عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَمْعَةَ رضي الله عنه عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ: «لاَ يَجْلِدُ أَحَدُكُمُ امْرَأَتَهُ جَلْدَ الْعَبْدِ، ثُمَّ يُجَامِعُهَا فِى آخِرِ الْيَوْمِ». رواه البخاري في صحيحه، رقم الحديث: 5259، كتاب النكاح، باب يكره من ضرب النساء.

Terjemahan:

Dari Abdulllah bin Zam’ah ra, dari Nabi Saw bersada: “Janganlah seseorang di antara kamu memukul istrinya layaknya memukul hamba sahaya, (padahal) ia menggaulinya di ujung hari”. (Sahih Bukhari, no. Hadis: 5259).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahihnya (no. Hadis: 4992, 5259, dan 6042), Imam Muslim dalam Sahihnya (no. Hadis: 7370), Imam Turmudzi dalam Sunannya (no. Hadis: 3666), Imam Ibn Majah dalam Sunannya (no. Hadis: 2059). Abu Dawud dalam Sunannya (no. Hadis: 2148) dan Imam Ibn Majah dalam Sunannya (no. Hadis: 2061).

 Penjelasan Singkat:

Hadis ini lebih tepat sebagai ungkapan sindiran dari Nabi Saw pada laki-laki yang masih saja memukul istrinya, padahal sehabis memukul ia kemudian menggaulinya. Ini kan lucu sekaligus memalukan. Dalam redaksi lain, riwayat Imam Bukhari (no. 6042), ungkapan Nabi Saw adalah: “Untuk alasan apa kamu masih memukul istrimu, padahal kamu masih menggaulinya?. Dalam riwayat Imam Abdurrazaq (Musannaf, no. hadis: 18263), Nabi Saw menyatakan: “Tidakkah malu orang yang memukul istrinya di awal hari lalu menggaulinya di ujung hari?”. Ini kritik pedas pada saat itu kepada mereka yang memukul istri. Hadis ini menegaskan bahwa seharusnya seorang suami yang mencintai istrinya memperlakukannya secara baik, terhormat, dan bermartabat. Memukul adalah merendahkan martabat manusia. Ini menandakan relasi yang sudah pincang, sehingga pilihanya adalah kembali pada komitmen berbuat baik (mu’asyarah bil ma’ruf) dengan meninggalkan memukul, atau menyudahi hubungan suami istri. Karena pondasi dalam relasi suami istri adalah saling hormat satu sama lain, berbuat baik, saling menolong, dan menjauhkan segala tindak kekerasan dan segala yang membawa kerusakan. Persis seperti namanya, Islam adalah agama damai dan sejahtera. Ini harus dirasakan oleh laki-laki dan perempuan. Kalau laki-laki tidak boleh dipukul oleh perempuan, maka begitupun perempuan tidak boleh dipukul oleh laki-laki. Demi martabat dan harga diri kemanusiaan perempuan. Lebih dari itu, demi Islam yang mengusung kedamaian, kemaslahatan, dan kebaikan.

عن فَاطِمَةَ بِنْت قَيْسٍ رضي الله عنها قالت: خَطَبَنِى خُطَّابٌ مِنْهُمْ مُعَاوِيَةُ وَأَبُو الْجَهْمِ. فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- «إِنَّ مُعَاوِيَةَ تَرِبٌ خَفِيفُ الْحَالِ وَأَبُو الْجَهْمِ مِنْهُ شِدَّةٌ عَلَى النِّسَاءِ – أَوْ يَضْرِبُ النِّسَاءَ أَوْ نَحْوَ هَذَا – وَلَكِنْ عَلَيْكِ بِأُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ». رواه مسلم في صحيحه، رقم الحديث: 3786، كتاب الطلاق، باب المطلقة ثلاثا لا نفقة لها.

Terjemahan:

Dari Fathimah bint Qays ra. Ketika beberapa orang melamarku, di antara mereka adala Mu’awiyah dan Abu Jahm. Nabi Saw memberi saran: “Kalau Mu’awiyah itu tidak memiliki harta sama sekali, sementara Abu Jahm sangat keras terhadap perempuan –suka memukul-, pilihlah Usamah bin Zayd”. (Sahih Muslim, no. Hadis: 3785).

Sumber Hadis:

Hadis ini ini diriwayatkan Imam Muslim dalam Sahihnya (no. Hadis: 3785 dan 3786), Imam Turmudzi dalam Sunannya (no. Hadis: 1164), dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 27961).

