عَنْ لَقِيطِ بْنِ صَبْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: كُنْتُ وَافِدَ بَنِى الْمُنْتَفِقِ – أَوْ فِى وَفْدِ بَنِى الْمُنْتَفِقِ – إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى امْرَأَةً وَإِنَّ فِى لِسَانِهَا شَيْئًا يَعْنِى الْبَذَاءَ. قَالَ «فَطَلِّقْهَا إِذًا». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لَهَا صُحْبَةً وَلِى مِنْهَا وَلَدٌ. قَالَ «فَمُرْهَا – يَقُولُ عِظْهَا – فَإِنْ يَكُ فِيهَا خَيْرٌ فَسَتَفْعَلُ وَلاَ تَضْرِبْ ظَعِينَتَكَ كَضَرْبِكَ أُمَيَّتَكَ». رواه أبو داود في سننه، رقم الحديث: 142، كتاب الطهارة، باب فِى الاِسْتِنْثَارِ.

 Terjemahan:

Dari Laqith bin Shabrah ra: Saya pernah datang sebagai utusan Bani Muntafiq berkunjung ke Rasulullah. Saat itu saya bertanya: “Wahai Rasul, istri saya lidahnya sangat kasar dan menyakitkan”. “Ya ceraikan saja”, saran Nabi Saw. “Wahai Rasul, saya masih mencintainya dan ia juga memberi saya anak”, jawab saya. “Kalau begitu, nasihatilah dia, kalau dia baik, ia pasti akan berubah, tetapi janganlah memukulnya sebagaimana kamu memukul hamba sahaya”. (Sunan Abu Dawud, no. Hadis: 142).

Sumber Hadis:

Hadis ini ini diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. Hadis: 142) dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 16646).

 Penjelasan Singkat:

Teks hadis ini merekam konsultasi seorang sahabat, Laqith bin Sabrah ra, mengenai perilaku istirnya yang lisanya kasar dan menyakitkan. Dalam kondisi seperti inipun, Nabi Saw ternyata juga tidak mengizinkan sahabat itu untuk memukul. Ia justru disarankan untuk memberi nasihat dan mengajak pada kebaikan. Jika di hati perempuan itu ada kebaikan, maka ia pasti akan mendengar dan memenuhi nasihat dan ajakan tersebut. Tetapi tentu saja perlu proses dan kesabaran. Yang jelas Nabi Saw tidak memberi rekomendasi sama sekali untuk memukul. Berpisah lebih baik daripada melakukan memukul.

Keempat hadis di atas (25-28) menegaskan bahwa Nabi Saw menolak segala bentuk kekerasan yang dilakukan suami kepada istri, atas nama mendidik, mendisiplinkan, apalagi atas nama cinta dan kasih sayang. Dalam deskripsi Nabi Saw, minimal seorang suami itu memerlukan seks dari istrinya. Seorang suami yang menggauli istri tetapi masih memukul adalah lucu dan memalukan. Begitu Nabi Saw ingin menyatakan.

Lebih prinsip lagi, tentu saja tindak kekerasan itu menyalahi prinsip kesalingan antara suami dan istri, serta mengingkari tujuan pernikahan yang digariskan al-Qur’an (sakinah, mawaddah, dan rahmah). Dengan keempat teks hadis di atas, adalah sangat lucu kalau masih ada orang yang mengatakan bahwa memukul istri itu baik untuk mendidik dan mengembalikan pada komitmen rumah tangga. Ini jauh sekali dari teladan Nabi Saw seperti ditunjukkan pada teks berikutnya.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.