk memberikan keputusan. Di hadapan mereka, remaja perempuan tadi menyatakan (dengan tegas)”. [Riwayat an-Nasa’i, lihat Jami’ al-Ushûl, no. hadis: 8974, 12/142).

Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari, Malik, Abu Dawud dan an-Nasa’i, bahwa ketika seorang perempuan yang bernama Khansa binti Khidam ra merasa dipaksa dikawinkan oleh orang tuanya, Nabi mengembalikan keputusan itu kepadanya; mau diteruskan atau dibatalkan, bukan kepada orang tuanya. Bahkan dalam riwayat Abu Salamah, Nabi Saw menyatakan kepada Khansa r.a.: “Kamu yang berhak untuk menikah dengan seseorang yang kamu kehendaki” (Nashb ar-Rayah, 3/232). Khansapun pada akhirnya kawin dengan laki-laki pilihannya Abu Lubabah bin Abd al-Mundzir r.a. Dari perkawinan ini ia dikarunia anak bernama Saib bin Abu Lubabah. Hadis serupa juga diriwayatkan Sahabat Ibn Abbas r.ar. (Abu Dawud, Nikah bab 24: 2096 dan Ibn Majah, Nikah bab 12: 1875, al-Baihaqi, 7/189).

Teks-teks hadits ini menyiratkan bahwa perkawinan seharusnya tidak menjadi ajang pemaksaan, apalagi media penundukan perempuan untuk kerja-kerja yang memberatkan atau mencederainya. Perempuan harus diberikan pilihan sepenuhnya untuk memasuki atau tidak memasuki bahtera perkawinannya, pilihan pasangannya dan kesepakatan-kesepakatan yang memungkinkan dirinya bisa merasa aman, sejahtera dan bahagia. Begitupun hal yang sama laki-laki. Ia memiliki hak untuk memilih pasangan dan tidak beleh ada pemaksaan sama sekali. Pernikahan juga tidak boleh menjadi pamaksaan terhadap laki-laki untuk melakukan hal-hal yang tidak disukainya, baik oleh perempuan maupuan keluarga dari pihak laki-laki maupun perempuan.

Dus, menikah merupakan hak seseorang baik perempuan maupun laki-laki. Menikah bukan merupakan tuntutan kewajiban, apalagi menjadi media penundukan dan keta’atan. Karena merupakan hak, maka setiap orang harus diberikan pilihan yang secara sadar bisa menentukan pasangan hidup yang bisa menjamin kebaikan dan tidak mendatangkan kenistaan bagi dirinya. Setiap orang menginginkan kehidupan perkawinan yang membahagiakan. Karena itu segala sistem sosial yang terkait dengan perkawinan, harus dikondisikan untuk mencapai harapan kebahagiaan tersebut. Jika sistem atau nilai sosial yang lama dirasa tidak lagi memberi jaminan kebahagiaan, atau setidaknya membiarkan seseorang terjerumus dalam kenistaan perkawinan, maka tanpa ragu lagi harus dirubah demi mewujudkan cita-cita kebahagiaan perkawinan.

Persis seperti yang digambarkan al-Qur’an sebagai tujuan institusi perkawinan, yaitu untuk membentuk kehidupan yang penuh dengan cinta kasih dan kedamaian (sakinah, mawadah wa rahmah). Setiap orang, baik perempuan maupun laki-laki memiliki hak yang penuh agar benar-benar bisa menemui harapan cinta kasih dan kedamaian dalam perkawinan. Hal ini hanya bisa didapatkan ketika perkawinan diposisikan sebagai kontrak kesepakatan yang secara setara antara laki-laki dan perempuan, dan tidak dijadikan sebagai media penundukan yang membutakan, apalagi penistaan. Laki-laki terhadap perempuan, atau sebaliknya perempuan terhadap laki-laki. Mertua terhadap menantu, atau sebaliknya menantu terhadap mertua.

Ibu-Bapak, saudara-saudari, kedua calon mempelai, para hadirin sekalian ……

Sebagai penutup, semua hal yang disampaikan di atas muaranya adalah bahwa pernikahan merupakan pertemuan dua pihak untuk hidup bersama atau berpasangan. Pondasi utama dalam hidup berpasangan adalah adanya kesetaraan dan kesalingan dua belah pihak untuk membangun keluarga secara bersama-sama, saling menolong, saling melengkapi, saling melayani, dan saling melengkapi. Untuk membangun pondasi ini, ada empat hal yang sudah digariskan al-Qur’an:

Pertama, relasi pernikahan dalam al-Qur’an disebut sebagai ikatan pasangan (zawâj), yang satu adalah pasangan yang setara (zawj) bagi yang lain (zawj juga). Yang satu merupakan pakain yang lain, suami terhadap isteri dan isteri bagi suami (hunna libâsun lakum, wa antum libâsun lahunn) (QS, al-Baqarah, 2: 187).

