Jenis Kelamin bukan untuk dibanggakan atau dinistakan

Kita tidak bisa menilai keunggulan seseorang hanya sebatas statusnya saja. Kita juga tidak bisa menilai positif atau negatif, hanya atas dasar jenis kelamin, ras atau suku

0
117

Mungkin di antara kita masih ada yang membanggakan atau menistakan jenis kelamin tertentu. Sesungguhnya seseorang terlahir berjenis kelamin perempuan atau laki-laki adalah pemberian Tuhan dan bukan merupakan pilihan masing-masing orang. Dalam istilah lain, jenis kelamin adalah kodrat atau takdir seseorang.

Karena merupakan pemberian yang tidak bisa dielakkan siapapun, maka penciptaan bukan merupakan alasan merendahkan. Bukan juga dasar untuk mengunggulkan. Dalam Islam penciptaan ini tidak dianggap kelebihan yang harus diistimewakan, yang satu terhadap yang lain. Sama juga latarbelakang suku, ras, atau keluarga. Yang satu tidak bisa membanggakan diri kepada, atau merasa rendah diri dari yang lain, atas alasan-alasan primordial ini.

Nabi Muhammad SAW dalam hal ini sangat tegas menyatakan: “Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas yang bukan Arab, atau yang bukan Arab atas orang Arab, orang yang berkulit hitam atas yang berkulit merah, atau yang berkulit merah atas mereka yang berkulit hitam”. (Hadis riwayat Imam Ahmad).

Yang menjadi nilai keunggulan dan kelebihan di hadapan Islam, adalah kiprah-kiprah positif yang dalam bahasa agama adalah ketakwaan. “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu”. (QS. Al-Hujurat, 49: 31). Penentuan ini merupakan nilai keadilan Islam tersendiri, karena dengan demikian siapapun tanpa melihat pada jenis kelamin atau ras tertentu, bisa memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi orang yang unggul dan terbaik di hadapan Islam.

Dengan prinsip keadilan ini, kita tidak bisa menilai keunggulan seseorang hanya sebatas statusnya saja. Kita juga tidak bisa menilai positif atau negatif, hanya atas dasar jenis kelamin, ras atau suku. Pada saat yang sama, kita tidak bisa memaksa seseorang, hanya dengan alasan jenis kelamin, untuk menerima peran sosial tertentu, atau menghalanginya dari status dan peran sosial yang lain. Karena perilaku seperti ini akan menghambat kesempatan setiap orang untuk bisa memainkan perannya dalam memakmurkan kehidupan di muka bumi. Ketika kita mensyukuri amanah untuk menjadi laki-laki atau perempuan, maka kita harus menerima hakikat bahwa keduanya adalah manusia yang diciptakan sebagai khalifah Allah SWT di dunia ini (QS. Al-Baqarah, 2: 30), untuk memakmurkan seisi bumi (QS. Hud, 11: 61).

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.