Bab 11: Keterlibatan dalam Ibadah Jama’ah

0
649

عَنِ ابْنِ عُمَرَ – رضى الله عنهما – عَنِ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ «إِذَا اسْتَأْذَنَكُمْ نِسَاؤُكُمْ بِاللَّيْلِ إِلَى الْمَسْجِدِ فَأْذَنُوا لَهُنَّ». رواه البخاري في صحيحه، رقم الحديث: 873، كتاب الآذان، باب خُرُوجِ النِّسَاءِ إِلَى الْمَسَاجِدِ بِاللَّيْلِ وَالْغَلَس

 Terjemahan:

Dari Ibn Umar ra, berkata: bahwa Nabi Saw bersabda: “Apabila perempuan-perempuan kamu minta izin keluar rumah di malam hari ke masjid, maka izinkanlah”. (Sahih Bukhari, no. Hadis: 5328).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahihnya (no. Hadis: 873) dan Imam Muslim dalam Sahihnya (no. Hadis: 1019), dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 289, 5307, 6414, 6415, 6555).

 Penjelasan Singkat:

Hal-hal baik yang akan dilakukan atau akan diperoleh istri/perempuan dari aktivitas mereka di ruang publik seringkali terbentur dengan keharusan “izin suami”. Teks hadis di atas menyasar mereka yang seringkali menggunakan isu “izin suami” sebagai alat untuk mengekang dan mengurung perempuan. Mereka dilarang dari segala aktivitas sehingga tidak lagi bisa menjadi manusia utuh, yang bisa berelasi dengan saudara, tetangga, dan masyarakat luas. Teks ini menegaskan bahwa seseorang tidak berhak menolak keinginan istri/perepuan untuk shalat di masjid pada malam hari sekalipun. Penolakan ini biasanya didasarkan pada keinginan individual laki-laki, seperti minta layanan atau karena cemburu. Ini seharusnya diselesaikan dengan cara lain, bukan dengan cara melarang istri dari aktivitas yang bermanfaat dan baik bagi mereka.

Lebih dari itu, teks ini juga menginspirasi bahwa persoalan izin seharusnya digunakan untuk hal-hal baik dan bermanfaat bagi komitmen kebersamaan sebuah keluarga. Dalam sebuah relasi yang saling menghormati satu sama lain, tentu saja sang istri sangat baik memberi tahu (izin) apa yang akan dilakukannya kepada suami. Hal yang sama juga seharusnya dilakukan suami kepada istri. Pemberitahuan (izin) ini tentu saja sangat baik, agar seseorang (suami/istri) bisa tahu posisi pasangannya dan bisa mengantisipasi jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Bayangkan jika tidak ada pemberitahuan (izin), maka jika memerlukan pertolongan akan kesulitan.

Pemberitahuan ini sama sekali bukanlah lisensi, dimana seseorang menjadi sangat tergantung dalam melakukukan aktivitasnya sehari-hari. Mungkin, untuk hal-hal yang bisa merusak komitmen bersama, bisa jadi izin ini berarti pembicaraan bersama yang lebih mendalam agar saling memahami dan saling mengerti bisa diperoleh lebih baik. Tetapi pemberitahuan/izin sama sekali tidak boleh digunakan sebagai alat untuk melarang seseorang dari aktivitas baik dan bermanfaat.

عن عُرْوَة بْن الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَخْبَرَتْهُ قَالَتْ: كُنَّ نِسَاءُ الْمُؤْمِنَاتِ يَشْهَدْنَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – صَلاَةَ الْفَجْرِ مُتَلَفِّعَاتٍ بِمُرُوطِهِنَّ، ثُمَّ يَنْقَلِبْنَ إِلَى بُيُوتِهِنَّ حِينَ يَقْضِينَ الصَّلاَةَ، لاَ يَعْرِفُهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْغَلَسِ. رواه البخاري في صحيحه، رقم الحديث: 578، كتاب مواقيت الصلاة، باب وَقْتِ الْفَجْرِ

 Terjemahan:

Dari Urwah bin Zuabir ra, bahwa Aisyah ra bercerita: “Bahwa kami para perempuan mu’min biasa hadir mengikuti Rasululah Saw shalat Subuh dengan pakaian wol kami, kami akan bergegas pulang ke rumah masing-masing setelah selesai menunaikan shalat. Karena masih pagi buta dan gelap, seseorang masih belum bisa mengenali kami”. (Sahih Bukhari, no. Hadis: 578).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahihnya (no. Hadis: 578 dan 875), Imam Muslim dalam Sahihnya (no. Hadis: 1491 dan 1495), Imam Abu Dawud dalam Sunannya (no. Hadis: 423), Imam Nasa’i dalam Sunannya (no. Hadis: 550 dan 551) dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 24645, 24730, 26091, dan 26751).