Kedua, ikatan pasangan ini dinyatakan al-Qur’an sebagai suatu perjanjian yang kokoh (mîtsâqan ghalîzhan) (QS, An-Nisa, 4: 21) untuk memperkuat seluruh sendi-sendi kehidupan rumah tangga. Sehingga harus dijaga bersama-sama, satu pihak tidak bisa diminta untuk menyangga sendirian sementara pihak lainnya dibiarkan melemahkannya.

Karena itu, ketiga, perjanjian kokoh itu harus dibangun atas dasar kerelaan kedua belah pihak dalam kontrak perkawinan [tarâdlin] (QS. Al-Baqarah, 2: 232-233), dengan tujuan dan komitmen untuk membangun kehidupan yang tentram [as-sakînah] dan penuh cinta kasih [al-mawaddah wa ar-rahmah] (QS. Ar-Rum, 30:21). Komitmen ini harus dirawat dan dijaga bersama. Begitupun hasilnya harus dirasakan dan dialami bersama.

Keempat, semua hal itu akan mudah diwujudkan, jika kedua belah pihak memiliki rasa kesalingan, untuk memperlakukan pasangan secara baik [mu’âsyarah bil ma’rûf] (QS. An-Nisa, 4:19), dan jika mengalami persoalan, penyelesaiannya melalui rembug antar sesama [musyâwarah] dengan baik (QS. Al-Baqarah, 2:233). Tidak mendahulukan kemarahan apalagi kekerasan.

Untuk memperdalam pemaknaan prinsip-prinsip al-Qur’an ini, di bawah ini ayat-ayat yang dimaksud:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

Dihalalkan bagi kamu sekalian pada malam hari (bulan) puasa, berhubungan intim dengan isteri-isteri. Mereka adalah pakain bagi kamu sekalian, dan kamu juga pakain bagi mereka”. (QS. Al-Baqarah, 2: 187).

وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا. وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا

“Bagaimana kamu (tega) mengambilnya (harta isteri dari mahar), padahal di antara kamu sudah berhubungan intim, dan mereka (isteri-isteri) telah menerimanya (mahar) dari kamu sekalian melalui perjanjian (pernikahan) yang kokoh”. (QS. An-Nisa, 4: 21).

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلَا تَعْضُلُوهُنَّ أَنْ يَنْكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْا بَيْنَهُمْ بِالْمَعْرُوفِ ذَلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَنْ كَانَ مِنْكُمْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكُمْ أَزْكَى لَكُمْ وَأَطْهَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Dan apabila kamu semua menceraikan isteri-isteri kamu, maka janganlah kamu halangi mereka untuk menikahi (orang-orang yang akan menjadi) suami-suami mereka, apabila diantara mereka ada kerelaan dengan (komitmen untuk) kebaikan. Yang demikian itu adalah nasehat bagi orang dari kamu sekalian, yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih murni bagi kamu dan lebih suci. Dan Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu sekalian tidak mengetahui”. (QS. Al-Baqarah, 2: 232).

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَحِلُّ لَكُمْ أَنْ تَرِثُوا النِّسَاءَ كَرْهًا وَلَا تَعْضُلُوهُنَّ لِتَذْهَبُوا بِبَعْضِ مَا آتَيْتُمُوهُنَّ إِلَّا أَنْ يَأْتِينَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ…

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mewarisi (dengan menikahi) perempuan dengan cara paksa. Dan janganlah kamu halangi mereka (untuk menikah dengan yang lain), dengan tujuan agar kamu bisa membawa pergi sebagian dari (mahar atau nafakah) yang kamu berikan kepada mereka, kecuali jika mereka melakukan kekejian yang jelas. Dan saling bergaulah dengan mereka dengan kebaikan…”. (QS. An-Nisa, 4: 19).

….. فَإِنْ أَرَادَا فِصَالًا عَنْ تَرَاضٍ مِنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا….

