عن بهز بن حكيم عن أبيه عن جده قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نِسَاؤُنَا مَا نَأْتِى مِنْهُنَّ وَمَا نَذَرُ قَالَ «ائْتِ حَرْثَكَ أَنَّى شِئْتَ وَأَطْعِمْهَا إِذَا طَعِمْتَ وَاكْسُهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ وَلاَ تُقَبِّحِ الْوَجْهَ وَلاَ تَضْرِبْ». رواه أبو داود في سننه، رقم الحديث: 2145، كتاب النكاح، باب فِى حَقِّ الْمَرْأَةِ عَلَى زَوْجِهَا.

Terjemahan:

Dari Bahz bin Hakim, dari ayah, dari kakek. Sang kakek berkata: Saya pernah bertanya kepada Rasulullah Saw: “Wahai Rasul, terkait istri-istri kami, apa yang wajib kami lakukan dan yang harus kami tinggalkan?”. Rasul menjawab: “Kamu boleh bersenggema denganya sesuai selera kamu, berilah ia makan sama yang kamu makan, berilah ia pakaian ketika kamu bisa berpakaian, dan janganlah mengolok-olok mukanya dan jangan memukul”. (Sunan Abu Dawud, no. Hadis: 2145).

Sumber Hadis:

Hadis ini ini diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. Hadis: 2145) dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 20347 dan 20362).

 Penjelasan Singkat:

Hadis Bahz ban Hakim ra adalah teks lain yang menegaskan bahwa suami yang baik, salih, dan bertanggung jawab adalah yang tidak melecehkan, tidak menistakan, dan tidak memukul istrinya. Ia berhak berhubungan intim dengan istri sesuai seleranya, selain yang diharamkan yaitu hubungan seks melalui anus dan pada saat menstruasi. Hak ini kemudian diimbangi dengan kewajiban untuk memenuhi kebutuhan pangangdan sandang istri, serta komitmen untuk tidak berperilaku buruk, tidak merendahkan, dan tentu saja tidak memukul.

Deskripsi al-Qur’an bahwa suami dan istri itu laksana pakaian yang satu kepada yang lain (QS. 2: 187) adalah penegasan mengenai kesalingan antara keduanya dalam segala sisi kehidupan berumah-tangga. Terutama untuk saling menyinta, menyayangi, melayani, melindungi, menyenangkan dan membahagiakan. Satu kepada yang lain. Dengan prinsip ini, teks hadits di atas bisa dipahami secara timbal balik (mubādalah). Yaitu, bahwa istripun berhak memperoleh layanan seks sesuai seleranya dari sang suami. Ia juga bisa ikut berkontribusi untuk kecukupan sandang dan pangan suami dan keluarga jika mampu. Ia juga diwajibkan untuk berkomitmen tidak melakukan pelecehan, penghinaan, dan segala tindak kekerasan.

Komitmen kesalingan ini menjadi pondasi untuk memenuhi cita-cita al-Qur’an mengenai kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Atau rumah tangga bahagia, sejahtera, dan penuh cinta kasih. Dalam ungakpan lain sering disebut sebagai rumah tangga surgawi (baiti jannati). Rumag tangga ini adalah dambaan setiap pasangan. Karena itu perlu pondasi yang kokoh, yaitu kesalingan. Semoga.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.