عن ابْن أَبِى مُلَيْكَةَ أَنَّ عَائِشَةَ رضي الله عنها زَوْجَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَتْ لاَ تَسْمَعُ شَيْئًا لاَ تَعْرِفُهُ إِلاَّ رَاجَعَتْ فِيهِ حَتَّى تَعْرِفَهُ ، وَأَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ «مَنْ حُوسِبَ عُذِّبَ». قَالَتْ عَائِشَةُ فَقُلْتُ أَوَ لَيْسَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى (فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا) قَالَتْ فَقَالَ «إِنَّمَا ذَلِكَ الْعَرْضُ، وَلَكِنْ مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ يَهْلِكْ». رواه البخاري في صحيحه، رقم الحديث: 103، كتاب العلم، باب مَنْ سَمِعَ شَيْئًا فَرَاجَعَ حَتَّى يَعْرِفَهُ.

Terjemahan:

Dari Ibn Abi Mulaikah, berkata: Bahwa Aisyah ra, istri Nabi Saw, ketika mendengar apapun yang tidak dikenalnya, akan selalu bertanya memastikan, agar ia memahaminya dengan benar. Ketika Nabi Saw bersabda: “Barangsiapa yang dihisab, sekecil apapun, ia pasti akan diazab”. Aisyah ra bertanya menegaskan: “Bukankah Allah Swt berfirman bahwa orang mukmin juga akan dihisab dengan hisab yang ringan?”. Nabi Saw menimpali: “Itu hanya perjumpaan saja, tetapi barangsiapa yang diceburkan untuk sebuah perhitungan, pasti akan binasa”. (Sahih Bukhari, no. Hadis: 103).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahihnya (no. Hadis: 103), Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. Hadis: 3095), Imam Turmudzi dalam Sunannya (no. Hadis: 3660), dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 25411, dan 25598).

 Penjelasan Singkat:

Hadis Ibn Abi Mulaikah ini merekam tradisi belajar yang baik, dimana seorang murid (dalam kisah ini adalah Aishah ra sang istri) bisa mengajukan pertanyaan kritis terhadap sang guru (yaitu Nabi Saw suami sendiri). Pernyataan-pernyataan guru masih mungkin untuk dipertanyakan bahkan dikritisi, dengan basis nilai-nilai yang sudah menjadi ajaran utama. Dalam kisah ini, Aishah mengajukan pertanyaan dengan mendasarkan pada ayat Qur’an. Lalu Nabi Saw meluruskan pernyataanya agar tidak dipahami oleh murid sebagai pertantangan dengan Qur’an.

Hadis ini bisa dijadikan inspirasi mengenai relasi suami istri yang selalu terbuka untuk bertanya, ditanya, diluruskan, atau dikritik dengan basis ajaran-ajaran prinsip atau basis komitmen bersama untuk kebikan keluarga. Suami tidak selamamya menjadi rujukan utama dan tidak selalu benar. Istri berhak bersuara untuk mengajukan keberatan atas sesuatu yang dipandangnya melenceng dari kebenaran atau komitmen kebaikan bersama. Istilah izin misalnya, jika sebagai informasi untuk kebaikan keluarga, tidak melulu istri kepada suami, tetapi juga suami kepada istri. Bukankah jika suami tidak memberi informasi soal kepergiannya misalnya, akibat buruknya juga akan dialami sang istri dan seluruh anggota keluarga yang lain?

عن ابْن عَبَّاسٍ – رضى الله عنهما – قال: قَالَ عُمَرُ وَاللَّهِ إِنْ كُنَّا فِى الْجَاهِلِيَّةِ مَا نَعُدُّ لِلنِّسَاءِ أَمْرًا، حَتَّى أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِنَّ مَا أَنْزَلَ وَقَسَمَ لَهُنَّ مَا قَسَمَ – قَالَ – فَبَيْنَا أَنَا فِى أَمْرٍ أَتَأَمَّرُهُ إِذْ قَالَتِ امْرَأَتِى لَوْ صَنَعْتَ كَذَا وَكَذَا – قَالَ – فَقُلْتُ لَهَا مَالَكِ وَلِمَا هَا هُنَا فِيمَا تَكَلُّفُكِ فِى أَمْرٍ أُرِيدُهُ. فَقَالَتْ لِى عَجَبًا لَكَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ مَا تُرِيدُ أَنْ تُرَاجَعَ أَنْتَ، وَإِنَّ ابْنَتَكَ لَتُرَاجِعُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى يَظَلَّ يَوْمَهُ غَضْبَانَ. فَقَامَ عُمَرُ فَأَخَذَ رِدَاءَهُ مَكَانَهُ حَتَّى دَخَلَ عَلَى حَفْصَةَ فَقَالَ لَهَا يَا بُنَيَّةُ إِنَّكِ لَتُرَاجِعِينَ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى يَظَلَّ يَوْمَهُ غَضْبَانَ. فَقَالَتْ حَفْصَةُ وَاللَّهِ إِنَّا لَنُرَاجِعُهُ. رواه البخاري في صحيحه، رقم الحديث: 4962، كتاب التفسير، سورة التحريم، باب: تَبْتَغِى مَرْضَاةَ أَزْوَاجِكَ

Terjemahan:

Dari Ibn Abbas ra, berkata: Bahwa Umar bin Khattab ra berkata: “Kami pada masa Jahiliyah tidak memperhitungkan perempuan sama sekali, sehingga Allah menurunkan ayat untuk mereka dan memberikan mereka hak-hak mereka. Ketika saya memiliki suatu pendapat tertentu, tiba-tiba istri saya menimpali: “cobalah berbuat yang ini atau yang itu”. Saya jawab: “Apa hakmu ikut campur pada hal-hal yang menjadi urusan saya. Ini terserah saya”. Sang istri menimplai: “Aneh kamu ini, anak Khattab, tidak mau menerima pendapat istri, padahal putrimu biasa bertukar pikiran dan mendebat bahkan sampai pernah membuat Rasul gundah seharian”. Umar langsung bergegas mengambil selendangnya dan masuk ke kamar Hafsah, sang putri dan istri Nabi Saw, berujar: “Putriku, kamu biasa mendebat Rasulullah bahkan sampai ia gundah seharian?”. Hafsah menjawab: “Demi Allah, kami semua biasa mendebatnya”. (Sahih Bukhari, no. Hadis: 4962).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahihnya (no. Hadis: 4962) dan Imam Muslim dalam Sahihnya (no. Hadis: 3765).

 Penjelasan Singkat:

Mari kita bandingkan relasi antara Umar bin Khattab ra dan istrinya ra yang terkesan hegemonik dan mengekang, dengan relasi antara Nabi Saw dan istri yang begitu terbuka dan saling berbicara satu sama lain. Kebiasaan Nabi Saw yang memberi kesempatan istri untuk ikut bersuara memberi pendapat dalam urusan-urusan yang dibicarkan di dalam rumah menginspirasi banyak perempuan untuk melakukan hal sama. Ketika mereka digugat oleh suami-suami mereka, merekap pun merujuk kepada kebiasaan istri-istri Nabi Saw yang disetujui dan direstui Nabi Saw. Contohnya adalah istri Umar terhadap Umar sang suami.

عَنِ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ رضي الله عنه تحدث عن قضية صلح الحديبية، قَالَ فَلَمَّا فَرَغَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – مِنْ قَضِيَّةِ الْكِتَابِ قَالَ لأَصْحَابِهِ «قُومُوا فَانْحَرُوا، ثُمَّ احْلِقُوا». قَالَ فَوَاللَّهِ مَا قَامَ مِنْهُمْ رَجُلٌ حَتَّى قَالَ ذَلِكَ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، فَلَمَّا لَمْ يَقُمْ مِنْهُمْ أَحَدٌ دَخَلَ عَلَى أُمِّ سَلَمَةَ، فَذَكَرَ لَهَا مَا لَقِىَ مِنَ النَّاسِ. فَقَالَتْ أُمُّ سَلَمَةَ يَا نَبِىَّ اللَّهِ، أَتُحِبُّ ذَلِكَ اخْرُجْ ثُمَّ لاَ تُكَلِّمْ أَحَدًا مِنْهُمْ كَلِمَةً حَتَّى تَنْحَرَ بُدْنَكَ، وَتَدْعُوَ حَالِقَكَ فَيَحْلِقَكَ. فَخَرَجَ فَلَمْ يُكَلِّمْ أَحَدًا مِنْهُمْ، حَتَّى فَعَلَ ذَلِكَ نَحَرَ بُدْنَهُ، وَدَعَا حَالِقَهُ فَحَلَقَهُ. فَلَمَّا رَأَوْا ذَلِكَ، قَامُوا فَنَحَرُوا، وَجَعَلَ بَعْضُهُمْ يَحْلِقُ بَعْضًا. رواه البخاري في صحيحه، رقم الحديث: 2770، كتاب الشروط، باب الشُّرُوطِ فِى الْجِهَادِ وَالْمُصَالَحَةِ مَعَ أَهْلِ الْحَرْبِ وَكِتَابَةِ الشُّرُوطِ

Terjemahan:

Dari Miswar bin Makhramah ra: Ia mengisahkan perjanjian Hudaibiyah. Ketika Rasulullah Saw selesai dari kontrak perjanjian itu (yang dianggap merugikan Umat Islam), ia berseru kepada sahabat-sahabatnya: “Bangunlah dan sembelihlah kurban-kurbanmu, lalu cukur rambut kamu”. Demi Allah, tidak ada satupun dari sahabat-sahabat Nabi Saw yang berdiri mengikuti perintah, sekalipun perintah itu diulang tiga kali. Setelah terlihat tidak ada satupun yang menunaikan perintah, Nabi Saw masuk ke kemah Umm Salamah sambil menceritakan pembangkangan ini. Umm Salamah ra berkata: “Wahai Nabi, apakah kamu ingin mereka melakukan hal itu? Kamu keluar saja dari kemah, tidak perlu berbicara sepatah kata apapun kepada siapapun, kamu mulai saja menyembelih kurbanmu dan undang tukar cukur untuk memangkas rambutmu”. Ketika para sahabat melihat sendiri Nabi melakukan semua hal itu, merekapun berdiri, menyembelih kurban dan mencukur rambut mereka satu sama lain”. (Sahih Bukhari, no. Hadis: 2770).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahihnya (no. Hadis: 2770), Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. Hadis: 2767) dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 19231).

Penjelasan Singkat:

Ini kisah lain mengenai kebiasaan istri Nabi Saw yang berbicara memberi masukan kepada suami/laki-laki/Nabi Saw, termasuk dalam urusan publik. Masukan itu diterima Nabi Saw dan dilaksanakan. Ternyata efektif. Ini terjadi pada masyarakat dimana suami enggan melibatkan istri dalam memutuskan suatu perkara domestik maupun publik. Yang tersebar adalah bahwa melibatkan perempuan itu bisa berakhir keburukan dan kerugian. Nabi Saw melawan semua itu dan mempraktikan pelibatan perempuan. Bahkan untuk urusan-urusan publik, seperti pada kasus paska perjanjian Hudaibiyah di atas mengenai keterlibatan Umm Salamah ra.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.