Bab 12: Keterlibatan dalam Bela Negara

0
675

عَنِ الرُّبَيِّعِ بِنْتِ مُعَوِّذٍ رضي الله عنها قَالَتْ كُنَّا نَغْزُو مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – نَسْقِى الْقَوْمَ، وَنَخْدُمُهُمْ، وَنَرُدُّ الْقَتْلَى وَالْجَرْحَى إِلَى الْمَدِينَةِ. رواه البخاري في صحيحه، رقم الحديث: 5741، كتاب الطب، باب هَلْ يُدَاوِى الرَّجُلُ الْمَرْأَةَ أَوِ الْمَرْأَةُ الرَّجُلَ.

Terjemahan:
Dari Rubayyi’ bint Mu’awwidz ra, berkata: “Sungguh kami, para perempuan, ikut berperang bersama Nabi Saw, memberi minum dan melayani kebutuhan pasukan, kami juga membawa pulang mereka yang terluka dan yang terbunuh ke Madinah”. (Sahih Bukhari, no. Hadis: 5741).

Sumber Hadis:
Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahihnya (no. Hadis: 2921, 2929, dan 5741) dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 27659).

Penjelasan Singkat:
Untuk hal hal yang dipersepsikan sebagai kiprah laki-laki, seperti bela negara dan arena politik, sering ditanyakan adakah preseden untuk perempuan pada masa lalu di awal Islam. Pertanyaan ini seringkali diajukan untuk menghalangi perempuan atau merendahkan kiprah-kiprah mereka di ruang publik.
Teks hadis sahabat perempuan Rubayyi’ binti Mua’wwidz r.a. ini menjadi salah satu bukti historis keterlibatan perempuan dalam bela negara di awal Islam, yang jika diartikan lebih luas sebagai aktivitas politik, berarti ada teladan perempuan yang aktif di arena politik dari masa awal Islam.
Sebenarnya jika kita meyakini perempuan sebagai manusia utuh, pertanyaan preseden dan teladan tidaklah perlu. Tetapi kesangsian terhadap kemanusiaan mereka seringkali eksesif. Ketika sudah ada preseden pun, karena kesangsian ini, lalu peran mereka disempitkan hanya untuk urusan akomodasi dan medis. Peran inipun direndahkan dan tidak diapresiasi secara memadai, berbeda dari peran-peran yang diambil laki-laki.
Teks ini bukan soal stereotip peran akomodasi dan medis perempuan. Tetapi teladan partisipasi mereka yang diapresiasi sama seperti apresiasi kita terhadap peran politik dalam bentuk-benutk lain oleh laki-laki. Dengan perspektif apresiatif ini, mestinya, kepahlawanan juga disematkan pada perempuan yang berkorban untuk umat dan negara di bidang akomodasi, medis, dan pendidikan.
Kepahlawanan tidak hanya diukur dari pengorbanan fisik yang bersifat militeristik, tetapi semua jenis pengorbanan untuk eksistensi keagaman, kemanusiaan, dan kebangsaan. Jika tolok ukurnya demikian, maka akan banyak perempuan yang berhak atas apresiasi publik seperti tanda jasa kepahlawanan dengan dukungan-dukungan moril dan materil.

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه أَنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ اتَّخَذَتْ يَوْمَ حُنَيْنٍ خِنْجَرًا فَكَانَ مَعَهَا فَرَآهَا أَبُو طَلْحَةَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ أُمُّ سُلَيْمٍ مَعَهَا خَنْجَرٌ فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- «مَا هَذَا الْخَنْجَرُ». قَالَتِ اتَّخَذْتُهُ إِنْ دَنَا مِنِّى أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ بَقَرْتُ بِهِ بَطْنَهُ. فَجَعَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَضْحَكُ. رواه مسلم في صحيحه، رقم الحديث: 4783، كتاب الجهاد والسير، باب غَزْوَةِ النِّسَاءِ مَعَ الرِّجَالِ.

 Terjemahan:

Dari Anas bin Malik ra, berkata: “Bahwa Ummu Sulaim membawa belati ketika perang Hunain. Abu Talhah melihatnya dan melapor: “Wahai Rasulullah, ini Ummu Sulaim membawa belati”. “Belati untuk apa?”, tanya Rasul kepada Umm Sulaim. “Saya membawanya agar kalau ada salah seorang musuh yang mendekat bisa langsung saya cincang perutnya”, jawab Ummu Sulaim. Rasulullah Saw tertawa mendengar jawabanya. (Sahih Muslim, no. Hadis: 4783).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Muslim dalam Sahihnya (no. Hadis: 4783), dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 12291 dan 13177).

