Tauhid adalah inti ajaran Islam yang mengajarkan bagaimana berketuhanan, dan juga menuntun manusia bagaimana berkemanusiaan dengan benar. Tauhid secara bahasa adalah mengetahui dengan sebenar-benamya bahwa sesuatu itu satu. Secara terminologis, tauhid adalah penghambaan diri hanya kepada Allah Swt dengan menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh rasa tawadhu, cinta, harap, dan takut hanya kepada-Nya.

Banyak sekali ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang tauhid. Di antara sekian banyak ayat tentang tauhid, Surah Al-Ikhlas bisa disebut sebagai inti ajaran tauhid. Surah ini mengandung beberapa ajaran penting tentang tauhid, yakni Allah adalah Esa, Allah adalah tempat bergantung, Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan, serta tidak ada satu pun makhluk di alam semesta ini yang menyamai Allah.

Implikasi Sosial

Keyakinan bahwa tidak ada manusia yang setara dengan Allah dan tidak ada anak dan titisan Tuhan pada gilirannya melahirkan pandangan kesetaraan manusia sebagai sesama, makhluk Allah. Tidak ada manusia nomor satu dan manusia nomor dua. Manusia pada hakikatnya sama. Tidak ada manusia yang boleh dipertuhankan dalam arti dijadikan tujuan hidup dan tempat bergantung, ditakuti, disembah, dan seluruh tindakannya dianggap benar tanpa syarat. Raja bukanlah tuhan bagi rakyat, suami bukanlah tuban bagi istri, orang kaya bukanlah tuhan bagi orang miskin. Oleh karena mereka bukan tuhan, maka rakyat tidak boleh mempertuhankan rajanya dan pemimpinnya, bawahan tidak beleh mempertuhankan atasannya dan istri tidak boleh mempertuhankan suaminya. Ketakutan dan ketaatan tanpa syarat kepada raja, pemimpin, atasan atau suami yang melebihi ketaatan dan ketakutan kepada Allah merupakan pengingkaran terhadap tauhid.

Pada tataran sosial, kekuatan tauhid pada diri Rasulullah Saw. membuatnya berani membela mereka yang direndahkan, teraniaya, dan terlemahkan secara struktural dan sistemik (mustadhafin), seperti kaum perempuan, budak, dan anak-anak yang diperlakukan oleh para penguasa dan pembesar masyarakat yang menutupi kezalimannya di balik nama Tuhan.

Dengah demikian, tampak bahwa tauhid tidak sekadar doktrin keagamaan yang statis. Ia adalah energi aktif yang membuat manusia mampu menempatkan Tuhan sebagai Tuhan dan manusia sebagai manusia. Penjiwaan terhadap makna tauhid. tidak saja membawa kemaslahatan dan keselamatan individual, melainkan juga melahirkan tatanan masyarakat yang bermoral, santun, manusiawi, bebas dari diskriminasi, ketidakadilan, kezaliman, rasa takut, penindasan individu atau kelompok yang lebih kuat, dan sebagainya.

Tauhid Menjamin Keadilan

Sebagai agama tauhid, Islam diturunkan oleh Zat Yang Maha adil. Oleh karena itu, keadilan merupakan salah satu ajaran Islam yang prinsipil dan mendasar. Prinsip keadilan dinyatakan secara tegas dalam banyak ayat Al-Qur’an.

Di antaranya, pertama, prinsip keadilan dalam kehidupan keluarga: berupa perintah menegakkan keadilan, kebalkan, berbuat baik kepada keluarga, (QS. Al-Nahl [ 16]: 90). Secara khusus Allah Swt menekankan pentingnya berbuat adil dalam lingkup keluarga, sebuah lembaga di mana praktik ketidakadilan terselubung sering kali terjadi dengan korban utama istri dan anak-anak perempuan.

Sebagai contoh, ketika berbicara mengenai perkawinan, Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa, monogami adalah bentuk perkawinan yang paling adil (QS Al-Nisa’ [4]: 3). Hal ini juga dikuatkan oleh ayat lain yang menyatakan bahwa suami yang beristri lebih dari satu tidak akan mungkin bisa berbuat adil (QS. Al-Nisa’ [4]: 129). Ini berarti bahwa keadilan menjadi prinsip utama dalam perkawinan dan juga dalam kehidupan keluarga.

Kedua, prinsip keadilan dalam memutuskan suatu perkara QS. Al-Nisa’ [4]: 58), menegakkan keadilan sekalipun terhadap diri sendiri, keluarga maupun orang-orang dekat QS Al-Nisa’ [4]: 135 dan QS Al-An’am [6]: 152).

Ketiga, prinsip keadilan tanpa rasa dendam. ketika harus menegakkan keadilan di hadapan orang atau kelompok yang tidak disukai (QS. Al-Ma’idah [5]: 8).

Keempat, prinsip, keadilan dalam memelihara anak-anak yatim dan mengelola harta mereka, khususnya terhadap anak-anak yatim perempuan. Al-Qur’an sama sekali tidak membenarkan praktik ketidakadilan terhadap mereka, seperti mengawini mereka tanpa memberikan hak-haknya.

Sebaliknya, Al-Qur’an dengan tegas menyatakan bahwa kehadiran Islam dengan nilai-nilai keadilan yang dibawanya telah membuat kaum mustadhafin, memiliki secercah harapan. Para budak mukmin yang dipandang sebagai setengah manusia mendapat tempat yang lebih tinggi daripada orang merdeka yang musyrik (QS. 2: 221), orang-orang miskin dan mereka yang lemah secara ekonomi dan sosial berhak menikmati harta yang dimiliki oleh orang kaya melalui zakat, infak, dan sedekah (QS. 9: 60, dan 2: 177), dan demikian pula anak-anak yatim dilindungi hartanya (QS. 6: 152; 17: 34; 4: 2, 6, dan 10).

Dalam konteks hubungan laki-laki dan perempuan, keadilan meniscayakan tidak adanya diskriminasi, tidak adanya, kecondongan kearah jenis kelamin tertentu dan pengabaian jenis kelamin yang lain. Keadilan juga memberikan bobot yang sepadan antara hak dan kewajiban di antara laki-laki dan perempuan. Keadilan tidak meletakkan perempuan pada pihak yang lebih rendah dan berada di bawah dominasi dan kekuatann laki-laki. Pada saat yang sama, keadilan juga tidak memberi kesempatan laki-laki untuk berbuat seperti penguasa yang mempunyai hak penuh atas diri perempuan. Keadilan memang tidak menafikan perbedaan antara keduanya, namun keadilan sama sekali tidak mengheadaki perbedaan itu, dijadikan alasan untuk membedabedakan. Inilah prinsip-prinsip keadilan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bisa kita baca dari ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Nabi.

Editor: Faqihuddin Abdul Kodir
BAGIKAN