 Penjelasan Singkat:

Teks ini menambah catatan mengenai aktivitas perempuan yang selalu shalat berjama’ah di subuh hari. Betapa mulia para perempuan itu yang keluar beribadah justru ketika sebagian besar orang masih memilih tidur di rumah atau sibuk mengurus rumah tangga. Catatan hadis ini, dan hadis-hadis serupa seperti di atas, menunjukkan dua hal penting:

Pertama, bahwa shalat berjama’ah itu pada prinsipnya adalah baik di mata Islam bagi laki-laki dan perempuan. Untuk itu tidak bisa dikatakan bahwa berjama’ah hanyalah baik bagi laki-laki, sementara perempuan dianggap lebih baik shalat di rumah. Apalagi jika dikatakan bahwa shalat perempuan di tempat yang paling tersembunyi dianggap lebih baik agar lebih khusyu dan tidak diganggu atau mengganggu orang lain. Tidak. Manfaat shalat berjama’ah, baik dari sisi pahala, penguatan spiritual, maupun peningkapatan pengetahuan tidak boleh hanya dikhususkan bagi laki-laki. Karena secara prinsip, Islam diperuntukan bagi laki-laki dan perempuan.

Kedua, kehadiran seseorang untuk bersosialisasi dengan masyarakat, melalui shalat berjama’ah dan yang lain, adalah baik untuk perkembangannya secara psikologis dan sosial. Seringkali di tempat-tempat publik dilakukan musyawarah bersama, kesepakatan-kesepakatan, atau penyediaan layanan-layanan tertentu, bahkan pembagian-pembagian bantuan ekonomi. Mengucilkan perempuan di dalam rumah berarti menjauhkan mereka dari segala manfaat penguatan psikologi dan sosial tersebut. Ini tentu saja bertentangan dengan kemaslahatan Islam yang bersifat universal.

عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها أَنَّهَا لَمَّا تُوُفِّىَ سَعْدُ بْنُ أَبِى وَقَّاصٍ أَرْسَلَ أَزْوَاجُ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يَمُرُّوا بِجَنَازَتِهِ فِى الْمَسْجِدِ فَيُصَلِّينَ عَلَيْهِ فَفَعَلُوا فَوُقِفَ بِهِ عَلَى حُجَرِهِنَّ يُصَلِّينَ عَلَيْهِ. رواه مسلم في صحيحه، رقم الحديث: 2297، كتاب الجنائز، باب الصَّلاَةِ عَلَى الْجَنَازَةِ فِى الْمَسْجِدِ

 Terjemahan:

Dari Aisyah ra, berkata: Bahwa ketika Sa’d bin Abi Waqqash ra meninggal dunia, istri-istri Nabi Saw meminta agar jenazahnya ditempatkan di masjid, agar mereka bisa menshalatinya. Permintaan itu dikabulkan, jenazah didekatkan dengan kamar-kamar para istri, dan mereka menshalatinya. (Sahih Muslim, no. Hadis: 2997).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Muslim dalam Sahihnya (no. Hadis: 2296 dan 2297), Imam Malik dalam Muwatta’nya (no. Hadis: 544) dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 25594).

 Penjelasan Singkat:

Teks hadis ini seperti membalik kesadaran banyak umat Islam. Pada saat ini, masjid, shalat jama’ah, shalat jum’ah dan shalat jenazah lebih banyak diikuti oleh laki-laki. Hampir sulit menemukan perempuan yang ikut menshalati jenazah. Bisa jadi karena perempuan disibukkan oleh hal-hal lain soal akomodasi dan konsusmi dan bisa jadi juga sistem budaya tertentu tidak mendorong perempuan untuk terlibat dalam hal-hal yang dianggap sebagai wilayah laki-laki, seperti shalat jenazah ini. Ternyata pada masa Nabi Saw, para perempuan tidak hanya aktif berjam’ah dan shalat jum’ah, tetapi juga biasa terlibat untuk ikut menshalati jenazah orang-orang yang meninggal.

Jika boleh dipahami lebih luas, maka teks ini juga menginspirasi bahwa ruang-ruang kehidupan itu tidak bisa dikhususkan untuk jenis kelamin tertentu, sementara yang lain harus puas dengan ruang lain yang lebih kecil, tertutup dan sederhana. Jika kita yakin bahwa perempuan adalah manusia, maka semua ruang kehidupan ini juga harus terbuka untuk mereka. Kita tidak bisa melarang mereka hanya karena alasan mereka adalah perempuan. Sebagaimana kita juga tidak boleh melarang laki-laki.

Jika larangan itu karena faktor keamanan, maka semestinya penangaannya difokuskan pada penyediaan perlindungan yang nyata kepada semua orang (laki-laki maupun perempuan) agar mereka bisa beraktifitas dengan aman dan nyaman. Kebijakan yang melarang sebagian orang dan membiarkan sebagian yang lain adalah sesuatu yang diskriminatif dan bertentangan dengan Islam. Bisa jadi problem keamanan itu nyata terjadi dalam keadan tertentu, maka perlindungan (jikapun benar dengan pelarangan seperti pada kasus keadaan darurat) juga berlaku kepada semua orang, tidak hanya perempuan.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.