عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ جَاءَتْ فَتَاةٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَتْ إِنَّ أَبِى زَوَّجَنِى ابْنَ أَخِيهِ لِيَرْفَعَ بِى خَسِيسَتَهُ. قَالَ فَجَعَلَ الأَمْرَ إِلَيْهَا. فَقَالَتْ قَدْ أَجَزْتُ مَا صَنَعَ أَبِى وَلَكِنْ أَرَدْتُ أَنْ تَعْلَمَ النِّسَاءُ أَنْ لَيْسَ إِلَى الآبَاءِ مِنَ الأَمْرِ شَىْءٌ. رواه ابن ماجه في سننه، رقم الحديث: 1947، كتاب النكاح، باب من زوج ابنته وهي كارهة

Terjemahan:

Dari Abu Buraidah, dari ayahnya. Sang ayah berkata: Ada seorang perempuan muda datang ke Nabi Saw, dan bercerita: “Ayah saya menikahkan saya dengan anak saudaranya untuk mengangkat derajatnya melalui saya”. Nabi Saw memberikan keputusan akhir di tangan sang perempuan. Kemudian perempuan itu berkata: “Ya Rasulullah, saya rela dengan yang dilakukan ayah saya, tetapi saya ingin mengumumkan kepada para perempuan bahwa ayah-ayah tidak memiliki hak untuk urusan ini”. (Sunan Ibn Majah, no. Hadis: 1947).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Ibn Majah dalam Sunannya (no. Hadis: 1947) dan Imam Nasa’i dalam Sunannya (no. Hadis: 3282).

 Penjelasan Singkat:

Mungkin untuk situasi kita saat ini sekarang, kisah-kisah pemaksaan pernikahan seperti kasus Siti Nurbaya dulu, sudah jarang terdengar lagi. Karena secara umum sudah banyak perempuan yang mandiri, berpendidikan tinggi, memiliki penghasilan cukup, dan punya pengalaman sosial yang cukup untuk membuatnya tidak harus dipaksa dalam urusan pernikahan oleh keluarga. Tetapi teks hadis ini masih sangat relevan untuk menegaskan kemandirian dan kemanusiaan perempuan. Karena tidak sedikit yang masih menganggap bahwa perempuan harus tunduk pada keputusan laki-laki. Jika anak pada ayahnya, dan jika istri pada suaminya. Anggapan ini tentu saja menyalahi kemandirian perempuan sebagai manusia utuh.

Apalagi jika mengingat kondisi budaya Arab pada saat itu, dimana perempuan hampir tidak memiliki suara sama sekali mengenai dirinya, maka pernyataan Nabi Saw tersebut adalah sesuatu yang revolusioner. Kisah ini menggambarkan keberanian perempuan untuk melaporkan pelanggaran hak yang dialaminya. Ini tidak mungkin terjadi jika suasana sosial politik tidak dikondisikan terlebih dahulu oleh Nabi Saw. Suasana sosial dimana perempuan merasa nyaman untuk bersuara menuntut hak-haknya dan melaporkan hal-hal yang diangap melanggar hak-hak tersebut. Lebih dari itu, seperti yang ditegaskan Nabi Saw dalam teks ini, ha katas pernikahan perempuan adalah perempuan itu sendiri, bukan ayahnya, apalagi keluarga jauh. Karena yang akan hidup berumah-tangga adalah perempuan itu, sehingga dia harus benar-benar merasa nyaman, rela, dan tidak ada unsur paksaan sama sekali.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رضي الله عنهما أَنَّ امْرَأَةَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسٍ أَتَتِ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثَابِتُ بْنُ قَيْسٍ مَا أَعْتُبُ عَلَيْهِ فِى خُلُقٍ وَلاَ دِينٍ، وَلَكِنِّى أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِى الإِسْلاَمِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – «أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ». قَالَتْ نَعَمْ. قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – «اقْبَلِ الْحَدِيقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيقَةً». رواه البخاري في صحيحه، رقم الحديث: 5328، كتاب الطلاق، باب الخلع وكيف الطلاق فيه

Terjemahan:

Dari Ibn Abbas ra: bahwa Istri Tsabit bin Qays datang mengunjungi Nabi Saw. Dia berkata: “Tidak ada yang saya kecam dari agama maupun moral Tsabit, tetapi saya tidak ingin ada kekafiran dalam keislaman saya (dengan satu rumah bersama Tsabit)”. Rasulullah Saw bertanya: “Maukah kamu kembalikan kebunnya (yang diberikan sebagai maskawin)?”. “Ya, mau”, jawab sang istri. “Terimalah kebun itu dan ceraikan dia”, kata Nabi Saw kepada Tsabit sang suami. (Sahih Bukhari, no. Hadis: 5328).

Sumber Hadis:

Hadis ini diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahihnya (no. Hadis: 5328) dan Imam Nasa’i dalam Sunannya (no. Hadis: 3476), Imam Ibn Majah dalam Sunannya (no. Hadis: 2134 dan 2135), dan Imam Ahmad dalam Musnadnya (no. Hadis: 16344).

 Penjelasan Singkat:

Teks ini memiliki semangat yang sama persis dengan teks sebelumnya mengenai hak perempuan atas dirinya. Di samping memiliki nilai ibadah, pernikahan adalah kontrak sosial antara dua pihak, laki-laki calon suami dan perempuan calon istri. Keduanya harus masuk dalam keadaan nyaman, rela, dan tanpa paksaan. Begitupun ketika dalam pernikahan itu mengalami ketidak-nyamanan, tekanan, dan kekerasan, maka kedua belah pihak memiliki hak yang sama untuk memutuskan kontrak tersebut. Jika laki-laki yang melakukannya disebut thalaq (cerai), jika perempuan melalui mekanisme khulu’ (cerai tebus).

Mekanisme penghentian ini menjadi berbeda, karena pada awal kontrak, laki-laki memberi mahar sementara perempuan menerimanya. Jadi yang menerima harta awal pernikahan ini harus mengembalikan, jika ia berinisiatif untuk menghentikan pernikahan karena ketidak-puasan darinya terhadap pasangan. Sebagai kompnesasi atas kerugian yang mungkin diakibatkan dari perceraian ini. Seperti diungkap dalam teks, ketidak-puasan ini bersifat subyektif dan bukan karena perilaku buruk dari pihak laki-laki. Jika diakibatkan perilaku buruk, seperti kekerasan dalam rumah tangga, semestinya perempuan tidak diwajibkan mengembalikan harta tersebut. Karena ia menjadi korban yang seharusnya memperoleh dukungan psikis dan kompensasi materi atas apa yang dialaminya.

BAGIKAN
Faqih Abdul Kodir
Faqih Abdul Kodir, biasa disapa Kang Faqih adalah alumni PP Dar al-Tauhid Arjawinangun, salah satu wakil ketua Yayasan Fahmina, dosen di IAIN Syekh Nurjati Cirebon dan ISIF Cirebon. Saat ini dipercaya menjadi Sekretaris ALIMAT, Gerakan keadilan keluarga Indonesia perspektif Islam.