 Penjelasan Singkat:

Kalau Hadis Abdullah bin Zam’ah ra di atas adalah sindiran keras kepada suami tukang pukul, maka hadis Fathimah ra ini adalah anjuran tegas dan jelas dari Nabi Saw kepada para perempuann untuk tidak memilih lelaki tukang pukul. Ini semua ditegaskan, karena dalam sebuah pasangan, jika salah satunya berani melakukan pemukulan, apalagi membiasakannya, maka jelas sudah tidak mungkin lagi ada penghormatan dan kasih sayang salah satu kepada yang lain. Seseorang yang menghormati pasangannya, tidak mungkin memukulnya. Apalagi jika ia benar-benar mencintai dan menyayanginya. Seseorang yang berani memukul orang lain, dipastikan ia sudah merendahkannya terlebih dahulu.

Pernikahan, sebagaimana digariskan berbagai ayat al-Qur’an, adalah untuk menumbuhkan kasih sayang dan mewujudkan ketenangan dalam keluarga (QS. 30: 21), terutama antara suami dan istri. Karena itu, al-Qur’an mengibaratkan suami sebagai pakaian bagi istri dan istri adalah pakaian bagi suami (QS. 2: 187). Prinsip-prinsip al-Qur’an ini meniscayakan setiap untuk menjauhi segala tindak kekerasan kepada pasangannya dan ia harus berkomitmen untuk mendatangkan hanya kebaikan dan keindahan semata.

Semua ini ditegaskan karena Islam adalah agama kasih sayang dan kebaikan. Islam adalah agama yang menganjurkan para pengikutnya mendahulukan segala hal yang bisa mendatangkan kemaslahatan, kebahagiaan, dan keadilan. Pemukulan dan segala bentuk kekerasan, jika seorang istri tidak boleh melakukan hal itu kepada suaminya, maka begitupun suami adalah haram melakukannya kepada sang istri. Perempuan adalah manusia sebagaimana laki-laki. Sakit jika dipukul dan terhina jika direndahkan. Sebaliknya, ia akan bahagia jika dihormati, senang jika dicintai, dan bangga jika dimuliakan. Pelaku kebaikan mendapat pahala dan pelaku keburukan memperoleh dosa. Siapapun pelakunya.

عن بهز بن حكيم عن أبيه عن جده قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ نِسَاؤُنَا مَا نَأْتِى مِنْهُنَّ وَمَا نَذَرُ قَالَ «ائْتِ حَرْثَكَ أَنَّى شِئْتَ وَأَطْعِمْهَا إِذَا طَعِمْتَ وَاكْسُهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ وَلاَ تُقَبِّحِ الْوَجْهَ وَلاَ تَضْرِبْ». رواه أبو داود في سننه، رقم الحديث: 2145، كتاب النكاح، باب فِى حَقِّ الْمَرْأَةِ عَلَى زَوْجِهَا.

Terjemahan:

Dari Bahz bin Hakim, dari ayah, dari kakek. Sang kakek berkata: Saya pernah bertanya kepada Rasulullah Saw: “Wahai Rasul, terkait istri-istri kami, apa yang wajib kami lakukan dan yang harus kami tinggalkan?”. Rasul menjawab: “Kamu boleh bersenggema denganya sesuai selera kamu, berilah ia makan sama yang kamu makan, berilah ia pakaian ketika kamu bisa berpakaian, dan janganlah mengolok-olok mukanya dan jangan memukul”. (Sunan Abu Dawud, no. Hadis: 2145).

Sumber Hadis:

Hadis ini ini diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. Hadis: 2145) dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 20347 dan 20362).

 Penjelasan Singkat:

Hadis Bahz ban Hakim ra adalah teks lain yang menegaskan bahwa suami yang baik, salih, dan bertanggung jawab adalah yang tidak melecehkan, tidak menistakan, dan tidak memukul istrinya. Ia berhak berhubungan intim dengan istri sesuai seleranya, selain yang diharamkan yaitu hubungan seks melalui anus dan pada saat menstruasi. Hak ini kemudian diimbangi dengan kewajiban untuk memenuhi kebutuhan pangangdan sandang istri, serta komitmen untuk tidak berperilaku buruk, tidak merendahkan, dan tentu saja tidak memukul.