 Penjelasan Singkat:

Seperti terekam dalam teks di atas, bahkan dalam situasi perang sekalipun, perempuan masih tidak diharapkan untuk membawa senjata. Dalam benak banyak orang: perempuan adalah dilindungi, tak perlu perlu punya alat atau keahlian untuk melindungi diri apalagi melindungi orang lain; perempuan itu dinafkahi, tak perlu keahlian atau kesempatan kerja untuk menafkahi diri atau orang lain; perempuan itu dituntun, tak perlu ilmu atau pengetahuan untuk menuntun diri atau mengajari orang lain.Seperti ditegaskan Nabi Saw dalam teks, tentu saja pernyataan-pernyataan tersebut adalah salah. Yang benar, perempuan berhak memiliki ilmu, pengetahuan, keahlian, dan alat-alat untuk memperbaiki diri dan masyarakat, mengajar, melindungi, dan menafkahi. Baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain yang memerlukan. Bahkan bisa wajib, jika sudah memilikinya dan diperlukan kiprahnya oleh keluarga maupun masyarakat.Cara Nabi Saw memberi pembelajaran juga menarik. Dengan mengajukan pertanyaan kepada perempuan di depan laki-laki yang menyangsikannya. Umm Sulaim ra memberi penjelasan yang masuk akal bagi laki-laki. Bahwa dalam situasi perang itu setiap orang baiknya pegang senjata. Tak terkecuali perempuan. Minimal untuk melindungi diri. Ini tentu saja kasuistik dalam situasi perang. Yang prinsip adalah bahwa persoalan perlindungan bisa diberikan siapa saja yang mampu dan kepada siapa saja yang membutuhkan. Tanpa memandang jenis kelamin. Agar mampu memberi perlindungan, maka setiap orang harus diberi kesempatan untuk belajar dan melatih diri.

عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه،كان يتحدث عن أم عمارة نسيبة بنت كعب، سمعت رسول الله، صلى الله عليه وسلم، يقول يوم أحد: ما التفت يمينا ولا شمالا إلا وأنا أراها تقاتل دوني. أخرجه ابن سعد. الطبقات الكبرى لابن سعد، أم عمارة الأنصارية، ج8، ص 415.

Terjemahan:

Dari Umar bin Khattab ra, ketika ia bercerita mengenai Ibu ‘Ammarah, yaitu Nusaibah bint Ka’b, Bahwa Rasulullah Saw mengatakan tentang dirinya ketika perang Uhud: “Setiap saya menoleh ke kiri maupun ke kanan, saya melihatnya gigih melindungi saya”. (Thabaqat Ibn Sa’d, juz 8, hal. 415).

Sumber Hadis:

Kisah ini tidak tercantum dalam kitab-kitab teks Hadis, tetapi ada dalam kitab-kitab perawi Hadis dan sejarah.

 Penjelasan Singkat:

Kisah ini adalah mu’jizat dari Allah Swt sekaligus pelajaran bagi umat manusia yang mungkin masih meremehkan kemampuan perempuan. Sebagaimana kita tahu, perang Uhud adalah perang dimana semua pasukan umat Islam kalah dan terpukul mundur. Semua laki-laki yang menjaga Nabi Saw terpaksa menyelematkan diri masing-masing karena desakan pasukan musuh. Laki-laki gagah, seperti Abu Bakr, Umar, Ali, dan yang lain terdesak mundur. Dan Nabi Saw terbuka untuk diserang, bahkan tersiar kabar bahwa Nabi Saw sudah terbunuh.

Adalah Nusaibah bint Ka’ab, seorang perempuan, yang justru terus bertahan, dengan gagah berani menghalangi segala serangan yang meringsek ke hadapan Nabi Saw. Seperti yang terungkap dalam berbagai riwayat kitab sejarah, dia terluka di belasan anggota tubuhnya dari serangan pedang. Sehingga diberi julukan sebagai Umm al-Asyaf, perempuan penuh luka pedang. Nabi Saw mengapresiasi kipranhnya dan selalu menyebut jsasanya dalam menyelematkan beliau di perang Uhud.

Sejarah kita seharusnya menyebut dan mengapresiasi nama-nama perempuan penuh jasa seperti Nusaibah bint Ka’ab ra, Sumayyah ibu Ammar bin Yasir r.a yang syahid pertama kali dalam Islam, Fathimah bint al-Khattab ra yang dengan gagah menghadapi dan kemudian berdialog dengan Umar di saat semua ketakutan padanya, Asma bint Abi Bakr ra yang menghapus jejak tapak Nabi Saw ketika hijrah, Umm Salamah ra yang berani berhijrah ke Habsyah, Rufaidah ra yang merawat pasukan-pasukan yang terluka, dan banyak perempuan lain yang tidak bisa disebutkan semua di sini. Dalam tawassul kita, semestinya tidak hanya menyebut nama-nama laki-laki. Tetapi juga nama-nama perempuan untuk mengenang dan mengingatkan bahwa kehidupan ini tidak dibangun oleh laki-laki semata, tetapi juga oleh dan bersama perempuan.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.