……. Maka apabila mereka (ayah dan ibu, atau suami dan isteri) menghendaki (untuk) menyapih (anak mereka), dengan kerelaan mereka kedua-duanya, dan atas dasar musyawarah, maka tidak ada dosa bagi mereka berdua (melakukan hal itu)…..” (QS. al-Baqarah, 2: 233).

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

“Dan dari tanda-tanda (keagungan)-Nya, Dia menciptakan untuk kamu pasangan kamu, dari jenis yang sama dengan kamu, agar kamu bisa memperoleh ketentraman di sisinya, dan Dia menjadikan di antara kamu (pasangan-pasangan) rasa saling cinta dan sayang. Sesungguhnya pada (semua) hal itu, ada tanda-tanda (keagungan Tuhan) bagi orang-orang yang berfikir”. (QS. Ar-Rum, 30:21).

Ayat-ayat ini menginspirasikan bahwa perkawinan yang direstui al-Qur’an adalah perkawinan yang kokoh, yang memenuhi kebutuhan pasangan masing-masing, saling melengkapi, saling berbagi dan saling memperlakukan dengan baik, dengan upaya keras dari masing-masing untuk menciptakan kasih sayang, ketentraman dan kebahagiaan, baik antar mereka sebagai pasangan, maupun untuk anak-anak dan keluarga.

Jika nilai dan prinsip kesalingan terinternalisasi dalam diri setiap pasangan, maka ia akan menjadi harta terindah dalam keluarga. Dalam suatu hadis disebutkan bahwa harta terindah bagi seorang suami adalah istri yang salihah. Dan tentu saja, bagi seorang istri, harta terindahnya adalah suami yang salih. Siapakah mereka? Dialah yang menyenangkan pasanganya, melayani, dan menjaga diri ketika berada jauh darinya serta memelihara harta bersama. Kita semua berharap bisa memiliki pasangan yang salih. Istri bagi suaminya, dan suami bagi istrinya. Dengan suami dan istri yang salih ini, maka harapan untuk membangun rumah tangga yang penuh cinta kasih (mawaddah wa rahmah) akan mudah tercapai. Mimpi untuk memiliki rumah yang surgawi, atau biasa disebut sebagai baiti jannati, juga bisa terwujud.

Ibu-Bapak, saudara-saudari sekalian

Terutama kedua calon mempelai ……

Terakhir, semoga apa yang saya sampaikan bisa menjado kado terindah bagi kedua calon mempelai, dalam mengarungi kehidupan rumah tangga ke depan. Semoga ananda Mutiara Annisa benar-benar menjadi seperti yang terukir dalam namanya. Menjadi perempuan mutiara bagi sang suami. Dan semoga ananda Ahmad Ansari juga benar-benar menjadi seperti yang terukir dalam namanya. Menjadi orang terpuji (Ahmad) dan selalu menjadi penolong (Ansari) bagi sang istri.

Sungguh percuma, jika ananda Ahmad menjadi orang terpuji di luar rumah tetapi tidak melakukan hal-hal terpuji di dalam rumah. Percuma juga jika bisa menolong banyak orang di luar rumah tetapi justru tidak melakukannya di dalam rumah. Hal yang sama juga adinda Annisa Mutiara. Akan percuma jika tidak mampu menjadi mutiara yang terindah di dalam rumah, terutama bagi sang suami. Saya yakin keduanya tidak demikian. Justru hari inilah, kami dipersaksikan, bahwa ananda Annisa akan menjadi perempuan bak mutiara bagi ananda Ahmad Ansari. Juga ananda Ahmad Ansari akan selalu menjadi dewa penolong bagi ananda Annisa Mutiara.

Dalam prinsip kesalingan dan timbal balik, adinda Mutiara juga dituntut untuk menjadi terpuji dan menjadi dewi penolong menolong, terutama di dalam rumah. Begitupun adinda Ansari dituntut untuk menjadi laki-laki bak mutiara yang terindah di dalam rumah, bagi sang istri, anak-anak yang akan dilahirkan, dan seluruh anggota keluarga.

Demikianlah yang dapat saya sampaikan semoga bisa memberi manfaat dalam kehidupan kedua calon mempelai. Doa kami menyertai kebahagiaan kalian semua, hari ini, esok, dan hari-hari ke depan selamanya. Semoga. Amin.

بارك الله لكما وبارك عليكما واجمع بينكما في خير وبركة وسكينة ومودة ورحمة، وصلى الله على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.