Deskripsi al-Qur’an bahwa suami dan istri itu laksana pakaian yang satu kepada yang lain (QS. 2: 187) adalah penegasan mengenai kesalingan antara keduanya dalam segala sisi kehidupan berumah-tangga. Terutama untuk saling menyinta, menyayangi, melayani, melindungi, menyenangkan dan membahagiakan. Satu kepada yang lain. Dengan prinsip ini, teks hadits di atas bisa dipahami secara timbal balik (mubādalah). Yaitu, bahwa istripun berhak memperoleh layanan seks sesuai seleranya dari sang suami. Ia juga bisa ikut berkontribusi untuk kecukupan sandang dan pangan suami dan keluarga jika mampu. Ia juga diwajibkan untuk berkomitmen tidak melakukan pelecehan, penghinaan, dan segala tindak kekerasan.

Komitmen kesalingan ini menjadi pondasi untuk memenuhi cita-cita al-Qur’an mengenai kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Atau rumah tangga bahagia, sejahtera, dan penuh cinta kasih. Dalam ungakpan lain sering disebut sebagai rumah tangga surgawi (baiti jannati). Rumag tangga ini adalah dambaan setiap pasangan. Karena itu perlu pondasi yang kokoh, yaitu kesalingan. Semoga.

عَنْ لَقِيطِ بْنِ صَبْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: كُنْتُ وَافِدَ بَنِى الْمُنْتَفِقِ – أَوْ فِى وَفْدِ بَنِى الْمُنْتَفِقِ – إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِى امْرَأَةً وَإِنَّ فِى لِسَانِهَا شَيْئًا يَعْنِى الْبَذَاءَ. قَالَ «فَطَلِّقْهَا إِذًا». قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لَهَا صُحْبَةً وَلِى مِنْهَا وَلَدٌ. قَالَ «فَمُرْهَا – يَقُولُ عِظْهَا – فَإِنْ يَكُ فِيهَا خَيْرٌ فَسَتَفْعَلُ وَلاَ تَضْرِبْ ظَعِينَتَكَ كَضَرْبِكَ أُمَيَّتَكَ». رواه أبو داود في سننه، رقم الحديث: 142، كتاب الطهارة، باب فِى الاِسْتِنْثَارِ.

 Terjemahan:

Dari Laqith bin Shabrah ra: Saya pernah datang sebagai utusan Bani Muntafiq berkunjung ke Rasulullah. Saat itu saya bertanya: “Wahai Rasul, istri saya lidahnya sangat kasar dan menyakitkan”. “Ya ceraikan saja”, saran Nabi Saw. “Wahai Rasul, saya masih mencintainya dan ia juga memberi saya anak”, jawab saya. “Kalau begitu, nasihatilah dia, kalau dia baik, ia pasti akan berubah, tetapi janganlah memukulnya sebagaimana kamu memukul hamba sahaya”. (Sunan Abu Dawud, no. Hadis: 142).

Sumber Hadis:

Hadis ini ini diriwayatkan Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. Hadis: 142) dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 16646).

 Penjelasan Singkat:

Teks hadis ini merekam konsultasi seorang sahabat, Laqith bin Sabrah ra, mengenai perilaku istirnya yang lisanya kasar dan menyakitkan. Dalam kondisi seperti inipun, Nabi Saw ternyata juga tidak mengizinkan sahabat itu untuk memukul. Ia justru disarankan untuk memberi nasihat dan mengajak pada kebaikan. Jika di hati perempuan itu ada kebaikan, maka ia pasti akan mendengar dan memenuhi nasihat dan ajakan tersebut. Tetapi tentu saja perlu proses dan kesabaran. Yang jelas Nabi Saw tidak memberi rekomendasi sama sekali untuk memukul. Berpisah lebih baik daripada melakukan memukul.

Keempat hadis di atas (25-28) menegaskan bahwa Nabi Saw menolak segala bentuk kekerasan yang dilakukan suami kepada istri, atas nama mendidik, mendisiplinkan, apalagi atas nama cinta dan kasih sayang. Dalam deskripsi Nabi Saw, minimal seorang suami itu memerlukan seks dari istrinya. Seorang suami yang menggauli istri tetapi masih memukul adalah lucu dan memalukan. Begitu Nabi Saw ingin menyatakan.

Lebih prinsip lagi, tentu saja tindak kekerasan itu menyalahi prinsip kesalingan antara suami dan istri, serta mengingkari tujuan pernikahan yang digariskan al-Qur’an (sakinah, mawaddah, dan rahmah). Dengan keempat teks hadis di atas, adalah sangat lucu kalau masih ada orang yang mengatakan bahwa memukul istri itu baik untuk mendidik dan mengembalikan pada komitmen rumah tangga. Ini jauh sekali dari teladan Nabi Saw seperti ditunjukkan pada teks berikutnya.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.